Jakarta, tvOnenews.com – Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Sidharto Reza Suryodipuro, resmi terpilih sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB yang mewakili Indonesia. Penunjukan ini menandai capaian penting diplomasi Indonesia di forum multilateral internasional.
Sidharto terpilih setelah Indonesia dinominasikan sebagai calon tunggal oleh kelompok negara Asia Pasifik, yang pada periode ini memegang giliran kepemimpinan Dewan HAM PBB sesuai mekanisme rotasi kawasan.
Dalam pidato perdananya usai terpilih, Sidharto menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan kepadanya dan Indonesia.
"Apresiasi tulus saya pertama-tama ditujukan kepada Kelompok Asia Pasifik, tempat Indonesia bernaung, atas nominasinya, dan kepada Dewan secara keseluruhan atas dukungannya pagi ini," kata Sidharto dalam pidatonya, dikutip Jumat (9/1/2026)
Rekam Jejak Panjang di Dunia Diplomasi
Sidharto Reza Suryodipuro, yang akrab disapa Arto, merupakan diplomat senior Kementerian Luar Negeri RI. Sebelum menjabat sebagai Dubes RI untuk PBB di Jenewa, Arto pernah menduduki posisi Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN di Kemlu RI pada Oktober 2020 hingga November 2025.
Sebelumnya, ia juga dipercaya sebagai Duta Besar RI untuk India dan Bhutan pada periode 2017–2021. Selain itu, Arto sempat menjabat sebagai Deputy Chief of Mission di Kedutaan Besar RI di Washington DC pada 2014–2017.
Karier diplomatik Arto dimulai sejak Maret 1992 di Kementerian Luar Negeri. Dalam perjalanan panjangnya, ia pernah menjadi perwakilan Indonesia untuk PBB, termasuk sebagai delegasi RI pada komite khusus PBB yang membidangi operasi perdamaian di bawah Majelis Umum PBB.
Pada periode 2004–2006, Arto bertugas sebagai First Secretary di Kedutaan Besar RI di Canberra. Di posisi tersebut, ia berperan dalam mempromosikan dan memperkuat kerja sama Indonesia–Australia di berbagai sektor strategis.
Pengalaman Global dan Regional
Karier internasional Arto berlanjut saat ia kembali dipercaya menjadi perwakilan Indonesia untuk PBB di New York pada 2006–2009. Dalam periode tersebut, ia menangani isu-isu kemanusiaan, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Afrika.
Selanjutnya, pada Maret 2009 hingga Juni 2010, Arto menjabat sebagai Wakil Direktur Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Ia kemudian dipromosikan menjadi Direktur Kerja Sama Intra-Regional Asia Pasifik dan Afrika pada Mei 2010 hingga November 2014, dengan tugas memimpin dan mengoordinasikan kerja sama antarlembaga, termasuk dalam mendukung kepemimpinan Indonesia pada 2013.




