PENDIRI sekaligus Pemimpin Umum Suratkabar Kampus UI Salemba, Antony Z Abidin, menegaskan bahwa warisan terpenting dari media kampus bukan sekadar sejarah perlawanan atau pembredelan, melainkan standar profesionalisme dan etika jurnalistik yang kuat.
Hal tersebut disampaikan Antony dalam sambutannya pada acara peringatan “50 Tahun Salemba” yang digelar di Aula FKUI Salemba, Jakarta, Rabu (14/1). Menurutnya, Salemba lahir sebagai media yang dikelola secara profesional dengan prinsip bahwa kebebasan harus dijalankan dengan tanggung jawab.
“Lima puluh tahun yang lalu, Salemba lahir bukan sebagai simbol perlawanan, bukan pula sebagai alat propaganda. Salemba lahir dengan prinsip sederhana: bahwa pikiran harus ditulis dengan tanggung jawab, dan kebebasan harus dijalankan dengan etika,” ujar Antony Z Abidin.
Baca juga : 50 Tahun Surat Kabar UI, Menjaga Etika Publik di Tengah Perubahan Zaman
Kehadiran Tokoh Bangsa dan Integritas IntelektualAcara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional yang memiliki kedekatan sejarah dengan Universitas Indonesia, di antaranya Prof. Dr. Emil Salim, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dan pengusaha nasional Chairul Tanjung.
Antony secara khusus memberikan penghormatan kepada Prof. Emil Salim sebagai pelopor penerbitan surat kabar kampus UI pada tahun 1950-an. Ia menyebut Emil Salim sebagai sosok teknokrat dan negarawan yang integritasnya diakui lintas generasi.
“Kehadiran beliau (Emil Salim) hari ini adalah pengingat bahwa tradisi intelektual UI selalu berpijak pada etika, tanggung jawab, dan kepentingan bangsa,” tambahnya.
Baca juga : Yusril Serahkan Keputusan Pilkada tak Langsung pada Pemerintah dan DPR
Peluncuran Buku 524 HalamanSebagai bagian dari peringatan setengah abad ini, dilakukan pula peluncuran buku berjudul “50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba” setebal 524 halaman. Buku ini dirancang sebagai dokumen pembelajaran bagi generasi mendatang mengenai proses, prinsip, dan rujukan jurnalistik yang sehat.
Antony berharap media kampus di era digital saat ini tidak hanya menjadi sarana latihan menulis, tetapi juga menjadi bagian dari reputasi institusi akademik yang mencerminkan kualitas intelektual universitas.
“Kami ingin Salemba dikenang sebagai penetap standar: bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab, dan keberanian harus berjalan bersama integritas,” pungkasnya.
(P-3)





