Emiten tambang batu bara milik Harry Tanoesoedibjo PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), resmi mengajukan usulan produksi sebesar 7,85 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Presiden Direktur IATA, Suryo Eko Hadianto, mengungkapkan bahwa angka tersebut bersumber dari tiga unit bisnis tambang perusahaan yang kesemuanya beroperasi di Sumatera Selatan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa realisasi angka tersebut tetap bergantung pada lampu hijau dari pemerintah.
"Karena kami sedang dalam proses pengajuan RKAB di Kementerian ESDM, sehingga angka ini masih sangat tentatif atau subject to dari persetujuan dari Menteri ESDM itu sendiri," ujar Suryo di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Produksi Batubara IATA Tembus 3,38 Juta Ton di 2025
Berdasarkan dokumen yang disampaikan kepada pemerintah, total produksi yang diusulkan IATA pada 2026 mencapai 7.850.991,22 ton. Target tersebut berasal dari PT Putra Muba Coal (PMC) sebesar 3.750.264,64 ton, PT Arthaco Prima Energy (APE) sebesar 3.000.216,58 ton, serta PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) sebesar 1.100.510 ton.
Suryo menjelaskan bahwa peningkatan target ini didukung oleh kesiapan infrastruktur dan kemitraan strategis. Di tambang APE, perusahaan telah menggandeng kontraktor kelas kakap, Kalimantan Prima Persada (KPP).
"Kita sudah berkontrak dengan KKP untuk waktu 5 tahun. 5 tahun pertama ini akan berproduksi antara 3 sampai dengan 7 juta ton per tahunnya di tambang APE," jelasnya.
Di tengah isu pengetatan aturan jalan umum untuk angkutan tambang, IATA mengklaim operasional mereka relatif aman. Hal ini dikarenakan perusahaan memiliki jalur logistik mandiri yang tidak bersinggungan dengan fasilitas publik.
"Seluruh tambang IATA tidak ada yang bersinggungan atau cross section dengan jalan negara. Semuanya menggunakan fasilitas jalan khusus batubara yang kami develop sendiri dari tambang ke pelabuhan," tegas Suryo.
Baca Juga: IATA Teken Kerja Sama Jasa Pertambangan dengan Grup Astra Senilai Rp5 Triliun
Efisiensi ini juga didukung oleh jarak angkut (hauling distance) yang sangat pendek, yakni berkisar antara 10 hingga 16 kilometer dari front penambangan ke pelabuhan (jetty).
Manajemen IATA meyakini bisnis batu bara masih akan menjadi mesin uang utama di masa depan karena efisiensi biayanya. Perusahaan pun mengaku tidak khawatir dengan fluktuasi kebijakan kuota nasional.
"Sampai dengan hari ini belum ada pengganti energi di luar batubara yang biayanya, biaya energinya, harga energinya lebih murah daripada batubara. Jadi kami yakin selagi negara masih membutuhkan atau dunia masih membutuhkan energi yang murah, maka batubara tetap menjadi alternatif yang terbaik," pungkas Suryo.


