Bisnis.com, JAKARTA — Produsen makanan ringan Taro, PT FKS Food Sejahtera Tbk. (AISA) optimistis prospek industri makanan ringan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan luas pada tahun ini kendati dibayangi tantangan ekonomi global dan meningkatnya persaingan produk impor.
Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan penurunan 0,5 poin, dari 124 pada November 2025 menjadi 123,5 pada Desember 2025. Penurunan IKK ini mengakhiri tren kenaikan yang terjadi dalam 2 bulan sebelumnya.
Direktur Utama AISA Gerry Mustika mengatakan optimisme tersebut didorong oleh kuatnya daya tahan konsumsi makanan ringan di Indonesia. AISA menilai, di tengah tekanan daya beli, konsumen masih menjadikan snack sebagai kebutuhan yang relatif terjangkau, sehingga permintaannya cenderung stabil.
Gerry memaparkan berdasarkan data riset industri, pasar kategori extruded snack mencatatkan pertumbuhan sekitar 13%. Kinerja tersebut bahkan terlampaui oleh merek andalannya, Taro, yang berhasil membukukan pertumbuhan pasar sekitar 20% .
"Kami melihat pasar snack tetap menjadi kategori yang resilien di tengah tantangan ekonomi pada tahun ini. Dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, peluang pertumbuhan masih sangat terbuka,” ujarnya, dikutip Kamis (15/1/2026).
Terkait kompetisi dengan produk snack impor, Gerry menilai persaingan tetap sehat. Produk lokal dinilai masih unggul berkat pemahaman terhadap selera konsumen Indonesia, fleksibilitas ukuran dan harga, serta inovasi rasa yang berkelanjutan.
Baca Juga
- Produsen Taro (AISA) Bidik Segmen Keluarga Lewat Strategi Sport Tourism
- Produsen Taro FKS Food (AISA) Incar Pasar Asia untuk Tujuan Utama Ekspor
- Bidik Gen Z & Perkuat Distribusi, AISA Incar Pertumbuhan Semester II/2025
Selain itu, perseroan juga tidak menutup kemungkinan ekspansi Taro ke pasar internasional ke depan, seiring berbagai inovasi yang saat ini masih dalam tahap persiapan.
"Banyak rencana kolaborasi ini sudah kami rencanakan jauh-jauh hari dan investasinya berada dalam koridor yang kami targetkan. Kami yakin langkah ini akan membawa dampak positif dan membuat Taro semakin unggul dalam kompetisi,” imbuhnya.
Senior Brand Manager Taro FKS Food Sejahtera, Dwiki Akbar Sukmadi Candra mengatakan fokus kolaborasi perseroan saat ini bersama dengan Pokemon.
Pokemon dipilih karena memiliki kekuatan sebagai intellectual property (IP) yang legendaris dan lintas generasi.
“Kami melihat Pokemon sebagai IP yang juga legendaris. Untuk kerja sama dengan Pokemon kami telah membayar lisensi, IP Pokemon," imbuhnya.
Dalam menjangkau pasar domestik aktivasi Taro Pokemon akan diperluas ke kota-kota besar lain seperti Surabaya, Bandung, serta menjajaki peluang di kota Medan.
Berdasarkan laporan keuangan pada Kuartal III/2025, AISA membukukan laba bersih sebesar Rp70,9 miliar. Naik apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 47,3 miliar.



