Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat, Titik Penurunan Tanah Terparah di Jakarta

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) yang telah dipantau sejak dekade 1970-an kini menempatkan Pantai Mutiara di Jakarta Utara dan Cengkareng Barat di Jakarta Barat sebagai dua titik dengan tingkat penurunan paling parah di ibu kota.

Di wilayah-wilayah ini, laju amblesan tanah mencapai angka ekstrem hingga puluhan sentimeter per tahun, memperbesar risiko banjir rob, banjir hujan, hingga kerusakan permanen permukiman.

“Titik yang paling parah itu di Pantai Mutiara dan kemudian juga Cengkareng Barat. Kalau sejak mulainya kapan. Tapi tidak sejak 1970,” kata Dr. Yus Budiyono, Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2026).

Meski tidak terdeteksi sejak awal pengamatan penurunan tanah Jakarta pada 1970-an, amblesan di dua wilayah ini berkembang secara konsisten.

Menurut Yus, pola penurunan tanah di Jakarta bersifat linear.

“Sejak dia terjadi, kemudian dia penurunannya linear. Sama seperti di kota-kota besar yang lain. Seperti misalnya Tokyo, Bangkok, dan lain-lain,” ujar dia.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Jakarta, penurunan tanah, indepth, penurunan tanah di Jakarta, tanah jakarta turun&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8xMDA4MzY4MS9wYW50YWktbXV0aWFyYS1kYW4tY2VuZ2thcmVuZy1iYXJhdC10aXRpay1wZW51cnVuYW4tdGFuYWgtdGVycGFyYWgtZGk=&q=Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat, Titik Penurunan Tanah Terparah di Jakarta§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Gambaran umum kondisi penurunan muka tanah di pesisir utara Jakarta menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan hasil kajian BRIN, rata-rata penurunan tanah di Jakarta Utara mencapai 3,5 sentimeter per tahun.

“Kalau melihat kecepatannya, rata-rata di seluruh Jakarta bagian utara itu 3,5 cm per tahun. Tapi mungkin kalau nilai yang paling sering muncul itu kira-kira 15 cm per tahun, sedangkan di tempat yang paling parah itu penurunannya sampai 28 cm per tahun,” kata Yus.

Angka ini jauh melampaui kenaikan muka air laut global yang berkisar 1,8–4 milimeter per tahun.

Artinya, ancaman terbesar bagi Jakarta bukanlah laut yang naik, melainkan daratan yang turun.

Baca juga: Jakarta Ambles hingga 4,5 Meter sejak 1974, Tugu Penurunan Tanah Jadi Pengingat

Penyebab risiko banjir

Yus juga menilai, penyebab utama penurunan tanah di Jakarta adalah pengambilan air tanah.

“Itu adalah pengambilan air tanah dalam, bukan air tanah permukaan,” ujar dia.

Air tanah dalam diambil menggunakan pompa besar hingga kedalaman lebih dari 100 meter, berbeda dengan sumur gali dangkal.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Sementara beban bangunan sering disalahkan, hasil kajian BRIN menunjukkan tidak ada korelasi langsung antara beban bangunan dan penurunan tanah dalam skala kota.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Dunia Turun Hampir 1 Persen, Tertekan Aksi Profit Taking
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Juan Mera Resmi Perkuat Persiraja Banda Aceh, Targetkan Promosi ke Liga 1
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Bursa Eropa Flat, Reli Saham Terhenti Menyusul Kewaspadaan Terhadap Data Ekonomi
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
14 Putusan Penting MK di 2025: Pemilu Dipisah hingga Polisi Dilarang Duduki Jabatan Sipil
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Kantor Kemenhut Digeledah, Raja Juli Disentil
• 7 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.