Warga Makassar Diimbau Kurangi Aktivitas Laut, Gelombang Tinggi Mengancam Hingga Februari

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MAKASSAR —

Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di laut seiring dengan prediksi gelombang tinggi dan angin kencang pada periode Januari–Februari 2026.

Gelombang tinggi akibat cuaca ekstrem tersebut diperkirakan terjadi di wilayah perairan Sulawesi Selatan, terutama di bagian barat dan selatan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar M. Fadli mengatakan aktivitas laut yang disarankan untuk dikurangi merupakan kegiatan yang tidak mendesak, seperti memancing dan wisata pelayaran.

Bahkan, aktivitas tersebut dianjurkan untuk ditunda guna menghindarkan masyarakat dari potensi insiden yang tidak diinginkan.

Kendati demikian, Fadli mengakui sejumlah aktivitas lain, seperti transportasi antarpulau, tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan serta melakukan persiapan secara maksimal sebelum berlayar.

Baca Juga

  • BMKG Ingatkan Potensi Hujan Sangat Lebat di Sumatra - Papua hingga 14 Januari
  • BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem, Pemprov Jatim Lanjutkan OMC
  • Hujan Jakarta: Cek Peringatan Dini BMKG, KRL Jabodetabek Alami Gangguan

Setiap warga diimbau memastikan ketersediaan alat keselamatan, seperti jaket pelampung. Selain itu, pemeriksaan kapal wajib dilakukan, mulai dari kondisi mesin hingga kelayakan kapal secara keseluruhan.

"Ingat bahwa kerusakan mesin di tengah laut dapat memicu situasi darurat, apalagi saat ada gelombang tinggi. Dengan meningkatnya kewaspadaan dan kepatuhan terhadap standar keselamatan, diharapkan risiko kecelakaan laut dapat ditekan," ucap Fadli kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar Nasrol Adil memprediksi hingga Februari 2026 gelombang tinggi berpotensi terjadi di perairan Sulsel dengan ketinggian mencapai 2–2,5 meter.

Kondisi tersebut dinilai kurang aman bagi aktivitas memancing, kegiatan nelayan, maupun pariwisata laut.

Oleh sebab itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi melalui kanal BMKG, baik aplikasi Info BMKG maupun laman resmi BMKG.

"Informasi ini kami sampaikan agar masyarakat lebih siaga, bukan menakut-nakuti. Kami tetap meminta agar tidak panik dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi," jelas Nasrol.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadi Karya Ridwan Kamil hingga Pernah Dikunjungi Jokowi, Teras Cihampelas di Bandung Bakal Dibongkar Dedi Mulyadi
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Sektor Perikanan Cirebon Catat Produksi 7.894 Ton Sepanjang 2025
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Reposisi ANTARA: tantangan kecepatan, independensi, dan pengawasan
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Roby Tremonti Ungkap Alasan Chat Suami Hesti Puwadinata soal Buku Aurelie Moeremans
• 8 jam laluinsertlive.com
thumb
Banjir dan Angin Kencang Terjang 4 Kabupaten di NTB, Ribuan Jiwa Terdampak
• 17 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.