JAKARTA, KOMPAS.com – Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengaku lega melihat pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, resmi dimulai.
Proyek yang terbengkalai lebih dari dua dekade itu akhirnya menemui kepastian.
“Teman-teman media, jujur saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini,” ujar Sutiyoso, Rabu (14/1/2026).
Sutiyoso, yang akrab disapa Bang Yos, hadir langsung menyaksikan proses pembongkaran.
Baca juga: Tak Ada Penutupan Jalan, Ini Jadwal Pembongkaran Tiang Monorel Jakarta
Ia hadir bersama Gubernur Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, serta jajaran Kejaksaan Tinggi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Dalam kesempatan itu, ia pun mengenang, monorel merupakan bagian dari perencanaan jaringan transportasi makro Jakarta yang dirancang pada masa kepemimpinannya pada 2002.
Saat itu, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan empat moda transportasi utama untuk mengatasi kemacetan, yakni MRT, monorel, busway, dan waterway.
“Saya kumpulkan pakar-pakar transportasi dari berbagai universitas untuk merancang jaringan transportasi makro Ibu Kota. Jalurnya terpisah, tetapi terintegrasi sehingga warga Jakarta mau ke mana pun ada angkutan massalnya,” kata Sutiyoso.
Proyek monorel kemudian dicanangkan pada 2004 dengan dukungan investor dari China dan dukungan pemerintah pusat.
Baca juga: Sejarah dan Penyebab Tiang Monorel Jakarta Mangkrak Selama 20 Tahun
Namun, proyek tersebut tidak berlanjut setelah masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007 dan terjadi pergantian kebijakan di periode berikutnya.
Seiring waktu, tiang-tiang monorel yang tak pernah difungsikan justru berubah menjadi besi tua dan dinilai merusak wajah kota.
Menurut Sutiyoso, kondisi itu menuntut adanya keputusan tegas.
“Dalam kondisi seperti itu yang sudah dikatakan sudah puluhan tahun mangkrak dan jadi besi tua itu, harus ada satu keputusan yang jelas gitu kepastian. Dan keputusan itu sekarang diambil oleh Pak Gubernur Pramono,” ucapnya.
Ia pun mengapresiasi langkah Pramono Anung yang memilih pembongkaran sebagai jalan keluar, meski pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk proses tersebut dan penataan kawasan.
Baca juga: Cegah Macet, Pengendara Diminta Tak Nonton Pembongkaran Tiang Monorel
“Kepastian inilah yang selama ini ditunggu. Seenggak enak apa pun, keputusan ini paling tepat,” ujar Sutiyoso.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F09%2F08%2F42df8c2a1702269893f0f84ebea117ff-1000379410.jpg)

