Jet Tempur JF-17, Sang "Guruh" asal Pakistan yang Dilirik Indonesia

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Di sela euforia tentang rencana kedatangan jet tempur Dassault Rafale yang akan diberangkatkan dari Perancis menuju Indonesia pada Januari 2026 ini, tersiar kabar lain yang datang dari Pakistan, Asia Selatan. Disiarkan bahwa Indonesia tengah membahas pembelian pesawat jet JF-17 dan drone tempur buatan negara tersebut.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, bertemu dengan Kepala Angkatan Udara Pakistan, Marsekal Zaheer Ahmed Baber Sidhu, di Islamabad pada 12 Januari 2026. Salah satu yang dibahas dalam pertemuan itu adalah penjualan jet tempur JF-17 dan drone Pakistan ke Indonesia.

Disebutkan bahwa pembicaraan itu berada di tahap lanjut dan mencakup rencana pembelian lebih dari 40 jet tempur JF-17. Selain itu, terdapat ketertarikan Indonesia terhadap drone Shahpar buatan Pakistan. 

Kunjungan Sjafrie ke Pakistan tersebut menyusul kunjungan Presiden Prabowo pada 8 Desember 2025. Kunjungan tersebut untuk memenuhi undangan resmi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Yang menarik, pada saat itu, pesawat kepresidenan Garuda Indonesia-1 disambut dengan istimewa sebelum mendarat. Enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan mengawal pesawat kepresidenan ketika memasuki wilayah udara Pakistan. 

Enam jet tempur JF-17 Thunder milik Angkatan Udara Pakistan mengawal pesawat kepresidenan ketika memasuki wilayah udara Pakistan. 

Baca JugaPresiden Prabowo Terima Bintang Tertinggi Pakistan, Nishan-e-Pakistan

Meski demikian, juru bicara Kemenhan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan, pertemuan Sjafrie dan Kepala Angkatan Udara Pakistan belum menghasilkan keputusan konkret.

"Pertemuan tersebut berfokus pada pembahasan hubungan kerja sama pertahanan secara umum, termasuk dialog strategis, penguatan komunikasi antar lembaga pertahanan, dan peluang kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai bidang dalam jangka panjang," kata Rico.

Kemenhan melalui keterangan pers pada Selasa (13/1/2026) menyatakan bahwa Menhan RI bertemu dengan Menhan Pakistan untuk memperkuat hubungan antara angkatan bersenjata kedua negara, khususnya dalam konteks kerja sama militer, pertukaran pandangan mengenai dinamika keamanan kawasan, serta peningkatan interoperabilitas melalui pendidikan dan latihan bersama.

Kedua menteri pertahanan membahas penguatan kerja sama pertahanan Indonesia dan Pakistan yang dilandasi Agreement on Cooperation Activities in the Field of Defence tahun 2010. Diskusi difokuskan pada peningkatan dialog strategis, kerja sama pendidikan dan pelatihan militer, pengembangan sumber daya manusia pertahanan, serta penguatan mekanisme kerja sama bilateral melalui forum Joint Defence Cooperation Committee (JDCC). 

"Pertemuan ini menjadi penegasan keseriusan kedua negara dalam melanjutkan dan memperdalam kerja sama pertahanan bilateral yang telah terbangun selama bertahun-tahun," demikian dikutip dari keterangan tertulis. 

Selain itu, Sjafrie melakukan kunjungan kehormatan atau courtesy call dengan Zaheer Ahmad Babar Sidhu, Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan. Dalam pertemuan dibahas penguatan hubungan antara TNI Angkatan Udara dan Pakistan Air Force, khususnya di bidang pendidikan, pelatihan, serta pertukaran pengalaman profesional antar personel Angkatan Udara.

"Thunder"

Pesawat JF-17 adalah jet tempur ringan yang bisa digunakan untuk serangan udara dan pertahanan udara. Jet tempur dengan sebutan "Thunder" atau Guruh itu dikembangkan dan diproduksi bersama antara Pakistan Aeronautical Complex dan Chengdu Aircraft Corporation dari China.

Oleh karena itu, Pakistan memberinya sebutan awal "JF" yang berarti "joint fighter". Sementara angka 17 merujuk pada rencana Pakistan untuk menjadikan jet tempur tersebut sebagai penerus dari F-16 yang selama ini dioperasikan Angkatan Udara Pakistan (PAF).

JF-17 memiliki bobot kosong sekitar 6.400-6.600 kilogram dengan beban lepas landas maksimum sebesar 12.474 kilogram. Jet tempur ringan yang ditenagai dengan mesin jet turbofan Klimov RD-93 buatan Rusia tersebut dapat melaju sampai kecepatan Mach 1,6 atau sekitar 1.900 km per jam.   

Untuk misi tempur, JF-17 dipersenjatai dengan meriam 23 mm atau 30 mm dan memiliki 7 buah hardpoints atau tempat untuk menggantungkan bom atau rudal di bawah sayap hingga 3.700 kg. JF-17 versi terbaru atau block III sudah dilengkapi dengan radar AESA, avionik modern, dan helmet-mounted display untuk kesadaran situasional dan kemampuan pertempuran lebih baik.

Angkatan Udara Pakistan menempatkan JF-17 sebagai pesawat yang akan menggantikan F-7P, Mirage III, dan Mirage V yang lebih tua. Terlebih, saat ini, JF-17 semakin matang dengan dibuatnya varian Block III yang lebih modern.

Proyek patungan

Jika menilik ke belakang, jet tempur JF-17 merupakan hasil dari perjalanan panjang rekayasa teknologi. Mengutip militaryupdate.net, program patungan antara China dengan Pakistan tersebut awalnya merupakan program bersama antara Chengdu Aircraft Industry Group dari China dengan Grumman Corporation dari AS.

Namun, karena perubahan situasi politik, kerja sama itu dibatalkan pada 1990. China kemudian melanjutkan program itu dengan nama FC-1 "Xiaolong" atau "Naga Ganas". Pada 1999, program itu dilanjutkan bersama dengan Pakistan hingga lahirlah JF-17. Selama fase pengembangan, biro desain Mikoyan dari Rusia disebut memberikan bantuan teknis.

JF-17 terbang perdana pada 2003. Kemudian, delapan pesawat dibangun di China untuk kemudian dikirimkan ke Angkatan Udara Pakistan pada 2008. Pada 2015, Angkatan Udara Pakistan memiliki 60 unit JF-17 yang aktif beroperasi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 135 unit pada tahun 2020 dan yang sedang dipesan sebanyak 64 unit. Angkatan Udara Pakistan diperkirakan membutuhkan sekitar 250 unit JF-17.

Bagi sebagian negara, JF-17 merupakan alternatif menarik karena harganya yang relatif rendah.

Bagi sebagian negara, JF-17 merupakan alternatif menarik karena harganya yang relatif rendah, yakni diperkirakan antara 25-30 juta dolar AS. Bandingkan dengan F-16 yang harganya sekitar 50-100 juta dolar AS, Dassault Rafale dengan harga sekitar 90-125 juta dolar AS, atau Chengdu J-10C yang harganya sekitar 40-70 juta dolar AS. Namun, patut diingat bahwa dalam beberapa hal kemampuan JF-17 memiliki keterbatasan jika dibandingkan jet-jet tempur tersebut.

Selain Pakistan, Myanmar dilaporkan membeli 16 unit JF-17 dari China. Selain Myanmar, Nigeria dan Azerbaijan juga dilaporkan mengoperasikan pesawat itu. Lantas, apakah Indonesia akan menambah daftar negara pengguna JF-17?

Pendekatan berlapis

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi berpandangan, pertemuan Menhan RI dengan Menhan Pakistan yang kemungkinan turut membahas jet tempur JF-17 adalah praktik lazim dalam diplomasi pertahanan. Penjajakan tidak otomatis berarti pembelian.  

"Itu bagian dari membuka opsi dan membaca peluang yang tersedia. Jika hasilnya positif, maka negosiasi akan dilakukan secara intensif," terangnya.

Menurut Khairul, dalam pembangunan kekuatan udara, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak lama menggunakan pendekatan berlapis dengan pembagian peran jet tempur yang jelas. Selama ini, F-16 dari AS dan Su-27/30 dari Rusia berada di lapis atas sebagai pesawat tempur utama.

Berikutnya, jet tempur Korea T-50i berfungsi sebagai lead-in fighter trainer sekaligus pesawat tempur ringan sedangkan Hawk 100/200 dari Inggris dan Super Tucano dari Brazil mengisi lapis bawah untuk tugas berintensitas rendah. Kerangka ini menjadi relevan untuk membaca kebijakan pemerintah terkait kemungkinan akuisisi alutsista saat ini. Terlebih, jet tempur Hawk 100/200 juga akan pensiun.

Baca JugaDari ”Kampret” ke ”Cocor Merah”, Pesawat Anti-gerilya Andalan TNI AU

Menurut Khairul, dalam konteks pengembangan kekuatan, Rafale dari Perancis sebagai pesawat tempur multiperan generasi 4,5 bakal diposisikan sebagai penguat kualitas dan daya tangkal jangka menengah. Di sisi lain, jika opsi JF-17 memang benar dijajaki, hal itu dapat dipahami sebagai pesawat workhorse untuk kebutuhan jangka dekat, menjaga kuantitas dan kesiapsiagaan operasional harian dengan biaya yang lebih terkendali.

Sementara itu, sambung Khairul, kerja sama pembangunan jet tempur KF-21 dengan Korea Selatan lebih tepat dipahami sebagai solusi menengah yang bersifat transisional. Adapun akuisisi jet tempur KAAN dari Turki berada pada horizon jangka panjang karena menyangkut pengembangan jet tempur generasi kelima yang masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.

"Jadi, jelas bahwa masing-masing platform ini sebenarnya berada pada kelas, fungsi, dan lini waktu yang berbeda," ujarnya.

Baca JugaJet Tempur Turki ”KAAN”, antara Penguasaan Teknologi dan Kemandirian Dalam Negeri

Meskipun langkah diversifikasi diperlukan untuk menjaga fleksibilitas dan kemandirian strategis, hal itu harus tetap dikelola dengan disiplin. Diversifikasi itu bukan sekadar soal memperbanyak jenis pesawat, melainkan memastikan setiap platform memiliki peran yang jelas agar tidak menimbulkan kompleksitas logistik yang berlebihan.

Dalam konteks ini, Khairul memandang bahwa penjajakan dengan Pakistan tidak menunjukkan perubahan arah kebijakan, melainkan melanjutkan pola pendekatan yang telah berjalan dalam membangun postur kekuatan udara TNI AU.

KOMPAS
Video Berita Kunjungan Presiden Prabowo Subianto yang disambut Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan PM Shehbaz Sharif di Nur Khan Base Airport Islamabad, Pakistan, Senin (8/12/2025) siang waktu setempat.

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diumumkan Hari Ini, Pemerintah Pede Realisasi Investasi 2025 Rp1.900 T
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Soal Pajang Tersangka di Era KUHAP Baru: KPK Setop, Kejagung Lanjut
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Bantah Gelapkan Dana, Suami Boiyen: Kalau Tidak Untung, Apa yang Mau Dibagikan?
• 11 jam lalutabloidbintang.com
thumb
KUHP Baru sebagai Cermin Cara Negara Mengelola Ketidaksetujuan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
BPOM Minta Sufor S26 Ditarik: Bentuk Kehati-hatian Meski Tak Ditemukan Racun
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.