Pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, rencananya akan ditebang oleh warga karena dinilai telah mati dan membahayakan, mengingat berada di pinggir jalan raya dan lapangan.
Namun, penebangan pohon itu batal karena Pemkab Magelang ingin mempelajari dulu kondisi pohon secara mendalam untuk memastikan apakah pohon itu masih bisa diselamatkan
Tokoh masyarakat yang rumahnya tak jauh dari randu alas, Haji Ashari Munhajir (53), bercerita pada pada Senin (12/1) lalu warga sudah menebang beberapa ranting dari pohon randu alas ini.
Di media sosial ramai pohon randu mengeluarkan cairan merah serupa darah. Soal ini, Ashari mengatakan cairan itu bukan darah.
"Getah itu kalau randu merah memang getahnya pohon merah. Ini jenisnya merah. Bukan terus darah," ucapnya.
Selain soal getah merah, ada serba-serbi kisah dari pohon yang usianya diperkirakan 200 sampai 300 tahun ini.
Misalnya ada kisah sedih. Dahulu ada orang yang tersambar petir ketika duduk di bawah pohon.
"Ada yang duduk di situ kena petir meninggal dunia. Itu warga sini," katanya.
Soal cerita mistis, juga sempat mencuat. Namun Ashari tidak yakin hal itu.
"Kalau pribadi belum pernah (melihat mistis). Tapi dahulu ada penjual bakso teko-teko (tahu-tahu) kelihatan itu (hal aneh). Gerobaknya bisa jatuh," kata Ashari ditemui, Rabu (14/1).
Menurut Ashari yang kerap melihat hal mistis justru orang luar desa. Sementara orang asli desa sini tak pernah mendapati hal aneh.
"Malah yang dari luar desa," katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim mengatakan tak ada yang tahu pasti siapa yang menanam atau tumbuh sejak kapan pohon randu itu.
"Mungkin itu sudah ratusan tahun. Real (ceritanya) bagaimana saya nggak tahu," kata Karim.
Di sisi lain, Karim juga mengakui pohon randu seperti ini kerap menyimpan cerita mistis.
"Kalau saya memang satu lokasi memang berdekatan jadi ya biasa-biasa saja," jelasnya.
"Ya kalau orang Jawa tetap ada ya (soal mistis). Tetapi kita selaku warga selaku Pemdes tetap tidak meninggalkan Jawa-nya tetap diselameti," katanya.
Sebelum penebangan yang akhirnya hanya pemangkasan pada Senin lalu, warga juga telah menggelar selametan.
"Apa pun yang terjadi entah mau masih berdiri atau besok dikurangi ranting-rantingnya, diberi keselamatan dan manfaat," katanya.
Penjelasan Kades Soal Polemik Pohon Randu
Karim menjelaskan soal polemik pohon randu alas di desanya ini.
"Kebetulan kami mempunyai pohon randu alas yang jadi ikon Tuksongo. Di situ kemarin sempat ramai sampai sekarang terkait penebangan pohon randu," kata Karim.
"Sebetulnya kami pemerintah desa dan masyarakat itu ya tidak ingin menebang. Harapannya pohon itu berdiri kokoh dan hidup," katanya.
Namun, menurut Karim kenyataannya pohon randu menurut pengamatan masyarakat sudah mati.
Karim mengatakan kulit batang kayu juga mengelupas. Hal ini tak pernah ditemui sebelumnya.
Sebelum warga menyepakati untuk menebang, pihaknya telah berupaya mendatangkan tim ahli dari DLH untuk mengobati pohon. Proses dilaksanakan tetapi gagal.
"Berjalannya waktu, kian hari pohon itu makin rapuh ranting-rantingnya," jelasnya.
Beberapa kali kejadian ranting jatuh menimpa bangunan yang ada di sekitarnya.
Pohon dinilai membahayakan warga sekitar dan pengguna jalan mengingat pohon berada di samping jalan persis dan dekat dengan lapangan.
"Kami musyawarah dengan masyarakat mengambil sikap. Kemarin kita sudah bersurat ke PU dan DLH tapi mereka katanya bukan kewenangannya. Jadi mereka juga takut bahwasanya itu pohon yang berusia ratusan tahun takutnya dia menyalahi aturan. Di situ mereka hanya siap membantu manakala ada penebangan dari PU siap membantu alat-alatnya," katanya.
Saat pemangkasan juga dari dalam pohon tampak muncul ulat. Hal itu dikhawatirkan membuat ranting semakin rapuh. Padahal diameter rantingnya saja besar.
"Itu ranting diameter 2,5 meter kalau tidak salah," katanya.
"Kemarin alat-alat penebangan belum mampu dan dipertimbangkan masih membahayakan warga yang berdekatan atau rumah hunian yang berdekatan. Akhirnya kita pending," bebernya.
Yang kedua, ada beberapa organisasi dari luar desa yang menginginkan pohon ini tidak ditebang. Informasi ini sampai ke Bupati Magelang. Lalu, penebangan diputuskan ditunda.
"Kebetulan berita tersebut sampai ke Bapak Bupati Kabupaten Magelang dan Bapak Bupati menyarankan ditunda dahulu. Mau dikaji ulang melalui tim-tim ahli dari Kabupaten Magelang," katanya.
Karim mengatakan tindak lanjut pohon ini apakah ditebang, pangkas rantingnya, atau tetap dibiarkan berdiri menunggu hasil kajian dari kabupaten.
"Harapan kami pohon tersebut kalau bisa diselamatkan. Tapi misalkan sudah tidak bisa ya kita harus segera ambil sikap. Karena kita utamakan keselamatan lingkungan, keamanan lingkungan," katanya.
Jangan sampai menurut Karim ketika sayang pada sesuatu tapi berdampak tak baik. Apalagi Tuksono sering dikunjungi wisatawan.




