REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis akan meningkatkan kehadiran militernya di Greenland dalam beberapa hari mendatang, kata Presiden Emmanuel Macron pada Kamis (15/1/2026). Hal itu seiring niatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump yang terus meningkatkan tekanan dalam upayanya untuk mencaplok wilayah Denmark tersebut.
"Tim awal tentara Prancis sudah berada di lokasi dan akan diperkuat dalam beberapa hari mendatang oleh aset darat, udara, dan laut," kata Macron kepada para petinggi militer selama pidato tahun barunya kepada angkatan bersenjata dikutip dari Politico.
- Rusia Manfaatkan Terminal Satelit Starlink Operasikan Drone BM-35 Serang Ukraina
- Pertama Kalinya China Akui Chengdu J-10CE Kalahkan Jet Tempur Rafale India
- Bagian Pinjaman, Pakistan Tawarkan Jet JF-17 Thunder ke Arab Saudi
"Prancis dan Eropa harus terus hadir, di mana pun kepentingan mereka terancam, tanpa eskalasi, tetapi tanpa kompromi dalam menghormati kedaulatan teritorial," tambahnya berbicara di Istres, pangkalan udara di selatan Prancis yang menampung pesawat tempur berkemampuan nuklir.
Pada Rabu (14/1/2026), beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia mengatakan, mereka akan mengirim pasukan ke Greenland untuk berpartisipasi dalam latihan militer Denmark. Hal itu dilakukan di tengah ancaman berulang kali oleh Trump bahwa AS dapat menggunakan kekuatan untuk merebut pulau tersebut. Setelah pertemuan di Gedung Putih, Washington DC pada Rabu, Denmark dan Greenland “masih memiliki perbedaan pendapat mendasar” dengan AS, kata pemerintah Denmark.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dalam sindiran yang jelas terhadap Trump, yang tidak ia sebut namanya, Macron mengkritik "kolonialisme baru yang sedang berlangsung di antara beberapa pihak." Dia menegaskan, Eropa memiliki kemampuan untuk mengurangi ketergantungan pada AS, dan mengungkapkan bahwa dua pertiga kemampuan intelijen Ukraina kini disediakan oleh Prancis.
Dalam pidatonya kepada Kabinet pada Rabu, Macron memperingatkan, jika AS merebut Greenland dari Denmark, hal itu akan memicu gelombang konsekuensi "yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata seorang juru bicara pemerintah.
ABC News melaporkan, Trump kembali mengatakan 'kita membutuhkan Greenland' setelah pejabat Denmark menguraikan 'ketidaksepakatan mendasar'. Macron menambahkan bahwa tentara Prancis akan "diperkuat" oleh aset darat, laut, dan udara "dalam beberapa hari mendatang." Macron mengatakan orang-orang sekarang hidup di dunia "di mana kekuatan yang meng destabilisasi telah bangkit," dan Eropa sekarang memiliki "pesaing yang tidak mereka duga."
Kamis, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Belanda mengumumkan akan mengirim seorang perwira angkatan laut ke Greenland "untuk memetakan opsi untuk latihan bersama di wilayah Arktik. Berdasarkan pengintaian, latihan tersebut akan direncanakan dan diorganisasi lebih lanjut," kata juru bicara Kemenhan Belanda.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan, negaranya tidak akan berpartisipasi dalam latihan tersebut, tetapi mengatakan intervensi AS di Greenland akan menjadi "bencana." "Maksud saya, konflik atau upaya untuk mengambil alih wilayah negara anggota NATO, oleh negara anggota NATO lainnya, dan terlebih lagi, itu adalah Amerika Serikat, nah, itu akan menjadi akhir dunia seperti yang kita kenal, yang telah menjamin keamanan kita selama beberapa dekade," katanya.




