Skrining Penyakit Kusta Masuk Cek Kesehatan Gratis Mulai Tahun 2026

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Temuan kasus baru penyakit kusta di Indonesia mencapai 13.000–15.000 kasus per tahun. Untuk itu, skrining masif akan dilakukan dan mulai tahun 2026 dimasukkan juga dalam program Cek Kesehatan Gratis.

Di acara talkshow dengan Yohei Sasakawa bertajuk “Mengakhiri Kusta Tanpa Stigma” di Jakarta, Kamis (15/1/2026), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bertekad menurunkan jumlah kusta di Indonesia. Saat ini, terdapat 18.000 orang dengan kusta yang diobati setiap tahun.

“Mulai tahun ini, Cek Kesehatan Gratis atau CKG kita wajibkan ada skrining kusta. Jika akibat skrining didapati ada lebih banyak penderita kusta, jangan kaget, justru bagus, agar cepat diobati. Kalau memang terjadi mutasi obat, akan disesuiakan,” kata Budi.

Baca JugaKusta, Penyakit Kuno yang Masih Mengintai Indonesia

Budi menegaskan, Indonesia berkomitmen mengeliminasi penyakit kusta. Targetnya, tidak ada kasus penderita kusta baru pada orang dewasa dalam tiga tahun terakhir dan tidak ada kasus baru pada anak dalam lima tahun terakhir.

Untuk itu, jika Indonesia mau mengeliminasi kusta pada 2030, di tahun 2026 ini seharusnya tidak ada lagi penderita kusta baru di kalangan anak-anak. Selain itu, di 2028, seharusnya sudah tidak ada lagi di kalangan dewasa.

Stigma dan diskriminasi

Namun, Budi menyadari eliminasi kusta menghadapi masalah dalam juga stigma dan diskriminasi pada penderita. “Penyakit kusta ini masih menjadi stigma di kalangan masyarakat. Penyakit ini bukan kutukan, tapi disebabkan bakteri. Memang bisa menular, tetapi penularannya susah dan lama,” katanya.

Eliminasi penyakit kusta yang dilakukan Pemerintah Indonesia mendapat dukungan dari Yohei Sasakawa, Ketua The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation yang juga Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta.

Dukungan diberikan dalam bentuk paket obat yang diminum 6 bulan atau 12 bulan. Selain itu, dukungan pendanaan untuk skrining penyakit kusta di lima daerah prioritas, yakni Bekasi, Tangerang, Brebes, Sampang, dan Jayapura.

Sasakawa mengatakan, penyakit kusta di Indonesia menjadi perhatian karena termasuk yang tertinggi di dunia setelah India dan Brazil. ”Penyakit kusta ini bukan hanya masalah medis yang bisa diobati. Masyarakat masih ada yang melihat penyakit kusta sebagai stigma kutukan, sehingga ada diskriminasi dan pengabaian hak asasi manusia. Ini juga harus  terus diatasi,” tuturnya.

Baca JugaMelawan Stigma dan Diskriminasi Penyakit Kusta

Sementara itu, Syamsul Imam, penyintas kusta pendiri komunitas Sipakatau Inklusi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, menyampaikan, untuk dapat mengatasi stigma dan diskrimansi pada penderita kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK), perlu edukasi dan sosialisasi yang melibatkan penyintas.

“Pengobatan kusta tidak hanya secara medis, namun dukungan psikologi juga penting untuk menyemangati penderita agar berobat hingga sembuh. Karena itulah, saya membuat wadah agar penyintas tetap bisa termotivasi setelah sembuh,” kata Syamsul.

Penyakit kusta ini masih menjadi stigma di kalangan masyarakat. Penyakit ini bukan kutukan, tapi disebabkan bakteri.

Syamsul menuturkan, dirinya mendapati banyak penderita kusta diabaikan, belum terjangkau pendidikan, ekonomi, dan pekerjaan. Penderita dan penyintas kusta pun mengalami depresi karena kondisi medis, stigma, dan diskriminasi.

Syamsul merupakan penyintas kusta. Ia terkena kusta di tahun 1999 saat berumur sembilan tahun dan sempat merasakan diskirminasi dari lingkungannya meskipun sudah dinyatakan sembuh setelah menjalani pengobatan selama 12 bulan.

Syamsul berharap informasi yang benar tentang kusta yang dapat disembuhkan dan tidak menular jika cepat diobati bisa tersebar luas hingga ke desa-desa, terutama daerah endemis kusta. “Bersama-sama kita harus bisa membuat citra yang baik tentang penyakit kusta agar penderita kusta tidak didiskriminasi, tetapi mendapat motivasi untuk menjalani pengobatan hingga tuntas,” katanya.

Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Guru Besar Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM Hardyanto Soebono menjelaskan, penyakit kusta termasuk dalam penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Kusta merupakan penyakit kronis menahun yang apabila tidak diobati sedari awal dapat menyebabkan cacat permanen di stadium terminal. 

Baca JugaDisabilitas Kusta Bisa Dicegah

Menurut Hardyanto, angka prevalensi penyakit kusta pada beberapa daerah masih tinggi, seperti di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Daerah Istimewa Yogyakarta angka prevalensi paling rendah, tetapi hingga saat ini masih ditemukan penyakitnya.

“Setiap bulan saya mendapat pasien baru, artinya penularan penyakit itu masih terjadi terus di masyarakat,” kata Hardyanto.

Hardyanto mengatakan, ada beberapa hal perlu diperhatikan untuk mengurangi penularan penyakit, antara lain edukasi dan deteksi dini. Selain itu, persediaan obat juga harus terus ada dan merata di seluruh daerah.

“Tidak kalah penting, masyarakat harus diajak menghilangkan stigma sosial yang menjadi salah satu penghambat pengobatan para penderita,” katanya.

Baca JugaPenyakit Kusta Masih Belum Tereliminasi di 11 Provinsi

Hardiyanto menyatakan, penyakit kusta seratus persen dapat disembuhkan apabila belum mengalami cacat permanen. Karena bentuknya yang bisa menyerupai penyakit kulit lain, gejala utama penyakit ini ditandai dengan kulit yang mati rasa.

“Tes paling gampang dengan menggunakan kapas yang dipilin, dirasakan pada bagian bercak dan sekitarnya terasa atau tidak, jika iya ada kemungkinan terindikasi,” ujarnya.

Hardiyanto meminta masyarakat tidak perlu takut dengan penyakit kusta karena kusta termasuk dalam penyakit menular yang paling lemah. Masyarakat harus cepat menyadari adanya penyakit kulit dan harus segera dikonsultasikan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Misi Militer Eropa Mulai Dikerahkan ke Greenland
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Agen ICE Kembali Lakukan Penembakan di Minneapolis, Korban Terluka
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Datangkan Fajar Fathurrahman Masih Tak Cukup! Demi Kudeta Persib Bandung, Persija Jakarta Bidik Bomber Maroko Alaaeddine Ajaraie
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Banjir di Jalur Semarang-Kendal, 9 Kereta Tujuan Jakarta Telat hingga Hampir 5 Jam
• 5 jam lalukompas.com
thumb
ICBP, INDF, AMRT Cs Jadi Jagoan Analis saat Daya Beli Lesu Masih Jadi Aral
• 18 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.