JAKARTA, KOMPAS — Natal menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa Indonesia merupakan bangsa yang rukun dan harmonis di tengah kemajemukan. Kerukunan dan keharmonisan itu harus terus dijaga, terutama di kalangan elite, untuk membangun persatuan. Sebab, persatuan adalah syarat utama untuk mewujudkan negara yang maju dan sejahtera.
Pentingnya membangun kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Stadium, Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/1/2025) malam. Acara tersebut dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Hampir seluruh menteri Kabinet Merah Putih turut hadir, antara lain Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman yang juga Ketua Panitia Natal Nasional 2025. Hadir pula Ketua DPD Sultan B Najamudin, Gubernur Jakarta Pramono Anung, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Utusan Presiden untuk Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, dan Duta Besar Palestina untuk RI Zuhair Al-Shun.
Para pimpinan dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia, Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili Indonesia, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Bala Keselamatan, Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), dan Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), juga hadir. Begitu juga perwakilan guru agama Kristen dan Katolik, murid Sekolah Minggu, dan kaum disabilitas.
Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, multietnis, multiras, multiagama, dan multibudaya. Kendati demikian, masyarakat masih bisa bersatu di tengah berbagai keberagaman karena memiliki tujuan yang sama. Sejak didirikan oleh para pendiri Republik, bangsa Indonesia sama-sama ingin meraih kehidupan yang baik dan sejahtera bersama-sama.
Kehidupan bangsa yang sejahtera, kata Prabowo, jelas bisa diwujudkan. Sebab, Indonesia merupakan negara besar yang memiliki kekayaan melimpah. Hanya saja, seluruh kekayaan itu harus dikelola dengan baik oleh seluruh elemen bangsa.
Pakar-pakar geopolitik mengatakan, Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa keempat terkaya di dunia. Tapi ada syaratnya, apa? Syaratnya adalah apabila Bangsa Indonesia bisa bersatu. Syaratnya terutama apabila elitenya bisa bekerja sama.
Oleh karena itu, sejak dilantik sebagai Presiden ke-8 RI Oktober 2024 lalu, Prabowo membentuk kabinet yang terdiri dari berbagai kalangan, tidak terkecuali dari lawan politiknya. Menurut dia, persatuan dan kesatuan untuk membangun bangsa lebih penting ketimbang mengedepankan perbedaan. Apalagi, kajian banyak pakar dunia menunjukkan bahwa negara yang berhasil membangun kesejahteraan adalah negara yang mampu menyatukan kelompok elitenya.
“Pakar-pakar geopolitik mengatakan, Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa keempat terkaya di dunia. Tapi ada syaratnya, apa? Syaratnya adalah apabila Bangsa Indonesia bisa bersatu. Syaratnya terutama apabila elitenya bisa bekerja sama,” tutur Prabowo.
Menurut Prabowo, kesediaan untuk bersatu di tengah perbedaan juga diperkuat oleh nilai agama. Dalam ajaran Nasrani, seseorang diminta untuk memberikan pipi kanan ketika pipi kirinya dipukul. Artinya, manusia harus bersedia untuk saling memaafkan jika ada permasalahan di masa lalu demi membangun masa depan bersama.
Oleh karena itu, Presiden menekankan bahwa perayaan Natal Nasional 2025 ini merupakan momentum untuk menegaskan kembali persatuan di antara seluruh masyarakat Indonesia. Persatuan itu juga tidak berarti seluruh pihak harus memiliki pandangan dan mengambil sikap politik yang sama.
Ia juga mempersilakan jika ada partai politik yang berada di luar pemerintahan ataupun pihak yang konsisten mengkritik pemerintah. Bagaimana pun, pemerintah membutuhkan kritik untuk menjaga agar kebijakannya selalu berpihak pada rakyat.
“Kalau dikritik saya bersyukur karena (pada dasarnya) saya sedang diamankan (dari kesalahan),” ujar Presiden.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PGI Jacklevyn Frits Manuputty mengatakan, Natal Nasional 2025 mengambil tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Tema itu berasal dari refleksi atas berbagai krisis yang terjadi di masyarakat dan berawal dari keluarga. Contohnya, maraknya kasus korupsi ataupun kecanduan judi daring yang menjadi hambatan dalam pembangunan bangsa.
Di tengah krisis tersebut, umat Kristiani diharapkan bisa memberikan kontribusi kebangsaan melalui pemulihan keluarga melalui semangat keagamaan. Keluarga bukan hanya unit administratif melainkan juga sekolah pertama untuk menanamkan pendidikan karakter seperti toleransi, solidaritas, serta persatuan.
“Karena itu, persoalan keluarga bukanlah isu domestik melainkan juga isu strategis dalam pembangunan ketahanan bangsa,” kata dia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menambahkan, kehadiran Tuhan dalam kehidupan dimulai dari ruang yang paling kecil, yakni keluarga. Untuk itu, nilai keagamaan yang juga mengajarkan toleransi dan moderasi beragama, gotong royong, dan semangat untuk hidup berdampingan secara damai perlu dioptimalkan dari keluarga.





