Nilai mata uang rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah pada 2025. Mengutip Bloomberg, rial tersebut merosot sekitar 45% terhadap dolar AS pada 2025.
Berdasarkan pantauan per hari ini (15/1), nilai 1 rial hanya 0,00 dolar AS. Mata uang rial bahkan menjadi terlemah di dunia saat ini.
Bagi masyarakat Indonesia, jika membawa rupiah ke Iran seperti memberikan keuntungan instan. Berdasarkan kalkulator Wise, Rp 1 senilai 2,49 rial. Sementara dengan menggunakan kalkulator Google maka Rp 1 senilai 63,14 rial.
Namun hal itu bukan berarti menunjukan nilai rupiah lebih tinggi dibandingkan rial. Hal ini mencerminkan anjloknya nilai mata uang Iran.
Sebab, meski memiliki nilai rial yang besar, bukan berarti daya beli di Iran makin meningkat, Sebab negara ini tengah dilanda lonjakan inflasi yang tinggi. Lemahnya mata uang negeri Persia ini juga memicu protes dengan lebih 2.400 demonstran tewas dalam dua pekan terakhir.
Lalu apa yang menyebabkan nilai rial Iran melemah?
Korupsi SistemikKrisis ekonomi yang berlangsung di Iran mencapai titik kritis pada Desember 2025. Sementara rial Iran berada di bawah tekanan selama bertahun tahun karena korupsi sistemik yang merusak kepercayaan terhadap perekonomian.
Bloomberg mengabarkan, gejolak mata uang ini diperparah oleh sistem nilai tukar bertingkat. Pemerintah Iran mensubsidi impor beberapa barang untuk entitas tertentu. Sistem ini telah memicu korupsi, menyebabkan rasa tidak puas di kalangan warga Iran.
Merosotnya nilai rial juga semakin parah setelah warga Iran mengkonversi tabungan mereka ke mata uang asing, emas, dan properti.
Tingginya InflasiMengutip Independent, Rabu (14/1), Iran sudah dilanda inflasi yang tinggi selama beberapa tahun. Namun dalam 12 bulan terakhir, tingkat inflasi di negara itu mencapai kondisi yang tak terbayangkan.
Pusat Statistik Iran mencatat inflasi melonjak dari 31,8% pada Januari 2025 menjadi 48,6% pada Oktober 2025. Sementara pada Desember 2025, angka inflasi masih berada di atas 42%.
Inflasi tahunan Iran yang berada di atas 32% menempatkan Iran berada di peringkat kesembilan sebagai negara yang mengalami inflasi tertinggi tertinggi di dunia pada 2025. Padahal sejak 2008, Iran hanya mengalami tingkat inflasi di bawah 25%.
Tekanan harga ini membuat Tabungan masyarakat dan daya beli terus merosot. The New York Times melaporkan para pemilik toko marah atas jatuhnya nilai mata uang pada 28 Desember 2025.
Didera Sanksi GlobalNine News mengabarkan nilai rial terus turun drastis karena sanksi global dan isolasi diplomatik.
Amerika Serikat pertama kali memberlakukan sanksi pada 1979. Sanksi ini diberikan dengan membekukan aset Iran senilai miliaran dolar AS.
Sanksi tersebut dicabut pada 1981, tetapi sanksi baru diberlakukan pada 1984 sebagai akibat dari perang Iran-Irak. Lalu pada 1995 sanksi juga dijatuhkan untuk merespons program nuklir Iran.
AS juga memberlakukan sanksi tambahan beberapa kali dalam dekade berikutnya. Termasuk selama kedua masa jabatan Presiden AS Donald Trump. Uni Eropa juga memberlakukan beberapa sanksi terhadap Iran selama beberapa dekade terakhir.
Saat ini, AS memberlakukan sanksi yang membatasi kerja sama dengan Iran di sektor industri persenjataan, nuklir, energi, perbankan, perkapalan, dan perdagangan.
Semua sanksi ini digunakan untuk mempengaruhi kebijakan Iran. Lalu pada akhirnya berdampak besar pada perekonomian negara tersebut.




