Prasojo: Rahasia Ambisi Tenang Masyarakat Kediri

kumparan.com
22 jam lalu
Cover Berita

Di banyak kota, pagi hari dimulai dengan mesin mobil yang dianaskan lebih dulu daripada air untuk menyeduh kopi. Orang-orang berangkat sambil menunduk ke layar ponsel, melewatkan kesempatan menyapa tetangga yang berdiri di pagar rumah. Sarapan sering dikalahkan oleh rapat, dan obrolan diganti notifikasi.

Di tengah ritme seperti itu, kota yang bergerak pelan kerap dicurigai: jangan-jangan warganya kurang ambisius. Kediri sering ditempatkan dalam kecurigaan semacam itu. Ritme hidupnya tidak tergesa. Orang-orangnya masih terlihat duduk lama di warung, mengobrol tanpa jam di tangan.

Justru kota seperti Kediri, kita bisa bercermin tentang satu pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ambisi selalu harus berisik untuk bisa bermakna?

Ambisi Versi Kediri

Lantai ubin warung pecel punten itu terasa dingin di bawah alas kaki. Aroma gurih santan dari punten yang dipotong kotak-kotak berpadu dengan wangi daun jeruk dari sambal pecel yang kental. Di atas meja panjang tampak piring-piring penuh dengan sayuran hijau, kerupuk pasir, dan rempeyek yang renyah.

Orang-orang duduk di bangku kayu, dan sebagian lesehan saling bersisian tanpa jarak sosial yang kaku. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang merasa perlu mendahului.

Seorang ibu di balik meja sibuk menata pincuk. Tangannya lincah, geraknya hafal betul urutan kerja yang sama ia ulang setiap hari. Saat pembayaran selesai, ia tersenyum sambil menerima lembaran uang.

Matur nuwun, benjing mriki maleh nggeh,” ucapnya ringan, seolah kalimat itu bukan basa-basi, melainkan janji kecil yang tulus. Kalimat yang sama ia ucapkan pada setiap orang yang melangkah keluar menuju parkiran motor yang padat.

Di balik piring-piring punten itu, ada semacam kesepakatan tak tertulis untuk tidak saling memburu. Orang-orang datang bukan sekadar untuk kenyang, melainkan untuk berhenti sejenak dari urusan kerja, target, atau cicilan.

Kalimat “Besok ke sini lagi ya” terdengar seperti pengingat bahwa hidup tidak harus selalu meloncat jauh. Selama hari ini bisa makan dengan tenang dan besok masih punya alasan untuk kembali, itu sudah cukup.

Di sinilah pertanyaan itu muncul: apakah warga Kediri tidak ambisius?

Pertanyaan ini sering muncul dari cara pandang luar. Kota yang ritmenya tenang, orang-orangnya tidak tampak tergesa, jarang memamerkan pencapaian, dan tampak nyaman dengan rutinitas yang itu-itu saja. Dalam logika kota besar, ketenangan semacam ini sering dibaca sebagai kurang greget, atau kurang daya saing.

Namun penilaian itu lahir dari definisi ambisi yang sempit: ambisi yang selalu bising, terlihat, dan menuntut pengakuan.

Di Kediri, ambisi dijalani dengan napas panjang. Tidak ada dorongan untuk selalu "lebih" dari orang lain. Yang dijaga justru keberlanjutan, agar kerja hari ini tidak mencuri ketenangan untuk esok hari.

Prasojo sebagai Etika Sosial, Bukan Sekadar Sikap Pribadi

Warga Kediri mengenal konsep lain yang lebih tua dan lebih dalam: prasojo. Dalam filosofi Jawa, prasojo sering diterjemahkan sebagai “sederhana”. Tapi makna itu kerap tereduksi. Prasojo bukan berarti tidak mampu, tidak punya target, atau pasrah pada keadaan. Prasojo adalah sikap memilih hidup secukupnya: tidak berlebihan, tidak reaktif, dan tidak terjebak ingin selalu tampil lebih.

Orang yang prasojo tetap bekerja keras. Ia punya standar. Ia tahu apa yang harus dikejar. Tetapi ia tidak menjadikan pencapaian sebagai alat untuk meninggikan diri atau menekan orang lain. Ambisinya ada, namun tenang. Tidak meledak-ledak, tidak perlu diumumkan, dan tidak menuntut validasi setiap waktu.

Kesederhanaan dalam makna prasojo bukanlah penolakan terhadap kemajuan, melainkan kemampuan memberi batas pada keinginan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua peluang harus diambil, dan tidak semua capaian harus dikejar sekaligus. Dalam sikap ini, orang belajar membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang sekadar dorongan ego.

Kesederhanaan menjadi cara menjaga kewarasan di tengah dunia yang terus menuntut lebih. Ia menumbuhkan ketahanan batin, karena hidup tidak ditopang oleh pencapaian semata, tetapi oleh rasa cukup yang disadari. Di sinilah prasojo bekerja sebagai rem kultural: menahan manusia agar tidak kehilangan dirinya sendiri saat bergerak maju.

Karakter ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari warga Kediri. Di pabrik, mereka dikenal tekun dan loyal. Di sawah, mereka sabar membaca musim. Di pasar dan warung, mereka bisa duduk lama, berbincang tanpa rasa bersalah, seolah waktu tidak selalu harus diperas habis-habisan untuk produktivitas.

Ketenangan ini bukan kemalasan. Ia justru lahir dari keyakinan bahwa hidup memiliki ritme sendiri. Rezeki tidak selalu datang karena dikejar dengan napas terengah, tetapi karena dijaga dengan konsistensi. Seperti aliran Sungai Brantas: ia tidak berisik, tetapi terus menghidupi.

Sikap prasojo juga menjelaskan mengapa pergaulan sosial di Kediri terasa cair dan egaliter. Harga diri tidak diukur dari jabatan, kekayaan, atau seberapa cepat seseorang melompat. Ia diukur dari laku: bagaimana seseorang bersikap, menjaga kata, dan memperlakukan orang lain. Karena itu, orang bisa duduk sejajar di warung pecel punten, mulai dari pegawai pabrik, petani, pedagang, hingga pejabat, tanpa perlu menegaskan posisi.

Dalam etika ini, hidup bukan perlombaan individu, melainkan perjalanan bersama yang perlu dijaga iramanya. Di titik inilah perbedaan itu menjadi bukan lagi soal bagaimana peradaban memilih bertahan.

Di sini Kediri hadir sebagai cermin. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada cara lain memaknai ambisi. Cara yang tidak selalu spektakuler, tetapi lebih manusiawi. Filosofi besar tentang ambisi yang tenang ini bukan sekadar konsep di awang-awang. Ia berdenyut di tempat-tempat sederhana seperti warung pecel punten tadi.

Warung pecel punten tadi hanyalah satu miniatur. Tetapi dari sana kita bisa membaca watak yang lebih besar: keyakinan bahwa kenyamanan sejati bukan datang dari percepatan tanpa henti, melainkan dari rutinitas yang ajeg dan hubungan yang hangat. Tempat yang mengenal wajah Anda, bahkan ketika Anda datang setahun sekali.

Ambisi yang Bertahan Lama

Maka jika pertanyaannya diulang: apakah warga Kediri tidak ambisius? Jawabannya: mereka ambisius dengan caranya sendiri.

Ambisi yang tenang bukan ambisi yang lemah. Ia justru dirancang untuk bertahan. Tidak cepat melelahkan, tidak gampang patah, dan tidak memutus hubungan sosial demi pencapaian sesaat.

Kita sering lupa bahwa manusia tidak hanya diminta produktif sampai usia lima puluh atau enam puluh tahun, melainkan sepanjang hidupnya. Maka yang dibutuhkan bukan ambisi yang meledak-ledak, melainkan ambisi yang punya daya tahan.

Ambisi yang bisa dijalani hari ini, dan masih memungkinkan untuk bangun esok pagi dengan tubuh utuh dan batin yang tidak tercerabut.

Kediri memilih jalan itu. Tidak paling nyaring, tidak paling cepat. Tetapi cukup tenang untuk bertahan lebih lama sebagai kota dan sebagai cara hidup.

Dan mungkin, di sanalah letak daya tahan sebuah kota.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Benfica Kalah di Semifinal Piala Liga, Jose Mourinho Kurung Pemain di Pusat Latihan
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Panduan Lengkap Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax DJP
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
3 Fitur Game Online yang Disukai Pelaku Terorisme dan Radikalisme
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Menkum Ogah Tanggapi Kasus Eks Menag Yaqut di KPK: Kurang Etis Jika Saya Komentari
• 2 jam laludisway.id
thumb
Puluhan Pelajar di Semarang Diduga Keracunan MBG, SPPG Disebut Tak Jalankan Prosedur
• 2 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.