Iran di Ambang Krisis Nasional: Penindasan Brutal Meluas, Ribuan Tewas, Dunia Menanti Respons AS

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.  Situasi di Iran dalam beberapa hari terakhir memasuki fase paling gelap dalam sejarah modern negara tersebut. Rezim Iran dilaporkan semakin meningkatkan penindasan bersenjata terhadap aksi protes nasional yang meluas di berbagai kota. Berdasarkan berbagai laporan media internasional dan organisasi hak asasi manusia, jumlah korban tewas diperkirakan telah melampaui 2.000 orang, sementara rekaman lapangan menunjukkan kondisi yang digambarkan saksi sebagai “tak ubahnya medan perang”.

Amerika Serikat Keluarkan Peringatan Darurat

Pada Senin, 12 Januari 2026, pemerintah Amerika Serikat mengambil serangkaian langkah darurat. Kedutaan Besar Virtual Amerika Serikat untuk Iran secara resmi mengeluarkan peringatan keselamatan, mendesak seluruh warga negara AS untuk segera meninggalkan Iran.

Dalam pernyataan tersebut, warga AS diminta:

Langkah ini diambil mengingat Amerika Serikat tidak memiliki kedutaan fisik di Iran sejak memutuskan hubungan diplomatik pada awal 1980-an. Sebagai pengganti, Washington mengoperasikan kedutaan virtual berbasis daring untuk menangani peringatan keamanan dan layanan konsuler terbatas.

Sanksi Baru: Tarif 25% untuk Mitra Dagang Iran

Masih pada 12 Januari, Presiden Donald Trump memutuskan langkah lanjutan dengan memberlakukan tarif tambahan sebesar 25% terhadap seluruh negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran.

Data perdagangan menunjukkan bahwa mitra utama Iran bukanlah Rusia, melainkan:

Beberapa negara Uni Eropa—seperti Jerman, Italia, Prancis, dan Belgia—juga tercatat memiliki hubungan dagang signifikan dengan Teheran. Di antara semuanya, Tiongkok menjadi mitra terbesar, menyumbang hampir 25–33% dari total perdagangan luar negeri Iran, sehingga diperkirakan menjadi negara yang paling terdampak oleh kebijakan tarif baru AS.

“Indeks Pizza Pentagon” Kembali Menggeliat

Pada malam 12 Januari, media sosial kembali diramaikan oleh fenomena yang dikenal sebagai “Indeks Pizza Pentagon”—indikator informal yang kerap diasosiasikan dengan aktivitas lembur intens di markas militer AS.

Laporan menunjukkan:

Fenomena ini secara luas ditafsirkan sebagai tanda bahwa pejabat pertahanan AS tengah bekerja tanpa henti, menyusun berbagai skenario militer terkait Iran.

Protes Berubah Menjadi Perang Terbuka

Laporan Fox News pada 12 Januari mengutip kesaksian seorang warga sipil dari Isfahan yang menyebut bahwa aksi protes telah berubah menjadi konfrontasi bersenjata. Pasukan keamanan Iran dilaporkan menggunakan senapan mesin untuk menembaki demonstran yang sebagian besar tidak bersenjata.

Pada saat yang sama, Iran telah:

Langkah ini dinilai sebagai upaya rezim untuk memutus total aliran informasi agar kekerasan ekstrem tidak terdokumentasi dan tersebar ke dunia internasional.

Rekaman Terbatas dari Lapangan

Meski sensor ketat diberlakukan, sejumlah kecil video berhasil lolos:

Pada 11 Januari di Karaj, video menunjukkan kerumunan besar di depan kantor polisi yang telah dibakar, disertai teriakan histeris dan suara tembakan di latar belakang.

Laporan Medis: Luka Seperti Medan Tempur

Menurut laporan Sky News, seorang dokter bedah di Teheran mengungkapkan bahwa situasi memburuk drastis menjelang tengah malam Kamis, 11 Januari.

Awalnya aparat menggunakan peluru karet, namun kemudian beralih ke peluru tajam, menembaki massa secara membabi buta. Luka para korban digambarkan identik dengan korban perang, sementara rumah sakit kewalahan menangani korban tewas dan luka berat.

Perubahan ini terjadi setelah polisi biasa ditarik dan digantikan oleh Korps Garda Revolusi Iran dan milisi Basij yang menggunakan senjata militer.

Ancaman Eksekusi Massal

Organisasi HAM Iran melaporkan bahwa sistem peradilan Islam Iran telah menyetujui eksekusi massal terhadap demonstran yang ditangkap. Eksekusi pertama dijadwalkan dimulai Rabu pekan ini, dengan sejumlah nama telah diumumkan—termasuk seorang demonstran bernama Soltani, yang ditangkap pada 9 Januari di Karaj.

Pemerintah Iran mengakui telah menangkap puluhan ribu orang, namun sumber independen memperkirakan jumlah sebenarnya tiga hingga empat kali lebih besar.

Solidaritas Global dan Ketegangan Regional

Gelombang solidaritas internasional terus membesar. Demonstrasi mendukung rakyat Iran berlangsung di Washington, London, Paris, hingga Sydney, dipimpin oleh komunitas diaspora Iran yang selama puluhan tahun hidup di pengasingan dan menentang rezim Islam Iran.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Senin sore, 12 Januari, menegaskan bahwa Presiden Trump tidak akan ragu menggunakan kekuatan mematikan AS bila diperlukan. Namun, dia menambahkan bahwa langkah selanjutnya hanya diketahui oleh Trump sendiri.

Trump juga mengungkap bahwa Iran secara mendadak menghubungi AS pada akhir pekan, meminta dimulainya kembali perundingan nuklir—langkah yang oleh pengamat dinilai sebagai taktik mengulur waktu sambil rezim menumpas protes dengan kekerasan.

Kesiapan Militer AS dan Israel

Hingga kini, belum terlihat pengerahan besar-besaran kekuatan laut dan udara AS. Kapal induk USS Ford telah bergerak ke Karibia, sementara USS Lincoln berada di Laut Cina Selatan. Meski demikian, AS tetap memiliki kemampuan serangan jarak jauh melalui pembom strategis B-2, B-52, dan B-1 yang dapat lepas landas langsung dari wilayah Amerika.

Perdana Menteri Israel,  Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan moral terhadap rakyat Iran dan mengecam pembantaian warga sipil, meski pernyataan tersebut dinilai masih bersifat simbolis. Pejabat intelijen Israel memperkirakan bahwa rezim Iran berupaya menghancurkan protes sepenuhnya dalam waktu 48 jam.

Kesimpulan

Iran kini berada di titik kritis. Jumlah korban jiwa diperkirakan akan terus bertambah, sementara ruang waktu bagi komunitas internasional semakin menyempit. Dunia menanti satu pertanyaan besar:

Apakah Amerika Serikat dan Israel akan benar-benar mengambil tindakan militer terhadap Iran—atau tragedi ini akan terus berlanjut tanpa intervensi?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Tangsel Kritik Pilkada Lewat DPRD: Hak Rakyat Direnggut
• 1 jam lalukompas.com
thumb
13 Mahasiswa Gugat Pasal Demo Harus Izin di KUHP Baru, Dinilai Ancam Kebebasan Berpendapat
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Telusuri Dugaan Uang Korupsi Haji ke Pejabat PBNU, Aizzudin Membantah
• 3 jam lalugenpi.co
thumb
Waspada Hujan Sedang-Sangat Lebat di Jakarta pada 14-16 Januari
• 4 jam laludetik.com
thumb
Kemenhub perpanjang kewenangan BKI sertifikasi statutoria kapal
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.