Fadli Zon Targetkan Buku Sejarah Baru Indonesia Diakses Gratis Mulai Februari

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana membuka akses gratis bagi masyarakat terhadap buku Sejarah Indonesia yang baru diluncurkan pada pengujung tahun 2025. 

Fadli berharap kebijakan ini dapat memperluas akses publik terhadap pengetahuan sejarah nasional sekaligus memperkuat literasi kebudayaan di berbagai lapisan masyarakat.

Buku yang berjudul "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global" merupakan buku yang mengulas perjalanan sejarah Indonesia, sejak perjalanan awal Nusantara, hingga situasi termutakhir pascaReformasi.

Buku berjumlah 10 jilid ini disusun melalui proses penulisan selama satu tahun dengan melibatkan kerja kolaboratif 123 orang sejarawan, yang terdiri atas penulis, editor tiap jilid, serta editor umum dari 34 perguruan tinggi di Indonesia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Fadli Zon menargetkan dalam satu hingga dua bulan ke depan, buku itu sudah dapat diakses oleh publik dalam format buku elektronik.

“Kita sedang finalisasi. Kalau sudah rapi dan beres, dalam bentuk PDF-nya pasti gratis karena ini dibiayai oleh APBN,” kata Fadli di kompleks Kementerian Kebudayaan, Kamis, (8/1/2025)

Baca Juga

  • Menteri Fadli Zon Buka-bukaan soal Progres Penyusunan Buku Sejarah Indonesia
  • Fadli Zon: Buku Sejarah Nasional Tahap Finalisasi, Ditargetkan Rilis Tahun Ini

Menteri penyuka keris ini menyebut e-book Sejarah Indonesia akan didistribusikan melalui laman resmi Kementerian Kebudayaan agar dapat diakses dan dibaca oleh masyarakat luas. Dia juga membuka kemungkinan pendistribusian melalui situs-situs mitra lainnya guna memperluas jangkauan pembaca.

Sementara itu, terkait akses terhadap versi fisiknya, Fadli menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk melakukan pencetakan dalam jumlah besar.

“Sebagaimana kita ketahui, biaya pencetakan buku saat ini cukup tinggi. Buku ini juga berukuran besar sehingga jika dicetak atau dijual, harganya tentu akan mahal. Karena itu, pencetakan kemungkinan tetap dilakukan secara terbatas, misalnya untuk kebutuhan Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah, atau perguruan tinggi,” imbuhnya.

Sampai saat ini, kata Fadli, pencetakan dalam skala masif masih belum dilakukan karena buku ini memang tidak ditujukan untuk diperjualbelikan. Oleh karena itu, dirinya saat ini lebih memfokuskan upaya pada penyediaan versi PDF yang dapat diakses secara gratis oleh publik.

“Untuk tanggal pastinya kami belum dapat memastikan karena masih menunggu proses penyisiran ulang oleh tim editor umum dan editor jilid. Saya menargetkan pada Februari buku ini sudah dapat diakses oleh publik,” jelasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Soal Gaji PPPK Paruh Waktu Lebih Rendah dari Honorer, BKN Beri Tanggapan
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Banjir Bandang di Sitaro: 691 KK Terdampak, Ratusan Rumah Rusak dan Warga Masih Mengungsi
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Meski Marak Aksi Jual Investor Asing, OJK: IHSG Pecah Rekor Tertinggi 24 Kali di 2025
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 9 Januari 2026 Cek Lokasi dan Persyaratannya
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Perairan Wetar Barat di Maluku Ditetapkan Jadi Kawasan Konservasi Laut
• 10 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.