Dengan luas mencapai 1.800 hektar, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, menjadi yang terbesar kedua di Indonesia. Namun, suasananya jauh dari ramai. Bandara lama ini sudah lama sepi, temannya hanya sunyi.
Digadang-gadang menyaingi Bandara Internasional Soekarno Hatta, BIJB yang diresmikan Presiden ke-7 Joko Widodo ini hanya melayani 79.523 penumpang tahun lalu. Jumlah itu jauh dari angka 54,95 juta penumpang yang dilayani Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Setelah menghabiskan Rp 2,6 triliun, BIJB mulai beroperasi pada 24 Mei 2018. Target awalnya, bandara ini bakal melayani 6 juta penumpang dalam setahun.
Hal itu didukung landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang mampu melayani pesawat berbadan lebar. Apron BIJB juga bisa menampung 22 pesawat.
Akan tetapi, hampir delapan tahun kemudian, target itu tidak pernah tercapai. Data terkini, penerbangan domestik telah terhenti sejak Juli tahun 2025 hingga awal tahun ini.
Saat ini hanya ada penerbangan rute Singapura-BIJB dua kali dalam seminggu. Rute ini dilayani maskapai Scoot yang masih bertahan.
Akibatnya, hanya 79.523 penumpang sepanjang tahun 2025 atau rata-rata dalam sehari hanya 218 penumpang yang terbang dan tiba di BIJB. Sementara, jumlah angkutan kargo, yang sempat diklaim bakal menjadi penyelamat, hanya mengangkut 197,8 ton.
Ironinya, di tengah minimnya mobilitas penumpang, BIJB perlu menutup biaya operasional tidak ringan, sekitar Rp 70 miliar per tahun. Ada juga utang yang harus dibayar sekitar Rp 2 triliun. Biaya operasional tersebut selama ini diambil dari dana APBD Jabar.
Imbasnya mengkhawatirkan. Tahun lalu, BIJB hanya mencatatkan pendapatan 16,7 miliar. Kerugiannya sekitar 90 miliar.
"Sepanjang tahun lalu, ada 1.033 kali pergerakan pesawat di BIJB Kertajati. Penerbangan domestik sudah terhenti sejak pertengahan tahun lalu hingga kini, " ungkap Pelaksana tugas Direktur Utama BIJB, Ronald Sinaga, Kamis (15/1/2026).
Ia menuturkan, terdapat empat faktor pemicu sepinya penumpang di BIJB. Pertama, penurunan drastis jumlah pesawat setelah pandemi Covid-19 di Indonesia. Dari awalnya 750 unit menjadi 330-350 unit pada tahun lalu.
Faktor kedua kondisi ekonomi masyarakat dan efisiensi anggaran untuk perjalanan. Kini, masyarakat lebih selektif menentukan skala prioritas untuk berlibur dengan pesawat di tengah situasi ekonomi saat ini.
Ketiga, destinasi wisata belum di daerah sekitar kawasan BIJB belum sepenuhnya terbentuk. Empat kabupaten yang dekat BIJB adalah Majalengka, Cirebon, Indramayu dan Kuningan.
"Perjalanan aparatur sipil negara sekarang berkurang setelah adanya efisiensi anggaran. Masyarakat juga sama mengurangi perjalanan dengan pesawat, " tutur Ronald.
Terakhir, faktor kehadiran kereta cepat Whoosh yang mempercepat perjalanan Jakarta-Bandung dalam waktu 30 menit. Whoosh berdekatan langsung dengan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur.
Whoosh telah meraih 6,2 juta penumpang sepanjang tahun 2025. Angka 6 juta penumpang yang ditargetkan sejak awal pembangunan BIJB kini masih sebuah fatamorgana.
"Saat BIJB dibangun hingga beroperasi pada tahun 2018 lalu, belum ada asumsi kehadiran Whoosh. Kini Whoosh telah beroperasi sejak 2 Oktober 2025 dan lebih disukai wisatawan, " paparnya.
Ronald mengakui sejumlah upaya perlu dilakukan pada tahun ini untuk meningkatkan jumlah penumpang sehingga pendapatan bertambah dan kerugian bisa berkurang. Ia dan tim manajemen telah menyiapkan sejumlah langkah strategis.
Upaya itu antara lain memberikan subsidi biaya di bandara hingga 50 persen hingga bekerja sama dengan Pemda dan pengelola hotel di daerah kawasan bandara untuk paket penginapan dengan harga khusus.
"Kami telah menjalin komunikasi dengan sejumlah maskapai terkait pemberian subsidi tersebut. Berbagai cara dilakukan agar BIJB dapat kembali beroperasi optimal," tegasnya.
Sementara upaya berbeda ditempuh Pemerintah Provinsi Jawa Barat selaku pemegang saham mayoritas BIJB mencapai 75 persen.
Pemprov Jabar menawarkan opsi masa depan BIJB dikelola bersama pusat atau diambil alih pusat sepenuhnya. Wacana ini digulirkan Pemprov beberapa hari terakhir.
Hal ini berdasarkan pertimbangan kondisi fiskal Jabar yang terbatas dan kewajiban utang yang belum terselesaikan. Salah satunya pekerjaan pembangunan infrastruktur yang belum terbayarkan pada 2025 senilai Rp621 miliar.
Rapat teknis yang membahas masa depan pengelolaan BIJB Kertajati akan terlaksana pada Kamis ini. Rapat terlaksana di Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar.
”Kami tetap menganggarkan biaya operasional BIJB tahun 2026 yang mencapai Rp 100 miliar. Masa depan BIJB akan ditentukan dalam rapat ini, " kata Kepala Bappeda Jabar Dedi Mulyadi.
Di tengah tantangan penurunan penumpang BIJB, perlu upaya inovatif untuk menyelamatkan bandara bernilai triliunan ini dari ancaman mangkrak.
Strategi subsidi biaya bagi maskapai, pengembangan rute baru, integrasi tranportasi darat melalui jalur tol hingga kolaborasi dengan industri pariwisata diharapkan membuat BIJB tak sia-sia.



