Seorang seniman melukis pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Pohon itu tengah menjadi polemik karena rencananya ditebang tetapi kemudian diurungkan.
Seniman tersebut bernama Hatmojo. Dia juga tinggal di Desa Tuksongo. Hatmojo melukis on the spot atau di lokasi.
"Paling dasar konsepnya keharuan. Dalam suatu isu yang berkembang kemarin saya dengar akan ditebang ini padahal menjadi suatu kebanggaan kami ya. Bahkan mungkin Magelang ya," kata Hatmojo ditemui di rumahnya, Rabu (14/1).
Ada rasa sayang dari Hatmojo ke pohon randu ini. Dia juga bertanya apakah ada upaya bentuk yang lain.
"Artinya jangan menjadi suatu penebangan yang habis," katanya.
Hatmojo mengatakan ketika kelak memang harus ditebang, paling tidak pohon bisa disisakan lima meter. Sebagai monumen sejarah.
Menurutnya, pohon randu ini memiliki sejarah. Paling sederhananya pohon randu ini telah jadi branding dan ikon desa.
"Bagaimana ini diupayakan. Minimal ada penanaman kembali," katanya.
Kesedihan yang dirasakan Hatmojo lalu dituangkan ke lukisan. Ada momen yang berhasil direkam sebelum misalnya pohon benar-benar ditebang.
"Saya sudah konsen untuk mendokumentasi. Karena itu akan menjadi arsipku," katanya.
Dia berniat tidak hanya melukis on the spot saja tetapi eksibision.
"Karya ini akan jadi seri. Seri pra dan setelah. Terjadi pemotongan atau tidak atau pemotongan ranting," katanya.
Penjelasan Kades Soal Polemik Pohon Randu
Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim angkat bicara soal pohon randu alas di desanya ini.
"Kebetulan kami mempunyai pohon randu alas yang jadi ikon Tuksongo. Di situ kemarin sempat ramai sampai sekarang terkait penebangan pohon randu," kata Karim.
"Sebetulnya kami pemerintah desa dan masyarakat itu ya tidak ingin menebang. Harapannya pohon itu berdiri kokoh dan hidup," katanya.
Namun, menurut Karim kenyataannya pohon randu menurut pengamatan masyarakat sudah mati.
Karim mengatakan kulit batang kayu juga mengelupas. Hal ini tak pernah ditemui sebelumnya.
Sebelum warga menyepakati untuk menebang, pihaknya telah berupaya mendatangkan tim ahli dari DLH untuk mengobati pohon. Proses dilaksanakan tetapi gagal.
"Berjalannya waktu, kian hari pohon itu makin rapuh ranting-rantingnya," jelasnya.
Beberapa kali kejadian ranting jatuh menimpa bangunan yang ada di sekitarnya.
Pohon dinilai membahayakan warga sekitar dan pengguna jalan mengingat pohon berada di samping jalan persis dan dekat dengan lapangan.
"Kami musyawarah dengan masyarakat mengambil sikap. Kemarin kita sudah bersurat ke PU dan DLH tapi mereka katanya bukan kewenangannya. Jadi mereka juga takut bahwasanya itu pohon yang berusia ratusan tahun takutnya dia menyalahi aturan. Di situ mereka hanya siap membantu manakala ada penebangan dari PU siap membantu alat-alatnya," katanya.
Saat pemangkasan juga dari dalam pohon tampak muncul ulat. Hal itu dikhawatirkan membuat ranting semakin rapuh. Padahal diameter rantingnya saja besar.
"Itu ranting diameter 2,5 meter kalau tidak salah," katanya.
"Kemarin alat-alat penebangan belum mampu dan dipertimbangkan masih membahayakan warga yang berdekatan atau rumah hunian yang berdekatan. Akhirnya kita pending," bebernya.
Yang kedua, ada beberapa organisasi dari luar desa yang menginginkan pohon ini tidak ditebang. Informasi ini sampai ke Bupati Magelang. Lalu, penebangan diputuskan ditunda.
"Kebetulan berita tersebut sampai ke Bapak Bupati Kabupaten Magelang dan Bapak Bupati menyarankan ditunda dahulu. Mau dikaji ulang melalui tim-tim ahli dari Kabupaten Magelang," katanya.
Karim mengatakan tindak lanjut pohon ini apakah ditebang, pangkas rantingnya, atau tetap dibiarkan berdiri menunggu hasil kajian dari kabupaten.
"Harapan kami pohon tersebut kalau bisa diselamatkan. Tapi misalkan sudah tidak bisa ya kita harus segera ambil sikap. Karena kita utamakan keselamatan lingkungan, keamanan lingkungan," katanya.
Jangan sampai menurut Karim ketika sayang pada sesuatu tapi berdampak tak baik. Apalagi Tuksongo sering dikunjungi wisatawan.




