Bang Joni, Ekonomi Sirkular, dan Tanggung Jawab Produsen

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, Suara mesin motor bak yang dikendarai Joni terdengar pelan dari ujung gang. Suasana pagi di salah satu perumahan Bekasi Utara masih relatif lengang. Sesekali, Joni membunyikan klakson, memberi tanda kepada warga ia sedang melintas.

Di bak motor pria yang akrab disapa Bang Joni itu, galon air minum berdiri rapat. Sebagian berisi, sebagian kosong. Joni menghentikan motornya di depan sebuah rumah, menurunkan satu galon berisi, lalu membawa galon kosong dari pelanggan. Setelah itu, ia kembali menunggangi motor baknya untuk melanjutkan putaran berikutnya di dalam kompleks.

Sudah sekitar tujuh tahun Joni menjalani pekerjaan ini. Setiap hari ia berkeliling sekitar tiga jam pada pagi hari dan dua jam lagi pada sore. Dalam sehari, ia mengantar 50–70 galon. Jika sedang ramai, jumlahnya bisa mencapai 100 galon.

“Kerjaan saya ya begini, muter terus. Kalau makin banyak jual, makin banyak dapat uang,” kata Joni saat berbincang dengan Republika, belum lama ini.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Bang Joni berusia 43 tahun. Sebelum menjadi pengantar galon guna ulang, ia sempat bekerja di sebuah toko di Medan, Sumatera Utara. Namun usaha itu bangkrut dan tutup. Ia menganggur cukup lama, hingga akhirnya seorang teman di Bekasi menawarinya pekerjaan di depot air minum.

“Jujur, awal kerja saya masih malu-malu jadi tukang antar galon. Tapi lama-lama biasa,” ujarnya.

Sistem kerjanya berbasis komisi. Tidak ada gaji bulanan. Per galon, Joni memperoleh Rp2.000, baik untuk galon dari depot tempat ia bekerja maupun galon merek Aqua. Biaya bensin motor bak ia tanggung sendiri.

Jika dirata-ratakan dengan penjualan sekitar 50 galon per hari dan hari kerja selama 30 hari, penghasilannya bisa mencapai Rp3 juta per bulan. “Kalau dibilang cukup atau enggak, ya cukup,” katanya. “Sekarang bersyukur aja, cari kerja lagi susah.”

Di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, terdapat sistem yang kerap luput dari perhatian. Galon yang dibawa Bang Joni tidak pernah menjadi sampah.

Galon kosong selalu diambil kembali dari pelanggan. Untuk produk air galon dari depot tempat ia bekerja, galon dicuci dan digunakan ulang di depot. Sementara untuk galon produk Aqua, galon dikembalikan ke agen untuk kemudian dibawa kembali ke pabrik. Dua jalur yang berbeda, tetapi berujung pada prinsip yang sama, yaitu kemasan tidak diarahkan ke tempat pembuangan akhir.

Bagi sebagian orang, rutinitas Joni mungkin hanya layanan logistik kecil. Namun, kalau kita sadari, apa yang dijalankan Joni setiap hari adalah contoh paling sederhana dari praktik ekonomi sirkular yang telah lama hidup di masyarakat.

Praktik ini tidak bergantung pada teknologi tinggi, melainkan bekerja melalui kebiasaan guna ulang. Produk dipakai berulang kali, nilai produk dipertahankan selama mungkin, dan pembuangan produk ditunda sejauh mungkin.

Skema guna ulang ini bukan hanya menjadi solusi atas krisis sampah dan lingkungan, tapi juga membuka lapangan kerja. Bang Joni adalah salah satu contohnya. Ia sempat kehilangan pekerjaan, lalu kembali bekerja melalui sistem yang bertumpu pada kemasan yang terus dipakai ulang.

Di balik galon-galon yang berputar, terdapat pengantar, pekerja depot, petugas pencucian, hingga rantai distribusi yang ikut bergerak. Pada titik inilah ekonomi sirkular bekerja secara nyata, bukan hanya menjaga barang tetap bernilai, tetapi juga membuka ruang penghidupan bagi orang-orang seperti Joni yang mungkin memiliki keterbatasan akses ke sektor formal.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prioritas Diplomasi Indonesia Selesaikan Wilayah Perbatasan
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Komisi III DPR Kick Off Pembahasan RUU Perampasan Aset
• 3 jam laluidntimes.com
thumb
Polres Takalar Olah TKP Kasus Pembakaran Dua Unit Mobil di Polut
• 15 jam laluharianfajar
thumb
Kejagung Usut Korupsi Izin Tambang Konawe Utara lewat Pencocokan Data Hutan
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemerintah Anggarkan Rp16,9 Triliun Sulap 16.171 Sekolah, Mendikdasmen: Rampung Januari 2026
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.