LEGENDA sepak bola Kamerun sekaligus Presiden Federasi Sepak Bola Kamerun (Fecafoot), Samuel Eto’o, dijatuhi hukuman larangan mendampingi tim dalam empat pertandingan resmi dan denda sebesar US$20.000 (sekitar Rp314 juta). Sanksi ini diberikan oleh panel disiplin Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) setelah Eto’o dinyatakan bersalah atas tindakan tidak terpuji.
Dalam pernyataan resminya, CAF menyebut Eto’o telah melanggar prinsip-prinsip sportivitas dalam laga perempat final Piala Afrika 2026 antara Kamerun dan Maroko.
Mantan penyerang Barcelona dan Inter Milan tersebut dilaporkan melakukan gestur kemarahan yang berlebihan terhadap keputusan wasit saat timnya, Indomitable Lions, takluk 2-0 dari tuan rumah Maroko di Stadion Rabat.
Baca juga : Kamerun vs Maroko: Brahim Diaz dan Saibari Bawa Atlas Lions ke Semifinal
Insiden tersebut dilaporkan terjadi di bawah pengawasan langsung Presiden CAF, Patrice Motsepe, yang juga hadir di tribun penonton.
Tidak lama setelah laga berakhir, otoritas sepak bola Afrika tersebut langsung meluncurkan investigasi terkait "konfrontasi kekerasan dan perilaku tidak dapat diterima oleh sejumlah pemain dan ofisial" selama babak delapan besar.
Perlawanan dari FecafootMenanggapi putusan tersebut, pihak Fecafoot tidak tinggal diam. Federasi sepak bola Kamerun tersebut menolak mentah-mentah sanksi CAF dan mempertanyakan kredibilitas proses persidangan yang dijalani presiden mereka.
Baca juga : Bintang Real Madrid Brahim Diaz Bawa Maroko Singkirkan Kamerun di AFCON 2025
Fecafoot menyatakan bahwa proses hukum tersebut, "Menimbulkan keraguan serius mengenai persyaratan mendasar bagi persidangan yang adil."
Sebagai bentuk loyalitas, Rabu (14/1) lalu, Fecafoot kembali menegaskan dukungan penuh mereka kepada Eto’o dan mengisyaratkan akan segera mengajukan banding atas sanksi tersebut.
Reputasi Sang Legenda dalam PertaruhanSejak terpilih menjadi Presiden Fecafoot pada 2021, perjalanan karier manajerial Samuel Eto’o kerap diwarnai ketegangan. Meski statusnya sebagai legenda sepak bola dunia tidak terbantahkan, citranya mulai tergerus oleh berbagai kontroversi dan skandal di luar lapangan.
Eto’o terus menghadapi gelombang tuduhan terkait perilaku tidak pantas, manajemen yang buruk, hingga keluhan dari para pemangku kepentingan sepak bola mengenai adanya dugaan ketidakteraturan serius di dalam internal Fecafoot.
Kendati demikian, pria yang pernah memenangkan tiga gelar Liga Champions ini selalu membantah tuduhan tersebut dan justru menonjolkan berbagai pencapaian yang telah ia raih selama memimpin organisasi.
Hukuman ini menjadi babak baru dalam hubungan yang semakin memanas antara Eto’o dan otoritas sepak bola benua Afrika, sekaligus memberikan tekanan tambahan bagi stabilitas sepak bola Kamerun di masa mendatang. (bbc/Z-1)




