REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI, – Perusahaan energi terbarukan milik pemerintah Uni Emirat Arab, Masdar, mengharapkan perkembangan signifikan dalam ekspansi pembangkit listrik tenaga surya terapung Cirata di Jawa Barat pada tahun ini. Ekspansi ini merupakan kelanjutan dari kemitraan jangka panjang dengan PT PLN (Persero), yang dimulai dengan pembangunan pembangkit listrik terapung 145 megawatt (MW) Cirata pada 2017.
Pembangkit listrik terapung ini, yang merupakan proyek pertama Masdar di Asia Tenggara, dibangun di atas area seluas 250 hektar di Waduk Cirata, Jawa Barat. Fasilitas ini mulai beroperasi pada 2023 dan mampu menyediakan energi bersih untuk 50.000 rumah serta mengurangi emisi karbon sebanyak 214.000 ton per tahun.
Pada April 2025, Masdar dan PLN menandatangani kesepakatan untuk memperluas kapasitas pembangkit listrik ini hingga total 500 MW. Menurut Fatima Al Suwaidi, Kepala Pengembangan Bisnis Masdar untuk Asia-Pasifik, saat ini kedua pihak sedang melakukan penilaian pra-kelayakan untuk menetapkan kerangka pengembangan proyek sesuai dengan regulasi terbaru dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Regulasi baru ini memperluas cakupan permukaan air yang diizinkan untuk pembangkit surya terapung dari 5 persen menjadi 20 persen, sehingga membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk mengembangkan energi surya terapung. Dukungan kebijakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang memberikan ruang bagi proyek surya terapung, juga menjadi faktor kunci dalam percepatan ekspansi Cirata.
Di bawah RUPTL 2025–2034, Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 76 persen berasal dari energi terbarukan, termasuk 17,1 GW dari tenaga surya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Selain Cirata, Al Suwaidi mengungkapkan bahwa Masdar juga sedang mempersiapkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung Jatigede di Sumedang, Jawa Barat. Setelah studi awal dan teknis selesai, langkah selanjutnya untuk kedua proyek adalah finalisasi perjanjian pembelian tenaga listrik (PPA) dan persiapan konstruksi.