Ekonomi RI 2026 Bisa Tumbuh 5,2 Persen di Tengah Ketidakpastian Global

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026 ditopang oleh penguatan permintaan domestik serta stabilitas makroekonomi yang terjaga

Ekonomi RI 2026 Bisa Tumbuh 5,2 Persen di Tengah Ketidakpastian Global (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - PT Insight Investments Management (IIM) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026 ditopang oleh penguatan permintaan domestik serta stabilitas makroekonomi yang terjaga.

Konsumsi rumah tangga, sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB), menunjukkan tren penguatan. Hal ini tercermin dari Consumer Confidence Index (CCI) yang terus meningkat. 

Baca Juga:
Kadin Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4 Persen pada 2026

Pada November 2025, CCI tercatat di level 124, mengindikasikan optimisme dan kepercayaan masyarakat yang semakin membaik terhadap kondisi ekonomi.

“Pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat lebih merata. Kepercayaan konsumen yang membaik, inflasi yang terkendali, serta dukungan kebijakan moneter dan fiskal menjadi kombinasi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata Direktur PT IIM Camar Remoa dalam paparan Market Outlook 2026 dikutip Rabu (14/1/2026).                                            

Baca Juga:
Pemerintah Bakal Lanjutkan Sejumlah Program dalam Paket Ekonomi di 2026, Apa Saja?

Tren penurunan suku bunga, lanjutnya juga menjadi katalis tambahan yang mendorong konsumsi. Dengan biaya pinjaman yang lebih rendah, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk meningkatkan belanja.

Camar menambahkan, pemerintah turut memberikan stimulus melalui Economic Acceleration Package senilai Rp16 triliun, yang mulai berdampak positif terhadap pemulihan daya beli masyarakat pada paruh kedua 2025. 

Baca Juga:
Ini Pencapaian Diplomasi Ekonomi RI pada 2025, Ada 3 Perjanjian Dagang

Di sisi lain, inflasi tetap terkendali di bawah 3 persen, sejalan dengan target Bank Indonesia, mencerminkan efektivitas kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas harga.

Dari sisi fiskal, defisit anggaran diproyeksikan tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap PDB. Belanja pemerintah pada 2026 diperkirakan meningkat dengan fokus pada program prioritas nasional, termasuk sektor sosial, pangan, dan infrastruktur, serta keberlanjutan stimulus ekonomi.

Sementara itu, investasi sebagai kontributor terbesar kedua PDB juga diproyeksikan membaik, seiring dengan indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) yang konsisten berada di atas level ekspansif 50.

Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan masih stagnan di kisaran 3,2 persen sepanjang 2023 hingga 2026. Tekanan berasal dari beragam faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim, hingga dampak lanjutan pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya mereda.

Camar menyebut, kebijakan tarif proteksionis AS justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berdampak negatif terhadap perekonomian negara tersebut dalam jangka menengah.

“Kebijakan tarif Amerika Serikat yang bersifat proteksionis meningkatkan ketidakpastian global. Dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan investasi baru akan semakin terasa ke depan,” tutur Camar.

Di sisi lain, negara berkembang (emerging markets) tetap menjadi motor utama pertumbuhan global. India mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi, diikuti oleh China dan Indonesia yang menunjukkan kinerja relatif solid. 

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Arti Bersin Menurut Medis, Primbon Jawa, dan Pandangan Islam
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ello Terpukau Energi Panggung Medan, Oki Rengga: Anak Daerah Tampil Selalu Pecah
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Indonesia Pulangkan 27.768 WNI dari Berbagai Situasi Krisis
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cek TKP: Pungli Pak Ogah di Exit Tol Rawa Buaya, Jakarta Barat
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Dorong Konsumsi, Anggota DPR Usul Penghasilan Rp25 Juta per Bulan Bebas Pajak
• 7 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.