Peran Konselor Laktasi Dalam Meningkatkan Keberhasilan ASI Eksklusif

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

ASI eksklusif merupakan fondasi utama dalam pemenuhan gizi optimal bagi bayi pada enam bulan pertama kehidupan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF secara konsisten merekomendasikan pemberian ASI eksklusif karena terbukti menurunkan risiko infeksi, meningkatkan imunitas, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Namun, capaian ASI eksklusif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya pengetahuan ibu, mitos seputar menyusui, hingga keterbatasan dukungan tenaga kesehatan yang kompeten. Dalam konteks inilah, kehadiran konselor laktasi menjadi sangat krusial.

Konselor laktasi memiliki peran strategis sebagai pendamping ibu sejak masa kehamilan, persalinan, hingga periode menyusui. Mereka tidak hanya memberikan edukasi teknis mengenai posisi dan perlekatan menyusui yang benar, tetapi juga membantu ibu mengatasi masalah umum seperti puting lecet, produksi ASI yang dirasa kurang, hingga kecemasan psikologis pascamelahirkan. Pendekatan yang personal dan berbasis empati menjadikan konselor laktasi mampu membangun kepercayaan diri ibu untuk tetap memberikan ASI secara eksklusif. Dengan demikian, konseling laktasi berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan praktik menyusui.

Lebih jauh, peran konselor laktasi juga berkaitan erat dengan upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. ASI eksklusif terbukti menjadi intervensi gizi paling efektif dan terjangkau dalam menekan angka malnutrisi pada bayi. Konselor laktasi berfungsi sebagai penghubung antara kebijakan kesehatan dan praktik di lapangan, memastikan bahwa pesan-pesan ilmiah tentang pentingnya ASI dapat dipahami dan diterapkan oleh ibu serta keluarga. Dukungan ini menjadi semakin penting di tengah derasnya promosi susu formula dan informasi yang tidak selalu berbasis bukti ilmiah.

Menurut dr. Hayin Naila, selaku konselor laktasi dari HA-Medika Kendal, keberhasilan ASI eksklusif sangat dipengaruhi oleh pendampingan yang tepat sejak awal. Ia menegaskan bahwa banyak kegagalan menyusui sebenarnya bukan disebabkan ketidakmampuan ibu, melainkan minimnya informasi dan dukungan yang benar. Peran konselor laktasi adalah mendampingi, bukan menghakimi. Ibu perlu merasa aman, didengar dan diyakinkan bahwa tubuhnya mampu memberikan ASI terbaik bagi bayinya. Menurutnya, konseling yang berkelanjutan akan meningkatkan motivasi ibu untuk mempertahankan ASI eksklusif hingga enam bulan.

Sebagai kesimpulan, konselor laktasi memegang peranan penting dalam meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif melalui edukasi, pendampingan, dan dukungan psikososial yang komprehensif. Keberadaan konselor laktasi tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, penguatan peran konselor laktasi di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di masyarakat perlu terus didorong sebagai bagian integral dari strategi kesehatan ibu dan anak di Indonesia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bukan Hanya Nadiem, Ini Alasan Kejaksaan Sering Minta Bantuan TNI untuk Pengamanan Kasus Korupsi
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Soal KPK Tak Pajang Tersangka, Novel Baswedan Soroti Dalih Kemanusiaan
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Seusai Diperiksa KPK, Ono Surono Ungkap Pertanyaan Soal Aliran Dana Kasus Ade Kuswara
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
SMKN 3 Kendari Siap Suplai dan Kelola Makanan Bergizi untuk Program MBG
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Momen Haru Sidang Kasus Demo Agustus, Ayah Terdakwa Peluk Anak di PN Jakut
• 3 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.