NAMA seorang ilmuwan Indonesia kini resmi tercatat dalam katalog benda langit dunia. International Astronomical Union (IAU) melalui Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN) menetapkan nama (752403) Bayurisanto = 2015 PZ₁₁₄ sebagai nama sebuah asteroid, sebagai bentuk penghargaan ilmiah internasional.
Penamaan tersebut diberikan kepada Christoforus Bayu Risanto, SJ, seorang imam Yesuit asal Indonesia yang dikenal aktif dalam riset meteorologi dan ilmu atmosfer. Informasi ini dilansir dari laman Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara.
Penghargaan Ilmiah Bertaraf InternasionalDalam dokumen resmi WGSBN Bulletin, dijelaskan bahwa Christoforus Bayu Risanto (lahir 1981) merupakan peneliti yang berfokus pada peningkatan akurasi prakiraan cuaca. Ia mengembangkan pendekatan yang menggabungkan model fisik atmosfer dengan teknik data assimilation, terutama untuk wilayah yang memiliki keterbatasan data observasi cuaca.
Sebagai lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara tahun 2007, Bayu Risanto memanfaatkan data kelembapan atmosfer dari GPS meteorology yang dikombinasikan dengan data konvensional dari stasiun cuaca. Pendekatan ini dinilai penting untuk meningkatkan ketepatan prediksi cuaca, khususnya di wilayah tropis.
Berkiprah di Observatorium VatikanPengakuan internasional ini semakin bermakna karena Bayu Risanto saat ini merupakan bagian dari Vatican Observatory (Specola Vaticana), salah satu lembaga riset astronomi tertua di dunia yang masih aktif dan berada di bawah naungan Tahta Suci Vatikan.
Kehadirannya di observatorium tersebut menandai kontribusi ilmuwan Indonesia dalam komunitas ilmiah global, sekaligus menunjukkan keterlibatan Gereja Katolik dalam dialog aktif dengan sains modern.
Latar Belakang Akademik MultidisiplinerBerdasarkan laman resmi Vatican Observatory, Bayu Risanto menempuh pendidikan lintas disiplin yang mencakup sains, meteorologi, dan teologi. Ia meraih gelar doktor (Ph.D.) di bidang Atmospheric Sciences dari University of Arizona, Amerika Serikat, dengan fokus pada numerical weather prediction dan pemodelan cuaca ekstrem.
Latar belakang ini menjadikannya sosok unik: seorang imam yang sekaligus berkiprah sebagai ilmuwan, bekerja di persimpangan antara iman, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Penelitian Bayu Risanto memiliki relevansi tinggi bagi negara-negara tropis seperti Indonesia, yang masih menghadapi tantangan besar dalam prakiraan hujan, banjir, dan cuaca ekstrem. Karyanya berkontribusi pada pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat dan berbasis data mutakhir.
Pendekatan ilmiah ini dinilai penting untuk mendukung mitigasi bencana dan perencanaan kebijakan berbasis sains.
Tradisi Penamaan AsteroidDalam tradisi astronomi internasional, penamaan asteroid kerap digunakan untuk menghormati ilmuwan, tokoh budaya, maupun figur religius yang dianggap berjasa bagi kemanusiaan. Dalam daftar yang sama, tercantum pula nama-nama seperti Faustina, Ledochowska, dan Alabiano, yang merujuk pada tokoh religius dan intelektual lintas zaman.
Masuknya nama Bayurisanto dalam katalog asteroid menempatkan ilmuwan Indonesia ini sejajar dengan figur-figur dunia yang kontribusinya diakui secara global.
Asteroid yang kini menyandang nama Bayurisanto tidak hanya menjadi simbol pencapaian personal, tetapi juga representasi kontribusi Indonesia dalam sejarah sains dunia. Penghargaan ini menunjukkan bahwa kerja ilmiah yang dilakukan secara tekun dan berorientasi pada pelayanan dapat memperoleh pengakuan universal.
Sumber: Ikatan Keluarga Alumni Driyarkarya.



