Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia akan memiliki BUMN baru khusus untuk tekstil. Danantara menyiapkan pendanaan sebesar USD 6 miliar untuk perusahaan ini, setara Rp 101,2 triliun (kurs hari ini Rp 16.869).
Adapun pembentukan BUMN baru khusus tekstil tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo dalam rapat pada Minggu (11/1) di Hambalang, Bogor.
“Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Sehingga pendanaan USD 6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara,” kata Airlangga ditemui di Hotel Mulia, Jakarta Selatan pada Rabu (14/1).
“Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil, tidak menghidupkan kembali,” jelas Airlangga lebih lanjut ketika ditanya apakah BUMN yang dimaksud adalah BUMN baru atau menghidupkan BUMN tekstil yang sudah ada.
Dalam rapat di Hambalang, Airlangga menuturkan salah satu bahasannya adalah terkait sektor terdepan yang paling berisiko terkena tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS). Dari situ, sektor tekstil merupakan sektor yang memiliki risiko tinggi.
Untuk itu, ia juga menjelaskan bahwa Prabowo sudah meminta skema defensif Indonesia kepada Airlangga untuk melindungi sektor tekstil.
“Yang di garis terdepan dalam trade tarif itu adalah yang resiko tertinggi itu di sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garment, dan elektronik. Nah terhadap industri ini Bapak Presiden minta defensif posisi kita seperti apa termasuk untuk mencarikan pasar-pasar yang baru dan salah satu kan dari EU-CEPA itu, tapi masih efektif di tahun 2027,” ujarnya.
Selain itu, Airlangga juga mengungkap saat ini pemerintah sudah membuat roadmap terkait peningkatan ekspor tekstil. Adapun pemerintah menarget ekspor tekstil meningkat dari USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam 10 tahun.
Hal yang juga menjadi fokus Airlangga adalah penguatan rantai pasok (value chain). Hal ini karena Airlangga melihat rantai pasok tekstil Indonesia masih lemah.
“Nah kita ketahui memang kelemahan kita berada pada value chain yang di tengah yaitu tekstil dalam produksi benang, dalam produksi kain, dyeing, printing, dan finishing. Nah ini yang harus kita dorong untuk dibangkitkan kembali,” kata Airlangga.





