Cerita Mahasiswa dan Realitas Ekonomi Keluarga

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Menjadi mahasiswa sering kali dianggap sebagai puncak harapan keluarga. Banyak orang tua menggantungkan mimpi mereka pada anak yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di balik toga dan almamater, tersimpan doa, pengorbanan, dan kerja keras keluarga yang tidak sedikit. Namun, realita kehidupan tidak selalu berjalan lurus seperti rencana.

Dalam perjalanan menjadi mahasiswa, rintangan hampir pasti ada. Masalah ekonomi, kesehatan, kondisi mental, tuntutan keluarga, hingga tekanan sosial sering kali datang bersamaan. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya berada di titik lelah, bingung, bahkan terpaksa mengambil keputusan untuk berhenti sementara dari bangku kuliah. Keputusan ini bukan hal yang mudah, apalagi ketika harapan orang tua dan keluarga terus terngiang di kepala.

Banyak mahasiswa merasa bersalah ketika harus mengambil jeda. Mereka takut dianggap gagal, malas, atau tidak bersyukur. Padahal, berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Ada kalanya keadaan memang memaksa seseorang untuk menepi terlebih dahulu agar bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih kuat.

Jeda dalam perjuangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian. Berani jujur pada diri sendiri bahwa ada hal yang perlu dibereskan. Ada luka yang perlu disembuhkan, ada kondisi yang perlu diperbaiki. Memaksakan diri untuk terus berjalan tanpa kesiapan justru bisa membawa dampak yang lebih buruk, baik secara fisik maupun mental.

Harapan orang tua memang besar, tetapi sering kali orang tua juga ingin melihat anaknya baik-baik saja. Tidak semua orang tua mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, namun di balik tuntutan dan kekhawatiran, ada cinta yang ingin anaknya bertahan dan bahagia. Ketika mahasiswa memilih jeda, yang terpenting adalah tetap menjaga komunikasi, menjelaskan keadaan dengan jujur, dan menunjukkan niat untuk bangkit kembali.

Jeda juga bisa menjadi waktu untuk belajar dengan cara yang berbeda. Banyak mahasiswa yang saat berhenti sementara justru menemukan pelajaran hidup yang tidak didapatkan di ruang kelas. Belajar bekerja, belajar bertanggung jawab, belajar mengenal diri sendiri, dan belajar menghargai waktu. Semua pengalaman itu kelak akan menjadi bekal berharga ketika kembali melanjutkan pendidikan.

Tidak semua orang memiliki garis waktu yang sama. Ada yang lulus tepat waktu, ada yang tertunda, dan ada pula yang harus berjuang lebih lama. Semua itu bukan ukuran keberhasilan atau kegagalan. Setiap orang punya cerita dan proses masing-masing. Yang terpenting bukan seberapa cepat sampai, tetapi seberapa kuat kita bertahan dan bangkit.

Bagi mahasiswa yang sedang berada di fase jeda, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Hidup bukan perlombaan. Selama masih ada niat untuk melangkah maju, harapan itu belum hilang. Jeda hari ini bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih baik di masa depan.

Pada akhirnya, perjuangan tidak selalu harus terburu-buru. Kadang, berhenti sejenak justru menjadi cara Tuhan mengajarkan arti sabar, ikhlas, dan kuat. Dengan dukungan keluarga, kepercayaan pada diri sendiri, dan tekad untuk melanjutkan, jeda bukanlah akhir melainkan bagian dari perjalanan menuju mimpi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Berkelakuan Baik, Jonathan Frizzy Bebas Keluar Penjara Hari Ini
• 16 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Ombudsman RI Catat Aduan Layanan Publik 2025 Didominasi Masalah Kepegawaian
• 21 jam lalupantau.com
thumb
29 Tahun Menikah, Ridwan Kamil dan Atalia Resmi Bercerai
• 21 jam lalugenpi.co
thumb
Perantauan Bugis Abad Ke-18, dari Penguasa Johor–Riau hingga Diaspora Maritim
• 5 jam lalufajar.co.id
thumb
Fenomena Dispensasi Nikah di Pati: 2 Remaja 16 Tahun Punya Anak, Nikah, Cerai
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.