Perubahan drastis dalam situasi politik Venezuela telah memicu reaksi berantai di pasar keuangan dan energi global. Setelah militer AS menangkap Nicolás Maduro, pasar saham AS naik selama dua hari berturut-turut, dengan indeks Dow Jones mendekati tonggak bersejarah 50.000 poin. Namun, harga minyak internasional yang sempat melonjak justru kembali melemah.
EtIndonesia. Setelah militer AS melancarkan operasi dan berhasil menangkap Nicolás Maduro, pasar saham Wall Street ditutup menguat secara menyeluruh pada 5 Januari.
Saham sektor keuangan tampil kuat dan mendorong Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru dalam sejarah.
Pada saat yang sama, saham sektor energi juga naik. Investor bertaruh bahwa langkah ini berpotensi membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mengakses cadangan minyak terbesar di dunia.
Pada 6 Januari, pasar saham AS melanjutkan reli. Indeks Dow Jones naik 1,02% dan ditutup di 49.476,54 poin, mendekati level simbolis 50.000 poin. Indeks S&P 500 naik 0,62% menjadi 6.944,55 poin, sementara Indeks Nasdaq Composite naik 0,61% ke 23.537,96 poin.
“Saya pikir para investor masih mencerna peristiwa yang terjadi pada akhir pekan dan menilai dampak potensialnya terhadap pasar saham, khususnya pasar energi. Jika situasi di Venezuela benar-benar memengaruhi pasar energi, saya tidak melihatnya sebagai dampak jangka pendek, melainkan lebih mungkin sebagai pengaruh jangka menengah hingga panjang,” ujar Presiden dan Kepala Investasi Henion & Walsh Asset Management, Kevin Mahn.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mendorong perusahaan-perusahaan minyak AS berpartisipasi dalam rekonstruksi industri perminyakan Venezuela, serta membahas kemungkinan peningkatan produksi Venezuela. Pernyataan ini meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor energi.
Harga saham Chevron melonjak lebih dari 5%, Exxon Mobil naik lebih dari 2%, dan saham perusahaan jasa ladang minyak Halliburton juga mengalami kenaikan signifikan. Pasar minyak mentah sempat menguat, dengan harga minyak WTI AS dan Brent masing-masing naik sekitar 1,7%.
Namun, seiring pasar kembali memusatkan perhatian pada fundamental global sisi penawaran dan permintaan, harga minyak internasional berbalik turun pada hari ini (6 Januari). Harga minyak mentah Brent turun 1,06 dolar AS atau 1,7% menjadi 60,70 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,19 dolar AS atau 2% menjadi 57,13 dolar AS per barel.
Pakar kebijakan energi dari Rice University di Texas, Francisco Monaldi, menyatakan bahwa mengingat kurangnya investasi selama bertahun-tahun serta penuaan infrastruktur ladang minyak Venezuela, untuk memulihkan produksi ke level tahun 1970-an kemungkinan diperlukan investasi sekitar 10 miliar dolar AS per tahun selama satu dekade ke depan. Hal ini berarti bahwa hanya melalui investasi jangka panjang dan berskala besar, produksi minyak Venezuela dapat meningkat secara signifikan. (Hui)
Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tian Xin, dari Amerika Serikat.



