FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Jokowi, tidak ada habisnya menjadi bahan perbincangan publik.
Kali ini, analis politik Agus Wahid menyebut adanya kepanikan di lingkaran Jokowi, sekaligus dugaan keterlibatan orang besar di balik masifnya pengungkapan kasus tersebut.
Dikatakan Agus, kepanikan Jokowi bukan sekadar asumsi, melainkan berangkat dari rangkaian temuan dan klaim yang terus bermunculan di ruang publik.
Ia mengatakan, semakin banyak data yang menurutnya memperkuat dugaan kejanggalan terkait ijazah Jokowi.
“Karena panik atau memang itu adanya? Sebuah pertanyaan yang layak kita lontarkan sejalan dengan opini yang berkembang bahwa di balik penguakan kasus ijazah palsu Jokowi ada dua nama besar, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri,” ujar Agus kepada fajar.co.id, Rabu (7/1/2026).
Lanjut Agus, indikasi kepanikan itu terlihat dari berbagai pengakuan dan klaim yang beredar, termasuk soal foto yang digunakan dalam ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Tak bisa dipungkiri, data ijazah Jokowi kian terkuak kepalsuannya. Berbagai elemen terkait langsung, seperti foto yang digunakan pada ijazah UGM diakui langsung oleh anak Dumatno. ‘Itu foto ayahku,’ jelasnya,” ungkap Agus.
Ia bahkan mengklaim adanya tekanan agar pihak tertentu bungkam. “Sebelumnya, Dumanto pun diancam untuk tutup mulut. Bahkan, konon, disumpal dengan Rp10 miliar,” lanjutnya.
Agus juga menyinggung hasil analisis komparatif terhadap ijazah lulusan Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985.
Ia menuturkan, ijazah yang diklaim milik Jokowi dinilai berbeda dibandingkan ijazah lulusan lain pada tahun dan fakultas yang sama.
“Belum lagi analisis komparatif ijazah Fakultas Kehutanan UGM yang lulus tahun 1985. Hasilnya, ijazah yang diakui milik Jokowi beda dengan mereka yang lulus pada tahun yang sama,” sebutnya.
Tidak berhenti di situ, Agus membeberkan bahwa terdapat ratusan dokumen akademik yang menurutnya justru menguatkan dugaan kepalsuan. Ia menyebut tekanan tersebut berdampak pada kondisi psikologis hingga fisik Jokowi.
“Pendek kata, Jokowi kian terpojok. Dan itulah yang membuatnya panik, di samping dampaknya terhadap fisiknya,” katanya.
Agus bahkan menyinggung spekulasi liar di tengah masyarakat terkait perubahan fisik Jokowi, meski mengakui hal tersebut masih perlu pembuktian lebih lanjut.
“Masih perlu dibuktikan lebih jauh. Namun, di luar perkembangan fisik itu, ada satu kata yang tak bisa dipungkiri, Jokowi panik,” tegasnya.
Dalam analisanya, Agus menggambarkan situasi Jokowi seperti orang yang hanyut dan berupaya meraih apa pun untuk menyelamatkan diri.
“Dalam rangka menyelamatkan diri Jokowi melontarkan tuduhan, ada orang besar yang sengaja memainkan ijazah palsu Jokowi. Tersebutkan lagi dari sebuah partai biru. Juga, menyinggung emak Banteng,” terang dia.
Agus bilang, dua tokoh nasional itu diduga menjadi aktor di balik gerakan penyingkapan ijazah yang dinilainya berlangsung secara masif dan intensif.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa rakyat memiliki hak untuk mengetahui keabsahan dokumen akademik pejabat publik.
Baginya, polemik ini tidak bisa dilepaskan dari evaluasi atas sepuluh tahun pemerintahan Jokowi.
“Rakyat berhak tahu atau mendapatkan informasi ijazah sosok pejabat negara. Rakyat semakin getol bergerak, karena sepuluh tahun kekuasaannya telah membawa negeri ini hancur-minah secara ekonomi, politik, hukum, dan HAM,” kuncinya.
Agus bilang, polemik ijazah ini berpotensi menjadi pintu masuk bagi tuntutan pertanggungjawaban hukum terhadap Jokowi di masa mendatang. (Muhsin/fajar)





