Gejolak Global Jadi Risiko Utama, Ini Strategi Bank Mandiri Hadapi 2026

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Optimisme pelaku industri perbankan masih kuat di 2026, seiring terjaganya likuiditas dan stabilitas pemerintahan baru.

Gejolak Global Jadi Risiko Utama, Ini Strategi Bank Mandiri Hadapi 2026. Foto: IDX Channel.

IDXChannel - Optimisme pelaku industri perbankan masih kuat di 2026, seiring terjaganya likuiditas dan stabilitas pemerintahan baru. 

Head of Investor Relations Bank Mandiri, Laurencius Teiseran, optimistis 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025 yang penuh penyesuaian. Berdirinya institusi baru seperti Danantara diharapkan mampu menopang perekonomian nasional.

Baca Juga:
Performa Solid, Bank Mandiri (BMRI) Bagikan Dividen Interim Rp9,3 Triliun

Namun, dia menekankan bahwa risiko geopolitik global masih menjadi ancaman yang tidak bisa dikendalikan. Gejolak harga komoditas seperti minyak dan batu bara, serta fluktuasi nilai tukar, dapat berdampak langsung pada kinerja ekspor Indonesia.

“Risiko terbesar justru dari luar. Kita tidak bisa serta merta melihat 2026 tanpa risiko. Karena itu, Bank Mandiri tidak hanya punya Plan A, tapi juga Plan B, C, hingga D,” ujar Laurencius dalam The Fundamental IDXChannel, dikutip Kamis (15/1/2026).

Baca Juga:
Sebar Dividen Interim Rp9,3 Triliun, Bank Mandiri (BMRI): Bentuk Apresiasi kepada Investor

Pentingnya Dana Darurat Korporasi

Untuk mengantisipasi ketidakpastian tersebut, Bank Mandiri menerapkan strategi konservatif dengan menyiapkan buffer atau bantalan yang kuat, baik dari sisi permodalan maupun pencadangan (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai/CKPN).

Baca Juga:
Siap-Siap Bank Mandiri (BMRI) Bagikan Dividen Interim Rp9,3 Triliun Besok

Laurencius mengibaratkan strategi ini seperti dana darurat dalam rumah tangga. Ketika terjadi hal yang tidak terantisipasi, bank tetap memiliki daya tahan yang solid tanpa mengganggu operasional utama.

"Kita harus agile. Bulan ini mungkin optimistis, tapi Februari bisa saja ada hal baru. Makanya kita perlu punya tabungan atau buffer untuk menghadapi skenario terburuk,” kata dia.

Strategi defensif ini dikombinasikan dengan penguatan pendapatan berbasis komisi (fee-based income). Aplikasi Livin’ by Mandiri dan transaksi treasury menjadi andalan perseroan untuk menjaga pertumbuhan laba tanpa harus selalu menggerus modal seperti pada penyaluran kredit.

“Fee itu penting karena sifatnya berkelanjutan dan bebas kapital. Ini strategi kami untuk menopang pertumbuhan laba di luar pendapatan bunga,” kata Laurencius. (Nasywa Salsabila)

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gempa 5 Magnitudo Guncang Pulau Doi Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Dipasangkan di Series Yang Penting Ada Cinta, Begini Cara Marsha Aruan dan Irzan Faiq Bangun Chemistry
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Era John Herdman di Timnas Indonesia, Zaenal Arief: Kabar Baik untuk Pemain Lokal
• 18 jam lalubola.com
thumb
Realisasi Investasi RI Sepanjang 2025 Lampaui Target, Capai Rp 1.931 Triliun
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Berlakukan Tarif 25 Persen untuk Impor Chip Canggih Termasuk Produk Nvidia
• 16 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.