Kisah Hotel Tjimahi: Warisan Seabad Saksi Sejarah dari Masa Kolonial

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah Kota Cimahi berdiri sebuah bangunan tua dengan papan nama sederhana: Hotel Tjimahi.

Usianya hampir satu abad, berdiri sejak 1927, dan menjadi saksi sejarah panjang kota kecil yang dulu dikenal sebagai pusat militer kolonial.

Dari perjalanan para pedagang, tentara, pejabat negara, hingga tokoh nasional seperti Ani Yudhoyono, dinding-dinding hotel itu menyimpan jejak kenangan.

Namun, hari-hari Hotel Tjimahi kini tinggal menghitung hari. Bangunan klasik itu memasuki babak akhir: dijual.

Pemilik hotel, Teresia Soetamanggala, atau akrab disapa Thea, merupakan pemilik terakhir sekaligus generasi ketiga dari keluarga pendiri.

“Saya generasi ketiga. Dari nenek, warisan jatuh ke ayah saya. Lalu ayah meninggal, ibu dan adik menyusul. Sekarang tinggal saya,” ujarnya kepada kumparan, Kamis (15/1).

Tidak ada lagi yang siap meneruskan usaha keluarga. Anak-anaknya kini menempuh jalan hidup yang jauh dari bisnis perhotelan, bahkan jauh dari daratan.

"Mereka semua diving. Ada yang jadi instruktur, ada juga yang jadi Kaprodi di UPH," katanya.

Alasan penjualan hotel bukan semata karena usia tua bangunan, melainkan tekanan ekonomi yang kian mencekam.

“PBB sekarang sudah Rp 60 juta per tahun,” kata Thea. “Dengan pengelolaan tradisional seperti ini, tanpa marketing, tanpa iklan, kami sulit bersaing dengan hotel-hotel kekinian.”

Pandemi menjadi pukulan paling berat. Diskon pajak 10 persen juga dirasa masih sulit.

“Waktu pemerintah minta tutup, kita nurut. Tapi PBB tetap harus bayar. Dari mana coba? Itu yang bikin saya menangis.”

Meski berdiri hampir seratus tahun, Hotel Tjimahi tidak berstatus cagar budaya.

“Saya tidak pernah menandatangani heritage,” kata Thea tegas.

Alasannya bukan karena enggan menjaga sejarah, melainkan karena tak ada dukungan nyata.

“Kalau ditetapkan heritage, baik. Tapi pemerintah tidak memberi apa-apa. Tidak ada insentif, tidak ada keringanan pajak. Jadi bagaimana kami bertahan?"

Penjualan hotel tersebut pertama kali ditawarkan secara terbatas beberapa tahun lalu. Tanpa papan besar atau pengumuman media, hanya melalui jaringan kenalan.

Awalnya harga dipatok Rp 66 miliar, kemudian turun menjadi Rp 45 miliar, dan kini berada di angka sekitar Rp 35 miliar. Beberapa peminat sudah menunjukkan ketertarikan, tetapi belum ada kesepakatan final.

Thea tidak menutup pintu bagi siapa pun, baik investor maupun pemerintah.

“Kalau manajemen mau diambil profesional seperti Marriot atau mana pun, saya serahkan,” ucapnya.

Thea bercerita panjang mengenai jejak-jejak perjuangan, dinamika masa transisi pemerintahan 1960-an.

Bagi Thea, menjual Hotel Tjimahi bukan sekadar transaksi aset. Ini seperti melepaskan bagian dari keluarga, kisah hidup, dan sejarah yang tak tertulis. Namun, ia juga realistis.

“Ini solusi terbaik saat ini,” ujarnya perlahan.

Bangunan tua itu masih berdiri kokoh di tengah Cimahi, seolah menunggu keputusan, akan ditumbangkan zaman, atau diselamatkan seseorang yang percaya bahwa warisan tak ternilai lebih penting daripada angka pajak dan kalkulator bisnis.

Untuk saat ini, Hotel Tjimahi tetap terbuka, bukan hanya menerima tamu, tetapi juga menawarkan kesempatan terakhir.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
[FULL] Deret Fakta Demo Rusuh di Iran hingga Tudingan Keterlibatan Amerika Serikat-Israel
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Hasil Proliga 2026, Putri: Gresik Phonska Plus Tak terbendung! Tanpa Ampun Hancurkan Runner Up Musim Lalu
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Penyidik Bantah Lakukan Kekerasan ke Ammar Zoni Cs, Tegaskan Tak Ada Setrum hingga Pemukulan
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Rapor Kevin Diks saat Monchengladbach Diremuk Hoffenheim: Tak Bermain Buruk, Tetapi Pertahanan Jebol 5 Kali
• 11 jam lalubola.com
thumb
Iran Peringatkan Bahaya Tarif AS terhadap Negara yang Berbisnis dengan Teheran
• 17 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.