UPAYA eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterlambatan deteksi dini hingga hambatan sosial berupa stigma dan diskriminasi. Tantangan tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada kualitas hidup serta kondisi sosial ekonomi orang yang terdampak kusta dan keluarganya.
The Habibie Center memaparkan temuan awal dan gambaran umum program Developing an Alternative Model for Community-Based Early Detection and Combating Stigma of Leprosy in Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas, yang ke depan diharapkan dapat direplikasi serta diintegrasikan ke dalam kebijakan publik.
Program ini menggunakan pendekatan metode campuran dan dilaksanakan secara kolaboratif bersama Kementerian Kesehatan serta bermitra dengan organisasi non-pemerintah internasional, yakni The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation.
Baca juga : The Habibie Center: Meski Sudah Sembuh, Penderita Kusta Masih Mendapat Stigma Negatif
"Riset yang kami lakukan dengan tim belum selesai yang dilakukan 4 wilayah yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata. Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek," kata Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun Library, Jakarta Selatan, Kamis (15/1).
Ada beberapa tantangan berdasarkan observasi yang dilakukan The Habibie Center yakni permasalahan sosial, literasi pengetahuan karena banyak orang belum tahu penyakit kusta atau sudah tahu kusta tapi salah.
"Seperti di Papua banyak orang yang bergaul dengan penderita kusta tapi tidak tahu namanya. Banyak di wilayah juga tahunya kusta adalah penyakit santet, ilmu hitam, dan sebagainya," ucapnya.
Masalah stigma masih menjadi masalah bagi penderita kusta. Para penderita maupun yang sudah sembuh kerap mengalami diskriminasi, mulai dari susah mendapat kerja, dikucilkan, hingga takut balik ke masyarakat meski sudah sembuh.
"Selain persoalan diskriminasi, tantangan lainnya yakni dana yang minim dan persoalan obat yang sedikit sementara pasien sangat membutuhkan," pungkasnya. (H-3)





