Warga Kavling DKI Meruya Tolak Sodetan Air, Khawatir Jadi Langganan Banjir

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Warga di kawasan permukiman Jalan Kavling DKI, Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat, menolak rencana pembuatan sodetan air ke lingkungan mereka.

Penolakan tersebut dipicu kekhawatiran warga terhadap potensi banjir akibat pengalihan jalur pembuangan air dari proyek perumahan Pacific Garden Puri.

Sebagai bentuk protes, warga memasang spanduk berukuran besar di kawasan permukiman.

Spanduk tersebut menyuarakan penolakan atas rencana pengalihan aliran air yang dinilai berisiko bagi lingkungan Kavling DKI.

Ketua RT 04 RW 06 Meruya Selatan, Fajar Aridwianto, mengatakan warga tidak menolak pembangunan secara umum.

Baca juga: Sejarah Koridor 1 Transjakarta, Titik Awal Transformasi Besar Transportasi Jakarta

Namun, rencana pembuatan sodetan air ke wilayah mereka menjadi persoalan serius.

"Sebenarnya kita enggak ada masalah dengan adanya pembangunan. Hanya pada waktu mereka punya rencana untuk melakukan sodetan dari saluran ke sini, makanya kita mempersoalkannya," ucap Fajar kepada wartawan di lokasi, Kamis (15/1/2026).

Menurut Fajar, posisi tanah perumahan yang baru dibangun tersebut berada sekitar satu meter lebih tinggi dibandingkan permukiman Kavling DKI.

Kondisi ini membuat warga khawatir lingkungan mereka akan menjadi penampungan air kiriman.

"Jadi kalau aliran air masuk ke saluran RT 04, yang terjadi kita berubah dari RT yang kering jadi embung. Air pasti mengalir ke bawah," kata Fajar.

Baca juga: Sejarah dan Penyebab Tiang Monorel Jakarta Mangkrak Selama 20 Tahun

Kekhawatiran serupa disampaikan Jimmy, salah satu warga setempat. Ia menyebut dampak pembangunan sudah mulai dirasakan warga, terutama saat musim hujan.

"Sekarang lingkungan permukiman kami kebanjiran, kalau dulu enggak. Bisa sebetis orang dewasa," ungkap Jimmy.

Jimmy menjelaskan, saluran air di sepanjang jalan memang dibangun oleh Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA).

Namun, ia meragukan kapasitas saluran tersebut untuk menampung limpasan air dari perumahan yang posisinya lebih tinggi.

"Kalau umpama dibuat sodetan dari saluran air ini kemudian memaksa dibuat, ya perumahan itu datarannya lebih tinggi bila dibandingkan lingkungan kami. Jadi air imbasnya bisa ke lingkungan permukiman kami," tambah Jimmy.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Nasib Tiang Monorel Jakarta: Dibangun Rp 193 Miliar, Dibongkar Rp 254 Juta


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
CSIS Nilai Rencana Kirim 20.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza Perlu Dikaji Hati-hati
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Link Live Streaming Drawing Piala AFF 2026
• 10 jam lalubola.com
thumb
Kasus Korupsi LPEI, Kejati DKI Sita Kebun Sawit hingga Mobil Mewah
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Senegal Tundukkan Mesir 1-0, Lolos ke Final Piala Afrika 2025
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.