JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyoroti sejumlah isu strategis global saat menyampaikan pidato dalam kegiatan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Dalam pidatonya, Sugiono menggambarkan kondisi dunia yang kian kompleks, ditandai oleh meningkatnya kompetisi global, situasi yang sulit diprediksi, serta peran aktor non-negara yang semakin memengaruhi arah dinamika internasional.
Selain itu, Sugiono juga menyinggung konflik Palestina–Israel yang hingga kini belum menunjukkan penyelesaian konkret di tengah minimnya langkah nyata dari komunitas internasional.
Baca juga: Momen Menlu Sugiono Jabat Tangan Dino Patti Djalal di Acara PPTM 2026
Di sisi lain, terdapat sejumlah momen menarik yang mewarnai pidato Sugiono, baik saat berlangsung maupun setelah acara.
Mulai dari ekspresi gugup di awal penyampaian, kelakar soal tiga wakil menteri yang disebutnya “masih belum cukup”, hingga momen bersalaman dengan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.
Tatanan dunia rapuh
Sugiono menilai, tatanan dunia saat ini berada dalam kondisi yang semakin rapuh.
Menurut Sugiono, hukum internasional yang selama ini menjadi penopang stabilitas kerap disalahgunakan melalui pendekatan a la carte atau dipilih sesuai kepentingan sendiri.
Ketika aturan yang telah disepakati dilanggar tanpa konsekuensi, yang runtuh bukan hanya satu ketentuan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan keseluruhan tatanan internasional.
“Di saat yang sama, dunia menyaksikan kembalinya fenomena ‘might makes right’ atau ‘siapa kuat, dia menang’,” kata dia.
Baca juga: Menlu RI: Gaza adalah Contoh Kenyataan Pahit, Indonesia Tak Boleh Diam
Menurut dia, standar ganda yang dipraktikkan secara terbuka telah mengikis kepercayaan antarnegara.
Pada saat bersamaan, mekanisme tata kelola global kian tertinggal dari realitas geopolitik yang berkembang cepat, bahkan sejumlah negara kunci justru menarik diri dari tanggung jawab global.
Sugiono mengingatkan, situasi ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang runtuhnya Liga Bangsa-Bangsa yang berujung pada Perang Dunia ke-2.