Bisnis.com, JAKARTA – Setelah mampu membukukan total asset under management (AUM) atau dana kelolaan yang bertumbuh sepanjang 2025, PT Trimegah Asset Management memproyeksikan kinerja industri reksa dana yang kembali bertumbuh di 2026.
Optimisme tersebut ditopang oleh membaiknya kinerja sejumlah aset dasar reksa dana dalam beberapa waktu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), misalnya, sepanjang 2026 telah menguat 3,62% year to date (YtD) menuju level 8.960,24 pada sesi I perdagangan hari ini. Sementara itu, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga mencatat penguatan 0,14% YtD dan 12,60% secara year on year (YoY). Di tengah dinamika tersebut, Trimegah AM menyiapkan strategi investasi yang lebih berhati-hati, khususnya pada instrumen pendapatan tetap.
“Di tengah ketidakpastian global yang baru, strategi kami dalam menghadapi 2026 untuk obligasi adalah dengan memperpendek durasi portofolio kami dan fokus pada obligasi bertenor pendek, di bawah lima tahun,” kata Direktur Utama Trimegah AM Antony Dirga kepada Bisnis, dikutip Jumat (9/1/2026).
Adapun untuk reksa dana saham dan campuran, Trimegah AM menilai prospeknya tetap positif seiring target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah melalui berbagai kebijakan pro-fiskal. Kendati demikian, perseroan tidak merinci strategi alokasi sektoral, mengingat tingginya ketidakpastian global yang masih membayangi.
Menurut Antony, risiko geopolitik termasuk memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela berpotensi memengaruhi kinerja pasar keuangan. Oleh karena itu, fleksibilitas dinilai menjadi kunci utama dalam pengelolaan portofolio saham. “Kami berpandangan bahwa di tahun ini, yang terpenting adalah fleksibilitas dalam memilih sektor dan cepat tanggap dalam menghadapi perubahan policy ataupun situasi,” ujarnya.
Antony memperkirakan pertumbuhan industri reksa dana pada 2026 akan berada pada kisaran 10–15% YoY, lebih moderat dibandingkan realisasi pertumbuhan AUM industri yang mencapai 35,04% YoY pada 2025. Seiring penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, ia memprediksi akan terjadi rotasi dana investor dari reksa dana pasar uang dan obligasi menuju reksa dana saham maupun campuran.
Baca Juga
- Saat Langkah Fiskal Menkeu Purbaya Tersenggol Strategi SRBI Bank Indonesia (BI)
- Investasi SBN dan RDPT pada 2026, Dana Asing Masuk Hingga Kupon Turun
- Profil Feisal Hamka, Putra Mahkota Raja Tol Jusuf Hamka yang Rajin Tambah Saham CMNP
“Prospek pertumbuhan reksa dana di 2026 kemungkinan besar akan lebih normal di level 10–15% karena likuiditas yang ada di pasar sebagian akan perlahan-lahan kembali ke real sector,” katanya.
AUM Tumbuh
Data per Desember 2025 menunjukkan total dana kelolaan Trimegah Asset Management meningkat signifikan menjadi Rp 58,4 triliun, terutama didorong oleh kinerja reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang. “Kami bersyukur di 2025, Trimegah Asset membukukan pertumbuhan AUM sebesar 77%, di atas rata-rata industri 35%. Kami menutup tahun 2025 dengan AUM reksa dana sebesar Rp58,4 triliun,” ujar Antony saat dihubungi.
Berdasarkan data Bareksa, lonjakan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Trimegah memperoleh izin sebagai manajer investasi pada 2011. Pada Desember 2024, AUM Trimegah tercatat sebesar Rp 32,93 triliun atau hanya tumbuh 0,76% YoY. “(Pertumbuhan dana kelolaan) terkait dengan berkurangnya ketidakpastian global dan melonjaknya likuiditas keuangan di pasar modal kita,” kata Antony.
Secara industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat AUM reksa dana nasional mencapai rekor tertinggi pada Desember 2025 sebesar Rp 679,18 triliun. Angka ini tumbuh 3,38% secara month on month (MoM) dari November 2025 serta melonjak 35,04% YoY dibandingkan Desember 2024.
Sepanjang 2025, pergerakan AUM industri reksa dana sempat berfluktuasi. Setelah menyentuh titik terendah pada Januari 2025 di level Rp 493,95 triliun, dana kelolaan perlahan meningkat seiring melemahnya pasar saham domestik. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke produk reksa dana, terutama reksa dana saham, yang tercermin dari kenaikan AUM reksa dana saham dari Rp 67,49 triliun pada Maret 2025 menjadi Rp 69,83 triliun saat pasar mengalami koreksi tajam.
Memasuki kuartal terakhir 2025, AUM industri terus meningkat hingga mencapai Rp 621,67 triliun pada Oktober, Rp 656,96 triliun pada November, dan ditutup di level Rp 679,18 triliun pada Desember.





