Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo di Jawa Barat tidak beroperasi normal lima bulan terakhir karena konflik manajemen. Pemda sebagai pemilik fasilitas ini belum menentukan opsi terbaik. Masa depan 711 satwa di tengah ketidakpastian.
Yayat Supriatna (53) memacu sepeda motornya dari rumahnya di daerah Cibiru menuju Bandung Zoo di pusat Kota Bandung, Kamis (15/1/2026). Udara pagi bersuhu 19 derajat Celsius tak menyurutkan tekadnya.
Ia menempuh jarak sekitar 15 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih 45 menit. Rutinitas ini tetap dijalaninya meskipun Bandung Zoo belum beroperasi normal.
Ayah dari tiga anak ini salah satu pekerja senior Bandung Zoo. Selama 34 tahun dia bertugas sebagai pawang gajah.
Sekitar pukul 07.00 WIB, Yayat telah berada di kandang gajah bernama Sarah. Dia adalah satu dari tiga pawang gajah di Bandung Zoo.
"Pagi Salma. Sudah makan belum?, " kata Yayat sambil mengelus lembut tubuh gajah betina yang telah berusia 54 tahun ini.
Salma dengan riang gembira menyambut kedatangan Yayat. Salma berulang kali menggerakkan telinganya.
Yayat pun segera memberikan makanan rumput dan sayur-sayuran ke Salma yang berasal dari Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Tak lama kemudian Yayat pindah ke kandang dari gajah lainnya bernama Ira. Gajah berusia 40 tahun ini juga berasal dari Way Kambas.
Hal yang sama dilakukan Yayat ke Ira. Setelah menyapa dan mengelus tubuhnya, Yayat segera memberikan makan Ira.
Kedua gajah ini bisa menghabiskan pakan 1,5 kuintal rumput dan 50 hingga 100 kilogram sayur dan buah-buahan.
Setelah kandang dibersihkan dan mendapatkan makan, baru Salma dan Ira bertemu dengan para pengunjung Bandung Zoo pada hari itu.
"Lumayan sulit untuk bisa sedekat dengan Salma dan Ira. Saya membangun hubungan ini dengan telaten merawat dan sering mengobrol dengan keduanya, " ungkapnya sambil tersenyum.
Yayat berharap polemik pengelolaan Bandung Zoo segera tuntas. Pemerintah Kota Bandung sebagai pemilik fasilitas ini bisa mengoperasikan kembali Bandung Zoo.
Terdapat 711 satwa dan 129 pekerja di Bandung Zoo. Adapun Bandung Zoo ditutup sejak 6 Agustus 2025.
Saya sangat senang bisa ke sini lagi, namun juga khawatir dengan kondisi Bandung Zoo. Pemerintah tolong jangan tutup tempat ini
Hal ini terjadi akibat konflik pengelolaan Bandung Zoo yang melibatkan dua kubu pengurus Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT).
Salah satu kubu yang terlibat konflik adalah pengurus manajemen YMT lama yang terdiri dari Gantira, Bisma Bratakusuma, dan Petrus Arbeny.
Adapun kubu lainnya adalah manajemen baru yang dipimpin Ketua YMT John Sumampauw dan Tressia Spanov selaku General Manager YMT.
"Sebagai pekerja, saya juga khawatir dengan masa depan kami. Harapannya secepatnya dibuka seperti biasanya, " ucap Yayat.
Bandung Zoo kini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Tempat dibuka secara terbatas dari pukul 09.00 hingga 14.00.
Pengunjung tidak perlu membeli tiket namun diminta hanya membawa donasi untuk pakan satwa dan uang sesuai kemampuan masing-masing.
Dari pantauan Kompas pada Kamis kemarin, pengunjung tidak hanya melihat satwa-satwa di Bandung Zoo. Mereka menggelar tikar dan makan bersama atau biasa disebut botram di area Bandung Zoo.
Sejak awal Januari, rata-rata jumlah kunjungan mencapai 1.000 hingga 2.000 orang per hari. Mereka datang dari wilayah Bandung Raya serta kabupaten kota di Jawa Barat.
Utari (17) dan kakaknya Natri (25) termasuk di antara ribuan pengunjung hari itu. Keduanya datang ke Bandung dengan angkutan umum dari rumahnya di Kota Cimahi.
"Saya sangat senang bisa ke sini lagi, namun juga khawatir dengan kondisi Bandung Zoo. Pemerintah tolong jangan tutup tempat ini, " harapnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, pemerintah tengah membahas masa depan Kebun Binatang Bandung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat. Pembahasan tersebut menyangkut konsep pengelolaan hingga fungsi kawasan kebun binatang ke depan.
Farhan menyebut terdapat tiga opsi yang tengah dikaji bersama. Opsi pertama mempertahankan kebun binatang seperti kondisi saat ini.
Opsi kedua mengembangkan taman margasatwa dengan jumlah satwa lebih sedikit namun memperluas ruang terbuka hijau. Sementara opsi ketiga adalah menjadikan kawasan tersebut sepenuhnya sebagai ruang terbuka hijau.
“Opsi kedua dan ketiga ini sejalan dengan target kita untuk meningkatkan ruang terbuka hijau Kota Bandung hingga dua kali lipat,” ungkap Farhan.
Ia menegaskan, selama proses pembahasan berlangsung, Bandung Zoo tetap berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang dapat diakses masyarakat dengan tetap mematuhi aturan yang berlaku.
“Sekarang tetap menjadi ruang terbuka hijau untuk publik yang di dalamnya ada satwa-satwa dilindungi. Masyarakat masih bisa berkunjung selama mengikuti peraturan keluar-masuk,” katanya.
Meskipun Bandung Zoo berada dalam situasi tak menentu, Yayat dan ratusan pekerja tetap giat bekerja. Bagi mereka, 711 satwa ini adalah ananah yang harus dijaga selamanya.
Mereka berharap ada solusi secepatnya dan berkeadilan demi keberlangsungan satwa, para pekerja dan masa depan Bandung Zoo sebagai tempat konservasi dan hiburan masyarakat.
Serial Artikel
Serunya Safari Malam dan Pengamatan Burung di Way Kambas
Wisata di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, dikembangkan dengan konsep konservasi yang mengedepankan keberlanjutan. Ada wisata malam hingga pengamatan burung.





