Tokyo: Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan kembali pentingnya dialog dengan Tiongkok, di tengah memburuknya hubungan kedua negara menyusul pernyataannya terkait Taiwan.
Dalam konferensi pers pertamanya pada awal tahun ini, Takaichi menekankan bahwa komunikasi tetap menjadi kunci untuk mengelola perbedaan dan mengatasi berbagai kekhawatiran dalam hubungan Jepang–Tiongkok, sekaligus memaparkan prioritas kebijakan luar negeri pemerintahannya.
“Negara kami terbuka terhadap berbagai peluang dialog dengan Tiongkok dan tidak pernah menutup pintu,” ujar Takaichi, seperti dikutip Kyodo News dan Anadolu Agency, Selasa, 6 Desember 2025.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Kedutaan Besar Tiongkok di Jepang pada Sabtu mengeluarkan pemberitahuan yang menyebut kondisi keamanan publik di sejumlah wilayah Jepang memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Kedutaan juga mengimbau warga negara Tiongkok untuk menunda atau menghindari perjalanan ke Jepang.
Hingga kini, pemerintah Jepang belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan dan imbauan perjalanan dari Kedutaan Besar Tiongkok tersebut.
Ketegangan antara Tokyo dan Beijing meningkat sejak 7 November tahun lalu, ketika Takaichi menyatakan bahwa serangan Tiongkok terhadap Taiwan dapat secara hukum dikategorikan sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang.” Pernyataan itu merujuk pada ketentuan konstitusional yang berpotensi memungkinkan Jepang menggunakan hak pertahanan diri kolektif.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing. Sebagai respons, Tiongkok mengeluarkan imbauan perjalanan ke Jepang serta kembali memberlakukan larangan impor makanan laut dari Jepang, di antara sejumlah langkah pembatasan lainnya.
Meski demikian, Takaichi menegaskan bahwa Jepang tetap berkomitmen menjaga stabilitas kawasan dan mengelola hubungan bilateral secara bertanggung jawab melalui jalur diplomasi dan dialog.
Baca juga: Isu Taiwan Picu Ketegangan Jepang-Tiongkok, Dua Kekuatan Utama di Asia Timur



