Pada tahun 2016, para diplomat Amerika Serikat yang ditempatkan di Havana, ibu kota Kuba, secara beruntun mengalami sakit kepala hebat, telinga berdenging, mual, dan muntah. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai “Sindrom Havana” (Havana Syndrome).
Selama bertahun-tahun, gejala serupa dilaporkan muncul di Rusia, Tiongkok, serta beberapa negara Afrika. Pemerintah AS mencurigai bahwa insiden-insiden tersebut disebabkan oleh serangan senjata misterius milik Rusia atau Partai Komunis Tiongkok. Baru-baru ini, media Amerika mengungkap bahwa Departemen Perang AS (Pentagon) sedang menguji sebuah perangkat misterius yang dapat memancarkan gelombang radio berdenyut, yang kemungkinan berkaitan dengan insiden tersebut.
EtIndonesia. Pada 2016, para diplomat AS di Havana pertama kali melaporkan gejala seperti sakit kepala parah, pusing, telinga berdenging, mual, serta gangguan konsentrasi dan keseimbangan tubuh. Gejala-gejala ini diduga disebabkan oleh serangan suatu perangkat senjata berbasis gelombang suara, yang kemudian dikenal sebagai Sindrom Havana. Setelah itu, diplomat dan personel intelijen dari berbagai negara juga melaporkan kasus serupa.
Puluhan kejadian gangguan kesehatan yang hingga kini belum mendapat penjelasan resmi tersebut memunculkan berbagai spekulasi. Badan intelijen dan Departemen Pertahanan AS pun terus melakukan penyelidikan.
Menurut laporan CNN baru-baru ini, beberapa sumber mengungkapkan bahwa menjelang akhir masa pemerintahan sebelumnya, Departemen Pertahanan AS melalui operasi rahasia menghabiskan ratusan juta dolar untuk memperoleh sebuah perangkat terkait.
Sumber tersebut mengatakan bahwa perangkat ini menghasilkan gelombang radio berdenyut. Perangkat itu tidak sepenuhnya berasal dari Rusia, tetapi mengandung komponen buatan Rusia. Pentagon telah menghabiskan lebih dari satu tahun untuk meneliti dan menguji perangkat tersebut.
Selain itu, dalam operasi militer AS untuk menangkap Nicolás Maduro, sebuah wawancara dengan seseorang yang mengaku sebagai pengawal pribadi Maduro mengungkap bahwa militer AS saat itu menggunakan senjata serangan gelombang suara yang sangat kuat, menyebabkan mereka seketika mengalami sakit kepala luar biasa, disertai mimisan dan muntah darah, hingga tidak mampu bergerak sama sekali.
Para analis menilai bahwa militer AS kemungkinan telah menggunakan senjata gelombang suara ini dalam operasi nyata.
Sumber lain menyebutkan bahwa tantangan utama dari teknologi ini adalah bagaimana mengubah perangkat berdaya besar menjadi senjata portabel. Sejumlah pejabat memperingatkan bahwa jika teknologi ini terbukti efektif, bukan hanya satu negara yang akan memilikinya, sehingga hal tersebut menimbulkan kekhawatiran serius.
Jurnalis bidang intelijen Sasha Ingber pada Senin (12 Januari) mengatakan bahwa menurut dua sumber, pasukan khusus AS beberapa bulan lalu menyita sebuah senjata yang terkait dengan Sindrom Havana dalam sebuah operasi, dan senjata tersebut telah diuji. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa senjata itu pernah digunakan.
Meski demikian, ia menambahkan bahwa pengacara keamanan nasional AS, Mark Zaid, juga telah mengkonfirmasi bahwa pemerintah AS memang memiliki satu atau lebih perangkat semacam ini.
Laporan oleh reporter NTD Television Guo Yuexi, Amerika Serikat.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F02%2F03%2Fc678e3c23212e59e7fa4400d544761c0-478d7792_60fe_4a83_861f_29fa6b4b08ac_jpg.jpg)
