AMERIKA Serikat dan Inggris mulai mengurangi jumlah personel militer mereka di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump untuk melakukan aksi militer terhadap Iran menyusul penindasan berdarah terhadap pengunjuk rasa di negara tersebut.
Pemerintah Qatar mengonfirmasi bahwa pengurangan personel ini merupakan "tanggapan terhadap ketegangan regional saat ini." Al-Udeid merupakan pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah yang menampung sekitar 10.000 personel Amerika dan 100 staf Inggris. Hingga kini, jumlah pasti personel yang ditarik masih dirahasiakan demi alasan keamanan operasional.
Penutupan Diplomatik dan Peringatan GlobalSelain evakuasi militer, Inggris telah menutup sementara kedutaannya di Tehran dan memindahkan operasional secara jarak jauh. Langkah serupa juga diikuti oleh negara-negara Eropa lainnya; Italia dan Polandia mendesak warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran, sementara Jerman merekomendasikan maskapai penerbangan untuk menghindari wilayah udara Tehran karena risiko konflik bersenjata.
Baca juga : Trump Serukan Pengunjuk Rasa di Iran Ambil Alih Institusi Negara
Eskalasi ini dipicu oleh laporan lembaga hak asasi manusia yang menyebutkan lebih dari 2.400 demonstran tewas dalam tindakan keras otoritas Iran sejak protes pecah akhir Desember lalu. Amnesty International menggambarkan situasi ini sebagai "pembunuhan massal di luar hukum dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Retorika Trump dan Balasan IranPresiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan akan adanya "tindakan yang sangat kuat" jika Iran nekat mengeksekusi para pengunjuk rasa. Namun, dalam pernyataan terbaru pada Rabu (14/1), Trump menyebut telah menerima informasi bahwa aksi pembunuhan di Iran mulai mereda.
"Kami diberitahu berdasarkan otoritas yang kuat bahwa pembunuhan di Iran berhenti, dan tidak ada rencana untuk eksekusi," ujar Trump. Meski begitu, saat ditanya apakah opsi militer telah dibatalkan, ia menjawab secara diplomatis, "Kami akan memperhatikan dan melihat bagaimana prosesnya."
Baca juga : Berapa Besar Cadangan Minyak Iran Dibandingkan dengan Negara Lain?
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Trump untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. "Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti yang Anda lakukan pada bulan Juni. Tahukah Anda, jika Anda mencoba pengalaman yang gagal, Anda akan mendapatkan hasil yang sama," tegasnya.
Ancaman Terhadap Aset AS dan IsraelPemerintah Iran menuduh AS sengaja "menciptakan dalih untuk intervensi militer." Ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa jika AS menyerang, maka pusat-pusat militer dan jalur pelayaran AS serta Israel di kawasan tersebut akan menjadi "target yang sah."
Gelombang protes di Iran yang dipicu oleh anjloknya nilai mata uang dan tingginya biaya hidup kini telah bertransformasi menjadi tuntutan perubahan politik besar-besaran, yang menjadi tantangan tersulit bagi kepemimpinan ulama sejak revolusi 1979. (BBC/Z-2)




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F06%2Fd7188e6434c659586acda7ac86f6255e-20251206TOK20.jpg)