Pada 13 Januari 2026, Reuters mengabarkan Indonesia dan Pakistan membicarakan potensi kesepakatan penjualan jet tempur JF-17. Tak tanggung-tanggung, sumber yang diwawancarai menyebut Indonesia tertarik memborong sekitar 40 pesawat dan pesawat nirawak.
Kabar itu beredar setelah Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Kepala Angkatan Udara Pakistan Marsekal Zaheer Ahmed Baber Sidhu di Islamabad pada 12 Januari 2026.
Akan tetapi, juru bicara Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait tak menyinggung pembelian pesawat tersebut. Dalam keterangan resminya, ia mengatakan, pertemuan belum menghasilkan keputusan konkret.
”Pertemuan tersebut berfokus pada pembahasan hubungan kerja sama pertahanan secara umum,” kata Rico (Kompas.id, 15/1/2026).
Jadi atau tidaknya kesepakatan itu, setidaknya hal ini menunjukkan industri pertahanan Pakistan mulai bergerak maju. Dalam beberapa bulan terakhir, Pakistan bernegosiasi dengan beberapa negara untuk pengadaan alat pertahanan, termasuk dengan Libya dan Sudan.
Pesawat ini juga melengkapi negara di perbatasan Eropa dan Asia Barat Daya. Pada 25 September 2025, misalnya, Presiden Republik Azerbaijan Panglima Tertinggi Ilham Aliyev menerima penyerahan pesawat tempur JF-17C (Blok-III) di Bandara Internasional Heydar Aliyev.
JF-17 adalah jet tempur multiperan ringan yang dikembangkan perusahaan asal Pakistan, Pakistan Aeronautical Complex (PAC), dan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) dari China.
Dalam situs resmi CAC, pesawat jenis ini dirancang untuk pertempuran udara. Pesawat jet ini juga punya kemampuan tempur udara-ke-darat yang kuat.
Kerja sama perusahaan kedua negara ini didokumentasikan dalam identitas pesawat. JF adalah akronim joint fighter, yakni gabungan usaha untuk mengembangkan perlengkapan tempur.
Angka 17 adalah niat Pakistan mengembangkan jet tempur baru sebagai penerus F-16. Saat ini, pesawat tempur legendaris buatan Amerika Serikat itu masih dioperasikan Angkatan Udara Pakistan (PAF).
Dalam catatan PAC, perusahaan asal Pakistan itu memegang hak eksklusif untuk 58 persen pekerjaan produksi badan pesawat (airframe). Prototipe pertama diberi nama FC-1, diluncurkan pada Mei 2003 dengan penerbangan perdana pada Agustus 2003.
PAC mencatat, terdapat lima prototipe yang digunakan untuk pengujian struktur, kualitas terbang, mesin, dan avionik. Pesawat pertama hasil produksi PAC diserahkan kepada Angkatan Udara Pakistan pada November 2009.
Jet tempur ini dirancang untuk bisa digunakan sesuai kebutuhan pertahanan dan pertempuran dari udara. PAC mencatat, pesawat dilengkapi Sistem Manajemen Persenjataan (Stores Management System) modern yang bisa membawa rudal jarak jauh aktif (70-100 km), rudal jarak pendek inframerah yang lincah, rudal anti-kapal dan anti-radiasi, hingga senjata berpemandu laser dan bom penembus landasan pacu.
JF-17 dirancang dengan panjang 14 meter, tinggi 5,1 meter, dan rentang sayap 8,5 meter. Dengan bentuk ramping seperti itu, pesawat ini mampu bermanuver pada ketinggian rendah hingga menengah. Dilengkapi mesin andal, jet ini bisa dipacu dengan kecepatan subsonik tinggi.
Kapasitas bahan bakar JF-17 adalah 5.130 lb atau setara dengan 3.000 liter. Ini adalah jumlah bahan bakar maksimal yang dapat ditampung di dalam tangki-tangki yang terintegrasi di dalam badan dan sayap pesawat (bukan tangki tambahan).
Tak hanya itu, pesawat jenis ini punya sistem pengisian bahan bakar tekanan titik tunggal (Single Point Pressure Refueling System). Teknologi ini mempersingkat waktu pemulihan pesawat di darat (turn around time) sehingga pesawat bisa segera terbang kembali untuk misi berikutnya setelah pengisian bahan bakar.
Agar pesawat ini tangguh saat digunakan dalam berbagai misi pertahanan, JF-17 dapat membawa tangki bahan bakar tambahan di luar badan pesawat (drop tanks). Ini memungkinkan pesawat digunakan untuk memperluas jangkauan terbangnya.
PAC mencatat, tangki eksternal ini terdiri dari tiga tangki. Satu tangki pusat (Centre Line Drop Tank) berkapasitas 800 liter dipasang di bawah perut pesawat. Dua tangki lainnya di bawah sayap (Under Wing Drop Tanks) berkapasitas antara 800 hingga 1.100 liter per tangki.
Penggunaan tangki eksternal ini secara signifikan menambah daya jelajah pesawat (ferry range) hingga mencapai 1.880 Nautical Miles (NM). Tangki-tangki ini disebut "drop tanks" karena dapat dilepaskan pilot saat terbang, misalnya saat akan melakukan pertempuran udara, agar pesawat menjadi lebih ringan dan lincah.
Sesuai kebutuhan tempur dan keamanan yang butuh kecepatan tinggi, pesawat tersebut juga mampu lepas landas dan mendarat pendek sangat baik. Jika kelak pemerintah Indonesia benar membelinya, jet ini akan melengkapi pesawat F-16 buatan AS, Sukhoi dari Rusia, hingga pesawat buatan Korea Selatan menjelajahi langit Nusantara.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2023%2F03%2F08%2F90c68498-227a-4885-b570-094e33bd5a7c.jpg)
