Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Serang
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menyebut kain tenun atau wastra Badui memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif yang mampu menarik gerbong sektor pariwisata dan kebudayaan di Provinsi Banten. Namun, potensi tersebut dinilai perlu dikelola dengan lebih tepat dan terintegrasi.
Ia turut menekankan bahwa popularitas tenun Badui saat ini seharusnya bisa dimanfaatkan lebih jauh untuk menggerakkan sektor ekonomi lainnya.
"Tenun Badui meloncat jalan sendiri. Ini harusnya bisa dilihat secara potensi yang bisa kita jadikan lokomotif. Kalau mereka memonetisasi ini, maka pariwisata, gaya hidup, dan kebudayaan di Badui akan terkait," kata Samuel usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik di Pendopo Gubernur Banten, Serang, pada Kamis 15 Januari 2026.
Samuel menilai saat ini popularitas tenun Badui sudah sangat tinggi di kancah nasional, bahkan telah banyak digunakan oleh para perancang busana ternama. Kendati demikian, ia menyayangkan fenomena ini masih berjalan secara organik tanpa adanya intervensi maksimal dari pemerintah daerah untuk mengkapitalisasinya menjadi nilai ekonomi yang lebih luas.
Menurut pandangannya, Pemerintah Provinsi Banten belum sepenuhnya melakukan upaya jemput bola untuk memonetisasi popularitas tersebut ke dalam sebuah ekosistem pariwisata yang terpadu.
"Badui sendiri ini kan sudah eksotik sekali. Tapi tenunnya jalan sendiri. Pemerintah daerah harus membuka diri dan melakukan komunikasi yang intens untuk menjadikan ini potensi ekonomi," ujarnya.
Legislator yang juga memiliki latar belakang sebagai perancang busana ini menyarankan agar pemerintah daerah menerapkan strategi promosi yang masif. Ia mencontohkan bagaimana budaya pop asal Korea Selatan mampu menembus pasar global melalui promosi yang terstruktur.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial serta media formal untuk memberikan informasi yang konsisten mengenai potensi daerah kepada masyarakat luas agar tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri.
"Kita ketinggalan dari berbagai merek luar yang masuk ke sini karena mereka masif mempromosikan produknya. Informasi mengenai daerah kita sendiri mana? Ini harus berkolaborasi," tegasnya.
Samuel berharap ke depannya tercipta komunikasi, koordinasi, konsolidasi, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini bertujuan agar wastra Banten tidak hanya dikenal sebagai komoditas tekstil semata, melainkan menjelma menjadi ikon yang mampu mendatangkan wisatawan secara berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews





