Jakarta: Dunia Internasional kini tengah menghadapi ketegangan politik yang tidak pasti, dan berdampak pada nilai mata uang suatu negara. Iran menjadi salah satu negara yang kini terdampak dengan anjloknya nilai mata uang yang mencapai IRR1,4 juta rial per dolar AS di pasar terbuka.
Menjadi depresiasi terendah dalam sejarah
Merujuk laporan Gulf News, penurunan nilai mata uang ini menjadi titik terendah sepanjang sejarah Iran dan menjadi penurunan tercepat dalam satu tahun di 2025.
Para pengamat pasar memperkirakan rial kehilangan sekitar 45 persen nilai uang pada 2025 dan memperpanjang angka keruntuhan yang merusak daya beli, tabungan, dan kepercayaan masyarakat kepada sistem keuangan negara. Selain itu, pada Desember 2025 kemarin, bahkan angka inflasinya hampir menyentuh 42,2 persen dan menjadi inflasi tertinggi di dunia.
Memicu gelombang protes masyarakat Iran
Pada 30 Desember 2025 lalu, terjadi demonstrasi besar-besaran di Kota Iran yang dilancarkan sekelompok masyarakat dan mahasiswa. Gelombang demonstrasi di Iran yang dipicu oleh krisis ekonomi kini meluas menjadi tuntutan kebebasan politik. Mahasiswa di berbagai kota, bergabung dalam aksi protes, dengan meneriakkan slogan anti-pemerintah seperti "Mahasiswa, jadilah suara rakyatmu" dan "Mati untuk Republik Islam".
Awalnya, protes pecah pada Minggu, 28 Desember 2025 di pusat Kota Teheran, akibat anjloknya nilai tukar mata uang Rial ke rekor terendah. Namun, cakupan aksi kini bergeser menuntut "kebebasan dan kesetaraan" serta berakhirnya kekuasaan rezim saat ini.
Laporan video dari berbagai lokasi menunjukkan kehadiran besar aparat keamanan yang dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Salah satu video yang viral memperlihatkan seorang pengunjuk rasa tunggal yang duduk di tengah jalan menghadapi barisan polisi bermotor, yang kini menjadi simbol perlawanan baru di Iran.
Merespons krisis ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menerima pengunduran diri Kepala Bank Sentral Iran pada Senin. Meskipun Pezeshkan menyatakan komitmennya untuk mereformasi sistem moneter dan memerintahkan dialog dengan perwakilan demonstran, aksi massa di jalanan belum mereda.
Baca juga: Tuduh Barat Dalang Kerusuhan, Mahasiswa Pro-Pemerintah Iran Demo Kedubes Inggris
(Protes di Iran. Foto: West Asia News Agency)
Faktor penyebab mata uang Iran anjlok
Melansir Media Indonesia, ada beberapa faktor utama yang membuat nilai mata uang Iran tersebut anjlok yang memicu protes publik, diantaranya:
1. Defisit fiskal dan risiko pencetakan uang berlebih Ketidakseimbangan antara pendapatan dan belanja negara sering kali memaksa pemerintah menutupi lubang anggaran dengan meningkatkan likuiditas. Langkah ini biasanya diantisipasi pasar sebagai pemicu inflasi tinggi yang langsung menekan nilai tukar.
2. Hilangnya kepercayaan publik dan pelarian ke aset aman Saat stabilitas ekonomi diragukan, masyarakat cenderung meninggalkan mata uang lokal dan beralih ke aset yang lebih stabil seperti dolar atau emas. Fenomena "pelarian aset" ini justru mempercepat kejatuhan nilai mata uang domestik.
3. Eskalasi risiko geopolitik Ketegangan antar negara atau ancaman konflik meningkatkan "premi ketakutan" di pasar global. Mata uang dari negara yang berada dalam pusaran konflik biasanya dianggap berisiko tinggi sehingga nilainya rentan merosot tajam.
4. Sanksi perdagangan internasional Pembatasan akses ke pasar keuangan global membuat pasokan devisa (terutama dolar) menjadi langka. Akibatnya, biaya perdagangan internasional membengkak dan nilai mata uang lokal semakin terpuruk karena sulitnya mendapatkan valuta asing.
5. Distorsi sistem mata uang yang berlapis Penerapan beberapa skema nilai tukar secara bersamaan menciptakan ketidakteraturan di pasar. Hal ini memicu praktik perburuan rente dan keuntungan sepihak bagi pihak dengan akses khusus, yang pada akhirnya menghambat efisiensi stabilisasi mata uang.
6. Struktur politik yang menghambat swasta Ketika iklim usaha tidak mendukung dan peran sektor swasta tersisihkan oleh kepentingan politik, investasi akan macet. Lemahnya daya saing ekonomi ini berkontribusi langsung pada rapuhnya fondasi mata uang nasional.
7. Inflasi yang mempengaruhi mata uang Laju kenaikan harga yang tak terkendali menyebabkan mata uang kehilangan daya belinya dengan sangat cepat. Kondisi ini membuat masyarakat enggan memegang uang tunai dalam waktu lama karena nilainya yang terus menyusut dari hari ke hari.
8. Ketidakpastian kebijakan bank sentral Perubahan mendadak pada pimpinan atau arah kebijakan moneter sering kali dianggap sebagai sinyal kepanikan pemerintah. Hal ini memicu spekulasi yang agresif di pasar valas dan meningkatkan volatilitas nilai tukar.
9. Dampak perubahan skema subsidi dan kurs preferensial Reformasi pada kebijakan subsidi harga atau pencabutan fasilitas kurs khusus bagi importir dapat memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Meskipun tujuannya adalah perubahan struktural, dampak instannya adalah tekanan besar pada stabilitas harga dan mata uang. (Shandayu Ardyan Nitona Putrahia Zebua)


