Stand-up comedy adalah salah satu bentuk hiburan humor yang telah berkembang pesat di Indonesia. Komika seperti Pandji Pragiwaksono memiliki peran penting dalam membuka ruang dialog sosial, dengan mengangkat berbagai isu yang sering kali dianggap tabu.
Namun, baru-baru ini, Pandji kembali menjadi sorotan setelah materi stand-up-nya yang berjudul Mens Rea viral. Beberapa materi di dalamnya—khususnya yang menyentuh topik body shaming—memicu kontroversi. Sebagai dosen ilmu komunikasi, saya merasa penting untuk mengkaji hal ini dari perspektif komunikasi yang bijak.
Humor—sebagai alat komunikasi—dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan dan kritik. Dengan humor, kita bisa mengangkat isu-isu serius, seperti ketidakadilan sosial dan politik dengan cara yang lebih ringan dan mudah diterima.
Namun, humor harus tetap berada dalam batas-batas yang etis dan tidak menyakiti pihak lain. Dalam hal ini, materi Mens Rea yang menyinggung fisik seseorang—seperti saat Pandji menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampak "ngantuk" karena fisiknya—menjadi perdebatan.
Body shaming—atau penghinaan terhadap penampilan fisik seseorang—telah menjadi isu sosial yang cukup serius. Banyak orang merasa tertekan atau bahkan mengalami dampak psikologis akibat ejekan atau lelucon yang merendahkan penampilan mereka.
Dalam hal ini, humor yang merendahkan fisik, apalagi yang berkaitan dengan kondisi medis—seperti yang terjadi pada Pandji yang mengomentari tampilan fisik Gibran—dapat memicu ketidaksetujuan publik.
Kritikan datang dari banyak pihak, termasuk Tompi, seorang dokter dan musisi, yang menilai bahwa lelucon tersebut tidak seharusnya dijadikan bahan candaan, mengingat kelopak mata yang tampak menurun (ptosis) adalah kondisi medis yang tidak bisa disalahkan.
Sebagai komika, Pandji tentu memiliki hak untuk berekspresi, tetapi kebebasan berekspresi tersebut harus disertai dengan tanggung jawab. Humor yang membangun adalah humor yang tidak merendahkan martabat orang lain, tetapi yang mendorong refleksi sosial.
Humor semacam ini tidak hanya bisa menghibur, tetapi juga memberikan dampak positif, seperti membuka kesadaran tentang isu-isu penting dalam masyarakat. Sebaliknya, humor yang merendahkan fisik seseorang dapat memperkuat stereotip negatif, yang berpotensi memperburuk ketidaksetaraan sosial.
Dalam dunia komunikasi, penting untuk selalu mempertimbangkan dampak dari pesan yang kita sampaikan. Apa yang bagi sebagian orang bisa dianggap lucu, belum tentu bisa diterima dengan baik oleh semua pihak.
Pandji sebagai komika tentu menginginkan masyarakat tertawa, tetapi juga harus mempertimbangkan batasan-batasan etis dalam humor yang ia tampilkan. Humor yang baik adalah yang mengedepankan inklusivitas, menghindari stereotip, dan mempromosikan nilai-nilai positif di tengah masyarakat.
Kesimpulannya, humor dalam stand-up comedy harus menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Sebagai dosen ilmu komunikasi, saya percaya bahwa komika dapat terus berkembang dan berkarya, asalkan mereka tetap memperhatikan dampak sosial dari materi yang mereka sampaikan.
Humor yang membangun tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menciptakan kesadaran sosial yang lebih baik bagi masyarakat.




