Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, compassion (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah compassion adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita.
Pemahaman ini tampak masuk akal. Berbagai penelitian dalam psikologi positif mendukung gagasan bahwa altruisme dan perilaku menolong berkaitan dengan kebahagiaan dan kesehatan. Orang yang meluangkan waktu, tenaga, atau sumber daya untuk membantu orang lain cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Beberapa studi longitudinal bahkan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas relawan berkorelasi dengan penurunan risiko kematian, terutama ketika motivasinya benar-benar altruistik—yakni ingin membantu orang lain, bukan sekadar mencari manfaat pribadi.
Singkatnya, menolong orang lain memang baik, bukan hanya secara moral, tetapi juga secara psikologis dan biologis.
Namun, di titik inilah muncul sebuah ironi.
Di balik semua narasi indah tentang compassion, kita sering menjumpai paradoks yang mengganggu:
Fenomena ini muncul pada aktivis sosial, pekerja kemanusiaan, guru, tenaga kesehatan, pemuka agama, terapis, relawan, bahkan orang tua yang berjuang keras demi keluarganya.
Secara publik mereka terlihat heroik, tetapi secara personal mereka rapuh. Ada kelelahan kronis, kepahitan, bahkan kemarahan tersembunyi yang tidak sejalan dengan citra moral yang mereka pegang.
Mengapa bisa demikian?
Fenomena ini mengajak kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah compassion benar-benar berawal dari moralitas?
Ataukah compassion justru harus berakar pada kondisi tubuh (bodily state) yang teregulasi, sebelum berkembang menjadi nilai, niat, dan tindakan?
Seyogyanya, compassion terlebih dahulu harus mampu menjalankan fungsinya dalam meregulasi tubuh. Barulah kemudian ia dapat berkembang menjadi tindakan moral yang sehat dan berkelanjutan.
Compassion seharusnya berakar pada fisiologi sebelum berkembang menjadi aturan etika.
Sebelum menjadi nilai, niat, dan tindakan, compassion perlu bermula sebagai kondisi sistem saraf yang teregulasi di dalam tubuh.
Ketika compassion terintegrasi di tingkat tubuh, tubuh akan:
Memperoleh rasa aman yang benar-benar dirasakan (felt sense of safety);
Mengaktivasi sistem saraf parasimpatetis, khususnya sistem ventral vagal, yang pada gilirannya membuat napas lebih lembut, otot lebih rileks, dan ritme jantung lebih stabil;
Memiliki kapasitas untuk tetap hadir bersama penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain—tanpa perlu kolaps atau bereaksi secara agresif.
Dalam kondisi ini, compassion muncul secara alami. Ia tidak dipaksakan. Tubuh pun cukup teregulasi untuk menghadirkan keterbukaan.
Compassion yang bersifat moralitas semata tanpa melibatkan regulasi tubuh akan berubah menjadi kewajiban.
Ketika compassion diperlakukan hanya sebagai tindakan moral—sesuatu yang seharusnya dilakukan—ia sering kali berujung pada:
Kepahitan dan kelelahan; serta
Superioritas moral atau agresi tersembunyi.
Bukan karena compassion itu keliru, melainkan karena ia dipaksakan tanpa integrasi pada level tubuh.
Tubuh yang terdisregulasi namun dipaksa menjalankan compassion secara moral sering kali memunculkan:
Mudah tersinggung;
Mati rasa secara emosional;
Inkonsistensi (ramah pada orang asing, keras pada orang terdekat);
Keterbelahan antara “kebaikan publik” dan “kepahitan privat”.
Dalam situasi seperti ini, compassion sesungguhnya digerakkan oleh tekanan superego, bukan oleh kapasitas yang benar-benar terwujud di dalam tubuh.
Ketika compassion hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, kita tidak sedang “memutuskan” untuk berwelas asih. Kita mendapati diri kita merespons dengan kepedulian.
Hal ini menyerupai cara seorang ibu atau pengasuh yang tenang secara alami menenangkan bayi yang menangis—bukan karena pertimbangan moral, melainkan karena sistem sarafnya mampu melakukan regulasi bersama antara pengasuh dan bayi.
Kehadiran hormon oksitosin, aktivitas sistem vagal, dan kemampuan mengamati pengalaman tubuh (meta-awareness) berperan sangat penting di sini.
Compassion muncul ketika tubuh:
Merasa berdaya;
Merasa terhubung; dan
Tidak sedang kewalahan.
Baru setelah compassion hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, ia dapat diekspresikan menjadi tindakan atau etika yang nyata ke luar.
Jika compassion tidak dapat diakses secara internal pada level tubuh, ia tidak akan berkelanjutan secara eksternal.
Orang-orang yang kekurangan self-compassion yang terwujud di dalam tubuh sering kali:
Hanya mengetahui “kata-kata yang benar”, dalam arti mampu mengajarkan atau mengkhotbahkan compassion;
Namun tetap keras, tidak sabar, atau menghukum diri sendiri dan orang-orang terdekat.
Penting untuk diingat: ini bukan kemunafikan, melainkan keterbatasan sistem saraf. Ini bukan kegagalan moral.
Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemikiran kognitif untuk menuju ke compassion jika tubuh belum belajar mengenali rasa aman yang menyertainya.
Ini adalah proses internalisasi nilai.
Compassion sebagai moralitas baru dapat hadir ketika ia telah berakar di dalam tubuh.
Tindakan moral yang lahir dari kondisi tubuh yang penuh compassion:
Tidak bersifat reaktif;
Tidak digerakkan oleh ego; dan
Lebih selaras dengan realitas.
Dengan demikian, etika dan moralitas seharusnya menunggangi fisiologi tubuh—bukan sebaliknya.
Bagi mereka yang bekerja dalam bidang pengasuhan, kepemimpinan spiritual, atau kerja kemanusiaan, compassion tanpa regulasi tubuh berisiko menciptakan luka.
Karena itu, pelatihan compassion seharusnya mencakup:
Literasi sistem saraf;
Praktik somatik;
Pengalaman rasa aman, relaksasi, dan kemampuan regulasi bersama; serta
Belajar merasakan sebelum belajar bertindak.
Di sinilah power of tracking menjadi sangat penting, yaknibkemampuan untuk mengamati:
Apa yang sedang dipikirkan (thoughts);
Apa yang sedang dirasakan (emotions); dan
Sensasi tubuh (bodily sensations) yang menyertai keduanya.
Singkatnya, compassion tidak seharusnya dipahami semata sebagai kewajiban moral yang harus dicapai, melainkan juga sebagai kondisi tubuh (bodily state) yang teregulasi. Hanya dari kondisi inilah seseorang mampu tetap terbuka terhadap penderitaan tanpa harus mengeras ataupun berpaling.
Hanya ketika compassion hidup terintegrasi di dalam tubuh, ia dapat berkembang menjadi moralitas, tindakan, dan tanggung jawab—tanpa membakar orang yang membawanya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4961236/original/026940300_1728200621-Thom_Haye.jpg)