Hawa dingin menyertai langkah ratusan warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, yang bergerak menuju makam leluhur mereka di lereng Gunung Sumbing, Jumat (2/1/2026) pagi. Hari itu mereka kembali menjalani tradisi Rejeban Plabengan yang merupakan salah satu agenda wajib bagi warga setempat.
Mereka membawa bermacam makanan dan buah-buahan yang mereka tempatkan di wadah berupa tenong. Sebagian warga juga mengusung tumpeng yang akan disantap bersama.
Tradisi Rejeban Plabengan digelar setiap bulan Rajab dalam kalender Hijriah. Selain sebagai wujud syukur, acara ini juga untuk menghormati arwah leluhur.
Warga sepakat untuk terus melestarikan tradisi tersebut. Rejeban Plabengan juga menjadi simbol semangat gotong royong warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu.
Selain berdoa bersama di makam Ki Ageng Makukuhan, acara penting lainnya dalam tradisi ini adalah bersantap bersama sebagai lambang kebersamaan.
Tradisi ini juga diisi dengan ritual jamasan kuda lumping dan ditutup dengan pentas atraksi kesenian kuda lumping. Hal ini sebagai salah satu wujud doa untuk memohon keselamatan.
Melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat Dusun Cepit tidak hanya menjaga relasi dengan arwah para leluhur, tetapi juga menjaga keharmonisan mereka dengan alam sekitar.



