Salah satu topik yang paling menyentuh hati adalah mengenai Sidratul Muntaha, titik tertinggi yang menjadi puncak pertemuan spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. Berikut adalah naskah Khutbah Jumat Isra Mikraj singkat yang bisa menjadi referensi untuk meningkatkan ketakwaan jamaah.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah, Marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Hari ini, kita kembali mengenang mukjizat besar, yaitu Isra Mikraj. Sebuah perjalanan yang melampaui batas logika, di mana Rasulullah SAW diangkat menuju Sidratul Muntaha.
Apa itu Sidratul Muntaha? Secara harfiah, ia adalah "Pohon Teratai Perbatasan". Di tempat inilah, segala pengetahuan makhluk berhenti. Bahkan Malaikat Jibril as, pemimpin para malaikat, tidak sanggup melampaui batas ini. Jibril berkata, "Jika aku melangkah setapak lagi, aku akan terbakar oleh cahaya-Nya." Namun, Baginda Nabi Muhammad SAW diberikan izin oleh Allah untuk melintasinya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Ada tiga pesan mendalam yang bisa kita petik dari peristiwa di Sidratul Muntaha, yaitu Sidratul Muntaha mengajarkan bahwa puncak kemuliaan seorang manusia bukan terletak pada harta atau tahta, melainkan pada seberapa dekat ia dengan Allah SWT. Rasulullah dipanggil ke tempat tertinggi karena kesucian hati dan ketaatannya.
Di Sidratul Muntaha pulalah perintah shalat lima waktu diturunkan. Jika Rasulullah melakukan Mikraj secara fisik ke langit ketujuh, maka kita umatnya diberikan sarana untuk "Mikraj" secara spiritual setiap hari melalui shalat. Shalat adalah waktu di mana ruh kita menghadap langsung kepada Rabbul 'Alamin.
Saat berada di Sidratul Muntaha, Rasulullah melihat betapa kecilnya dunia ini. Hal ini mengingatkan kita agar jangan sampai urusan dunia yang fana membuat kita lalai dari tujuan akhir kita, yaitu akhirat yang kekal.
Baca Juga :
Bacaan Doa Isra Mikraj 27 Rajab, Memohon Keberkahan di Malam Perjalanan Agung Rasulullahالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كِثِيْرًا.
Jamaah yang Dirahmati Allah, Sebagai penutup, marilah kita jadikan peringatan Isra Mikraj 27 Rajab ini sebagai momentum untuk memperbaiki shalat kita. Mari kita rasakan bahwa setiap kali kita berdiri di atas sajadah, kita sedang melakukan "perjalanan" menuju Allah, sebagaimana Nabi Muhammad SAW menuju Sidratul Muntaha.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjaga shalat lima waktu, memperbanyak shalawat, dan menguatkan iman kita hingga akhir hayat.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


