Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menyebut alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan untuk program penanganan stunting di Kota Yogyakarta meningkat dari Rp100 juta pada 2025 menjadi Rp120 juta untuk tiap kalurahan atau kelurahan pada tahun 2026. Pernyataan itu disampaikan Eko Suwanto dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Strategi Atasi Stunting, Kamis (15/1).
“PDI Perjuangan berkomitmen penuh untuk mendorong kebijakan pembangunan benar-benar dialokasikan untuk program pro rakyat. Termasuk penurunan angka stunting. Selamat, ini semua berkat kerja keras ibu dan bapak semuanya,” kata Eko dalam rilis yang dikutip Sabtu (17/1).
Anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Kota Yogyakarta itu menjelaskan, dukungan kebijakan di tingkat kelurahan antara lain mengacu pada Perda Nomor 3 Tahun 2024 tentang Pemajuan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan dan Kelurahan serta Perdais Nomor 1 Tahun 2024 tentang Kelembagaan. Menurutnya, penguatan kelembagaan di tingkat kelurahan perlu segera dilakukan.
“Penguatan Kelembagaan di tingkat Kelurahan ini mutlak wajib dilakukan, salah satunya dengan mendorong segera dilakukan perubahan Perda Perangkat Daerah di Kota Yogya.
Ke depan, perlu segera dibentuk Kelurahan sebagai Organisasi Perangkat Daerah, tujuannya agar APBD DIY khususnya Dana Keistimewaan dapat dialokasikan secara maksimal di tingkat Kelurahan melalui BKK Kota Yogyakarta. Selama ini Lurah dan jajaran sebagai unsur staf Kemantren (Kecamatan) memiliki keterbatasan kewenangan dalam mengelola anggaran di Kelurahan,” ujar Eko.
Paniradya Keistimewaan DIY, Kurniawan, menyampaikan apresiasi terhadap kinerja lurah dan perangkat di Kota Yogyakarta dalam pelaksanaan dan pelaporan kegiatan penanganan stunting yang pada 2025 dialokasikan sebesar Rp100 juta.
“Terima kasih atas dedikasi dan disiplin jalankan program pemberdayaan masyarakat. Hasilnya angka stunting turun di Kota Yogyakarta. Selamat atas kerja keras bapak ibu Lurah juga tim pendamping sehingga prevalensi stunting menurun signifikan,” kata Kurniawan.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menyebut pendampingan rutin dan intervensi terhadap kasus stunting serta ibu hamil dengan anemia terus dilakukan di tingkat kemantren.
“Kita rutin dampingi dan lakukan intervensi kasus stunting dan ibu hamil yang alami anemia. Alhamdulillah angka stunting di Yogyakarta turun dari 12 persen menjadi 8,6 persen. Ini hasil kerja kita semua,” ujar Aan.



