Rambutan Miliaran Rupiah dari Pelosok Pakatto

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Setiap musim rambutan tiba, senyum mengembang dari warga Desa Pakkatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Salah satu pusat buah rambutan di Sulawesi Selatan “banjir” pesanan, hingga miliaran rupiah. Pendampingan, pengembangan, hingga upaya adaptasi dengan perubahan iklim menjadi kunci.

Sudah hampir satu bulan terakhir kesibukan menjelma di Desa Pakatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Warga di desa berjarak 17 kilometer dari Kota Makassar ini sibuk memanen rambutan yang memerah di kebun-kebun.

Remaja, orang dewasa, hingga yang berusia senja, sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang memanen, ada yang mengangkut dengan motor yang dimodifikasi, hingga yang bertugas mengumpulkan rambutan. Di kampung ini, rambutannya terkenal manis, dengan daging yang tebal.

Saat hari kian tinggi, Kamis (15/1/2026), misalnya, Nasrun dg Tinri (43) kian sibuk menimbang rambutan yang akan dikemas dalam boks kayu. Satu boks tersebut berisi 50 kg.

Rambutan ini dikumpulkan dari warga Desa Pakatto. Ada yang sebanyak 10 kantong, ada hingga puluhan. Hari ini, rencana ia akan mengirim sebanyak dua ton rambutan ke Pulau Buru, Maluku.

Kepada pemesan, ia mematok harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000, tergantung jumlah pesanan dan lokasi. Jika satu kilogram seharga Rp 15.000, maka nilai pengirimannya sekitar Rp 30 juta.

“Kami yang tanggung pengiriman, dan kalau ada yang rusak tidak perlu dibayar. Memang risikonya besar, tapi langganan kami sudah tahu kualitas rambutan dari sini,” tutur Nasrun.

Ia memang rutin mengirim buah rambutan selama satu bulan terakhir. Di pengecer di Kota Makassar, ia bisa mengirim sekitar satu ton setiap hari.

Ia juga rutin melayani pesanan ke Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Selebihnya adalah pengiriman ke Maluku, hingga Papua. Pelanggan tetapnya telah meminta pengiriman sejah jauh-jauh hari.

Hal itu membuat ekonomi desa juga bergeliat. Saat musim rambutan tiba perputaran uang di wilayahnya melonjak tinggi. Untuk satu orang pengepul sepertinya, bisa melayani permintaan hingga ratusan juta, bahkan lebih.

Tidak heran pendapatan masyarakat juga bergeliat. Mereka yang mempunyai lahan bisa menabung untuk pendidikan atau ibadah. Warga yang lahannya terbatas, bisa membantu proses panen hingga penjualan.

Siang itu, Junaedah (49), juga sibuk memanen rambutan di lahan miliknya. Di sekelilingnya, puluhan pohon rambutan memerah seiring buah yang memenuhi ranting. Menggunakan alat panen bertangkai yang dibuat khusus, ia memotong ranting yang dipenuhi buah itu.

“Kita potong rantingnya, lalu pakai gunting kecil potong ujung buah rambutannya, dan dimasukkan ke kantong. Satu kantong besar itu berukuran 30 kg. Tapi kami bisa isi sampai 31 kg,” kata ibu tiga anak ini.

Memanen rambutan telah ia lakukan hampir sebulan terakhir. Sejak pagi ia datang bersama suaminya, Rusli (55). Terkadang ia sendirian, atau bersama kerabat yang lain. Seiring musim rambutan yang telah tiba, buah harus segera dipanen.

Satu kilogram rambutan saat ini dihargai di kisaran Rp 9.000. Satu kantong berisi 30 kg berarti senilai Rp 270.000. Setiap hari ia bisa menyuplai pesanan rata-rata 20 kantong, atau sekitar Rp 5,4 juta.

Harga ini telah turun dibanding awal panen dahulu yang mencapai Rp 17.000 per kg. Saat masa panen besar tiba, dan produksi melimpah, harga pun anjlok.

“Yah itu kendala karena harga fluktuatif. Tapi Alhamdulillah pesanan rambutan selalu ada,” katanya.

Rambutan adalah tanaman yang ditanam Junaedah dan Rusli sejak akhir 90-an. Mereka rutin merawat, memupuk, dan membersihkan kebun. Sejak saat itu, penghasilan keluarga bertambah. Mereka bisa menyekolahkan dua anak hingga sarjana, dan satu orang masih di bangku sekolah.

“Kalau selesai musim rambutan, pasti banyak yang umroh. Sudah jadi seperti tradisi di sini,” katanya. “Tapi perawatan juga tidak sedikit, habis panen nanti kita mulai kerja lagi.”

Keberlanjutan

Desa Pakatto adalah satu dari beberapa desa penghasil rambutan di Kabupaten Gowa. Desa tetangga mereka, Desa Bili-bili, lebih dahulu menanam rambutan, lalu meluas ke desa lainnya. Tidak heran banyak orang dari daerah lain menjuluki rambutan dari daerah Gowa sebagai rambutan Bili-bili.

Kepala Desa Pakatto Basri menuturkan, tanaman rambutan di wilayahnya mulai berkembang di dekade 90-an. Setelah melihat potensi di desa tetangga, khususnya Desa Bili-bili, sejumlah warga mulai menanam rambutan di kampung ini.

Seiring waktu, hasil dari kebun warga kian menjanjikan. Rasa rambutan dari desa ini diklaim lebih unggul.

“Entah pengaruh tanahnya, atau perawatannya. Tapi memang warga menjaga tanamannya dengan baik. Akhirnya hasil juga baik dan potensi ekonomi kian melambung,” kata Basri. Hingga saat ini, dari 1.549 keluarga, ia mengklaim lebih dari 60 persen di antaranya memiliki kebun rambutan.

Setiap musim rambutan tiba, ia melanjutkan, putara ekonomi di desanya mencapai miliaran rupiah. Meski belum ada ukuran pasti, tapi ia bisa melihat dari mereka yang berangkat umroh setelah musim rambutan selesai.

Setiap tahunnya, tambah Basri, sebanyak 50 hingga 150 orang melaksanakan umroh. Nilainya mencapai miliaran rupiah. Hal itu tentu belum mencakup tabungan, hingga persiapan pendidikan anak.

“Kalau saya bilang, putaran pendapatan masyarakat minimal Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar setiap musim rambutan tiba. Karena ada yang bisa dapat puluhan juta, hingga ratusan juta per keluarga. Potensinya begitu besar,” ucapnya.

Baca JugaSenyum Warga Saat Musim Rambutan Tiba di Gowa
Baca JugaBuah Lokal Pilihan Jokowi di Pasar Berastagi
Baca JugaBuah Nusantara yang Berkelana ke Banyak Negara

Hanya saja, hal ini tentu tidak secara langsung membuat masyarakat Desa Pakatto bisa bebas dari angka kemiskinan. Data yang ada, masih ada 22 keluarga yang masuk sebagai warga miskin ekstrem, dan 30 yang termasuk keluarga miskin.

Oleh karena itu, ia berharap agar ke depannya ada pendampingan dan upaya yang lebih komprehensif. Utamanya, agar rambutan tidak sekadar menjadi tanaman musiman. Hal itu bisa dilakukan dengan adanya industri pengolahan rambutan, yang bisa menjadi berbagai produk.

“Di situ, warga kami yang tidak mampu dan tidak memiliki lahan, bisa turut andil sebagai pekerja. Akhirnya, angka kemiskinan bisa ditekan, dan rambutan kami bisa terus berkembang,” terangnya.

Akademisi dari Universitas Hasanuddin Anas Iswanto Anwar berulang kali mengingatkan bahwa potensi utama di Sulsel adalah pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan. Sektor ini yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, sekaligus penyumbang pendapatan daerah.

Idealnya, potensi di setiap wilayah terus dikembangkan hingga tahap industri. Hal itu mendorong pemberdayaan, peningkatan ekonomi, hingga pengentasan kemiskinan di wilayah masing-masing.

Dari rambutan, warga Desa Pakatto berusaha untuk tumbuh dan berkembang. Manisnya rambutan bisa jauh lebih membahagiakan dengan strategi dan pendampingan yang tiada henti.

Serial Artikel

Buah Kita Jadi Identitas Kita

Peluang ekspor buah masih menjanjikan. Indonesia saat ini mengekspor, antara lain, mangga, pisang, manggis, dan nanas ke beberapa negara, dengan tujuan ekspor terutama ke China, Hong Kong, Malaysia, dan Arab Saudi.

Baca Artikel


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Kapok, Liverpool Siap Hambur Duit Lagi, Bidik Pemain Berharga Hampir Rp2 Triliun
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Refleksi Isra Miraj, Wamenhaj ingatkan komitmen RI untuk Palestina
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Video: Pemerintah Tambah Anggaran Riset Rp 4 T
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Honorer jadi PPPK Paruh Waktu Sudah 100%, Tidak Ada Sisa
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Aksi Pelemparan Bus Trans Jatim di Gresik, Motif Pelaku Kesal karena Hampir Ditabrak
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.