Sejumlah ekonom memproyeksikan inflasi pada akhir 2025 akan terkerek naik signifikan. Kenaikan indeks harga konsumen (IHK) ini dipengaruhi oleh faktor musiman yang selalu terjadi setiap akhir tahun.
“Ini sejalan dengan pola musiman permintaan yang lebih kuat pada akhir tahun,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Katadata.co.id, Jumat (2/1). Ia memproyeksikan, inflasi umum akan naik dari 0,17% menjadi 0,48% secara bulanan pada Desember 2025.
Inflasi inti juga diperkirakan akan naik dari 0,17% menjadi 0,28% secara bulanan pada Desember 2025. Lalu secara tahunan diperkirakan inflasi inti pada Desember 2025 mencapai 2,67%.
Inflasi komponen bergejolak diperkirakan akan meningkat. “Ini mencerminkan tekanan permintaan musiman serta gangguan pasokan akibat bencana alam di Aceh dan Sumatera serta kondisi cuaca ekstrem di beberapa pusat produksi,” ujarnya.
Namun, tekanan ini diperkirakan akan sebagian terimbangi oleh deflasi pada harga yang diatur pemerintah. Hal ini seiring dengan diskon tarif di berbagai moda transportasi selama periode liburan Natal dan Tahun Baru.
“Inflasi akan tertekan termasuk karena diskon 20% untuk transportasi laut, 30% untuk kereta api, 13–14% untuk transportasi udara,” kata Josua.
Kepala Ekonom Bank Central Asia David E Sumual memproyeksikan inflasi umum pada Desember 2025 mencapai 2,97% secara tahunan dan 0,69% secara bulanan. Sedangkan inflasi inti mencapai 2,39% secara tahunan dan 0,21% secara bulanan.
Inflasi pada akhir 2025 didorong oleh efek musiman harga bahan pangan. “Ini terutama daging, telur ayam, dan bawang,” ujar David.
Untuk inflasi inti, David mengatakan angkanya masih naik didorong harga emas yang melonjak signifikan. Di sisi lain, harga bahan bakar minyak alias BBM Pertamax yang naik juga mendorong administered price.



