Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pemerintah Jepang menyoroti peluncuran rudal balistik terbaru Korea Utara yang dinilai memiliki lintasan penerbangan tidak beraturan, sebuah pola yang dianggap berpotensi meningkatkan ancaman terhadap keamanan kawasan Asia Timur.
Pemerintah Jepang menyoroti peluncuran rudal balistik yang dilakukan Korea Utara pada 4 Januari 2026. Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan terdapat indikasi bahwa rudal-rudal tersebut terbang dengan pola lintasan yang tidak beraturan, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius terkait keamanan regional.
Dalam konferensi pers yang digelar sekitar pukul 10.00 waktu setempat, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengungkapkan bahwa Korea Utara meluncurkan sedikitnya dua rudal balistik ke arah timur dari wilayah dekat pantai barat negara tersebut. Peluncuran itu terjadi dalam rentang waktu antara pukul 07.00 hingga 08.00 pagi.
Menurut Koizumi, kedua rudal diperkirakan jatuh di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang. Hingga saat ini, otoritas Jepang memastikan tidak ada laporan kerusakan maupun dampak terhadap kapal atau pesawat sipil yang beroperasi di wilayah tersebut.
Koizumi merinci, rudal pertama diluncurkan pada pukul 07.54 dengan ketinggian maksimum sekitar 50 kilometer dan jarak tempuh kurang lebih 900 kilometer. Sementara rudal kedua ditembakkan sekitar 11 menit kemudian, tepatnya pukul 08.05, dengan karakteristik ketinggian serupa dan jarak terbang yang diperkirakan mencapai 950 kilometer.
“Berdasarkan analisis awal, terdapat kemungkinan bahwa rudal-rudal tersebut menggunakan lintasan yang tidak beraturan. Saat ini kami masih melakukan pendalaman lebih lanjut untuk memastikan karakteristik penerbangannya,” ujar Koizumi.
Pola lintasan semacam ini menjadi perhatian khusus karena dinilai dapat menyulitkan sistem pertahanan misil dalam mendeteksi dan mencegat rudal. Jepang mencatat bahwa Korea Utara sebelumnya juga melakukan uji coba serupa. Pada 8 Mei tahun lalu, pemerintah Jepang menilai salah satu rudal yang diuji memiliki kemiripan dengan rudal balistik jarak pendek KN-23, yang dikenal memiliki kemampuan manuver tinggi.
Menteri Pertahanan Jepang saat itu, Gen Nakatani, menyebut Pyongyang tengah mengembangkan teknologi rudal yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara modern. Otoritas militer Korea Selatan juga mengungkapkan bahwa uji coba sebelumnya melibatkan kombinasi rudal KN-23 yang oleh Korea Utara disebut Hwasong-11ga—serta KN-25, peluncur roket super besar berdiameter 600 milimeter.
Menanggapi peluncuran terbaru, pemerintah Jepang menyampaikan kecaman keras. Koizumi menegaskan bahwa rangkaian uji coba rudal Korea Utara merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan Asia Timur, serta komunitas internasional, sekaligus melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Sebagai langkah diplomatik, Jepang telah menyampaikan protes resmi kepada Korea Utara melalui jalur diplomatik di Beijing. Kedepan, Jepang berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan, khususnya dalam pertukaran informasi, pemantauan, dan analisis ancaman.
Koizumi menilai, pengembangan rudal oleh Pyongyang menunjukkan upaya memperkuat kemampuan pencegahan nuklir dengan mengombinasikan senjata nuklir dan sistem rudal balistik, sekaligus mempersiapkan skenario konflik dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Peluncuran ini tercatat sebagai yang pertama dalam sekitar dua bulan terakhir sejak November, sekaligus menjadi provokasi rudal pertama Korea Utara pada tahun 2026.



