FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Influencer per-kripto-an Timothy Ronald, kinimakin viral di media sosial setelah dilaporkan kasus dugaan penipuan investasi kripto.
Korban mengaku tergiur investasi trading mata uang kripto setelah melihat gaya hidup Timothy Ronald gemar flexing dengan memamerkan kesuksesan investasi kripto di media sosial.
Korban tersebut bernama Younger. Dia mengaku mengalami kerugian hingga mencapai Rp3 miliar.
Awal mula tertarik investasi kripto setelah melihat gaya hidup mewah Ronald Timothy di media sosial. Dari ketertarikan itu, Younger bergabung dengan Akademi Kripto, komunitas edukasi kripto yang diasuh oleh Timothy Ronald.
Setelah nama Timothy Ronald semakin mencuat usai dilaporkan kasus dugaan penipuan investasi trading kripto, latar belakang sang influencer pun ditelusuri.
Apalagi, Timothy Ronald kerap tampil flexing alias gaya hidup mewah di media sosial. Publik pun bertanya-tanya, apakah Timothy Ronald memang berasal dari kalangan keluarga konglomerat atau murni dari hasil kerja keras dan usaha sendiri?
Timothy Ronald cukup menjaga latar belakang atau kehidupan keluarganya. Dia sempat membagikan cerita mengenai latar belakang dan kehidupan keluarganya saat diundang pada podcast Deddy Corbuzier, Juni 2025.
- Bukan Keluarga Konglomerat
Timothy Ronald menutup rapat identitas keluarganya. Tidak dipublikasikan mengenai identitas orang tuanya. Namun, dia mengaku bukan berasal dari kalangan keluarga konglomerat, tetapi dari keluarga dengan kehidupan tergolong sederhana.
Dari pengakuannya itu, ditegaskan bahwa Timothy Ronald dan keluarganya bukan pewaris bisnis besar dengan kelompok bisnis yang menggurita.
- Ayah Timothy Ronald Wiraswasta Sektor IT
Timothy Ronald bukanlah pewaris bisnis. Dia juga bukan berasal dari kalangan pengusaha besar. Ayahnya diketahui merupakan wiraswasta di sektor IT.
Kehidupan finansial ayah Timothy Ronald tergolong dalam kelompok ekonomi menengah. Dia menyebut kehidupan dan ekonomi ayahnya berkecukupan dan jauh dari kesulitan finansial.
“Bokap gue bukan sulit, middle lah,” ucap Timothy Ronald dalam podcast Deddy Corbuzier yang tayang pada 17 Juni 2025 lalu.
- Timothy Ronald Hidup Mandiri
Timothy Ronald mulai hidup mandiri sejak orang tuanya berpisah. Saat itu, Timothy Ronald masih di usia remaja, sekitar 15 tahun.
Setelah memutuskan hidup mandiri, Timothy Ronald membiayai hidupnya sendiri. Dia tidak ingin bergantung pada keluarganya secara finansial, meski ayahnya memiliki kehidupan finansial yang berkecukupan dengan karier di bidang IT.
- Tolak Bantuan Biaya Pendidikan
Setelah memutuskan hidup mandiri tanpa bergantung pada finansial ayahnya, Timothy Ronald memutuskan menolak bantuan biaya pendidikan yang diberikan ayahnya. Padahal, Timothy saat itu bersekolah di SMA Praburong, sebuah sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang terkenal cukup mahal. Dia membiayai seluruh pendidikan dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Memang diakuinya, dirinya sempat menyesal menolak bantuan pendidikan yang sempat ditawarkan ayahnya. Dia juga mengaku sempat terlambat membayar iuran sekolahnya.
Tapi, Timothy Ronald yang saat itu masih remaja bertekad untuk bekerja keras untuk membiayai hidup dan sekolahnya. Dia berkomitmen untuk tidak bergantung secara finansial pada orang tuanya.
Komitmen itulah yang menempanya untuk membangun bisnisnya sendiri tanpa bantuan orang tua.
“Bokap gue sama nyokap udah nggak bareng sejak gue SMA. Gue bilang ke bokap, gue nggak butuh duit lagi. Walau bulan pertama nyesel, sih,” ujar Timothy.
- Sewa Rumah untuk Ibu
Keputusan untuk hidup mandiri membuat Timothy Ronald bekerja keras untuk membiayai hidup dan sekolahnya. Hasil kerja kerasnya tak dinikmatinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya.
Setelah ayah dan ibunya berpisah, Timothy Ronald lalu menyewakan sebuah rumah untuk ibunya. Biayanya diperoleh dari hasil kerja kerasnya di usia muda.
“Gue tuh udah pisah, tinggal sendiri. Gue sewa rumah buat nyokap. Gue udah cukup mandiri dan nggak mau gengsi buat minta ke bokap,” katanya.
- Sanggup Biayai Kehidupan Ibu dan Saudara Kandung
Kerja keras Timothy Ronald tidak hanya untuk biaya hidupnya sendiri dan pendidikannya. Dia juga menjadi sandwich generation dengan memikul tanggung jawab
penuh atas kesejahteraan ibu serta saudara-saudaranya.
Termasuk membiayai kuliah adiknya yang sedang menempuh pendidikan di China.
Tak hanya itu, Timothy Ronald juga meminta sang kakak berhenti bekerja agar bisa fokus mendampingi ibunya bepergian keliling dunia dan melanjutkan studi di luar negeri.
- Hadiahi Ayah Sebuah Mobil
Timothy Ronald membuktikan dirinya mampu mandiri dan tidak bergantung finansial pada orangtuanya sejak mereka bercerai.
Hal itu ditunjukkannya setelah menolak menerima bantuan pendidikan dari sang ayah.
Alih-alih menerima bantuan dari ayahnya, Timothy Ronald malah menunjukkan kepeduliannya sebagai anak dengan membelikan ayahnya sebuah mobil.
“Dia bisa sendiri, orang IT juga. Tapi ya, ada lah gue kasih mobil,” ungkap Timothy.
- Sempat Diasingkan Keluarga Besarnya
Masa lalu yang kelam dengan perpisahan orang tua juga berdampak pada kehidupannya dengan keluarga besarnya. Timothy Ronald mengungkapkan bahwa ia pernah diasingkan oleh keluarga besarnya di masa hidupnya belum stabil.
Hingga saat ini, Timothy Ronald membatasi interaksi dengan keluarga besarnya demi menjaga kedamaian batinnya.
“Gue tuh orangnya keras. Dari dulu sudah jaga jarak. Waktu susah, minta tolong nggak ditolong,” tuturnya.
- Timothy Ronald Masih Melajang
Timothy Ronald diketahui saat ini belum menikah. Namun, ia dikabarkan berpacaran dengan Hanami Wang, seorang model dan influencer.
- Dijuluki “Raja Kripto Indonesia”
Timothy Ronald dikenal luas di komunitas kripto dan sering dijuluki sebagai “raja kripto Indonesia” karena kiprahnya dalam dunia aset digital.
Selain Timothy, seorang trader kripto bernama Kalimasada juga disebut dalam laporan. Unggahan tersebut memicu perhatian publik karena sejumlah korban yang sebelumnya enggan melapor kini mulai berani mengajukan laporan resmi ke polisi.
Hingga berita ini diturunkan, baik Timothy Ronald maupun Kalimasada belum memberikan tanggapan atas laporan dugaan penipuan tersebut.
Dalam laporan awal, kasus bermula dari grup diskusi daring Akademi Crypto di platform Discord.
Pada Januari 2024, korban menerima sinyal investasi berupa arahan untuk membeli koin Manta dengan janji kenaikan nilai hingga 300–500 persen.
Namun, harga koin justru anjlok hingga minus 90 persen, menyebabkan kerugian awal sebesar Rp 3 miliar.
Seiring berjalannya waktu, klaim kerugian berkembang menjadi ratusan miliar rupiah. Jumlah korban disebut mencapai ribuan orang.
Akun X bernama Skyholic888 mengklaim telah mengawal sejumlah korban untuk membuat laporan resmi.
Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut total kerugian mencapai Rp 200 miliar dari lebih dari 3.500 orang. Klaim ini menandai pergeseran konflik dari polemik publik di media sosial ke ranah penegakan hukum.
Surat laporan menyebut dugaan pelanggaran terhadap sejumlah pasal hukum. Di antaranya adalah Pasal 45A ayat 1 Jo Pasal 28 ayat 1 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana, serta beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terbaru.
Pasal-pasal tersebut mengatur mengenai tindak pidana penipuan, penyebaran informasi bohong, serta pelanggaran dalam transaksi keuangan digital. (*)





